Rumi dan Jalan Menuju Cinta


Oleh : Ana Mardiani Hyphatia Al-Makassari

Ke-aku-an adalah penghalang bagi manusia agar bisa terkoneksi menuju ruang yang tak terbatas, ia memasung jiwa, membutakan mata kasat dan batin sehingga manusia harus keluar darinya dengan jalan CINTA.

Sebagaimana syair Rumi “Janganlah kau seperti Raja yang terpasung dalam istana, yang tak pernah keluar. Kamu harus tahu bahwa di luar sana ada lautan yang sangat luas dan tak terbatas dengan segala keindahannya. ”
Pertanyaanya, mungkinkah kita bisa keluar dari ke-aku-an itu? Bagaimana kita bisa keluar dari ke-aku-an?.

Diri sebagai “aku”, ada dua macam, pertama diri yang menyaksikan aku dalam egoisme, yang hanya menyaksikan dirinya sendiri dan tidak pernah sedikitpun melirik kepada yang lain. Sebagaimana manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain, itulah manusia yang benar-benar sepi, yang mengisolir diri dalam kesendirian. Padahal kehidupan semestinya selain untuk diri sendiri, seyogyanya digunakan untuk melakukan transformasi dalam lingkup sosial. Kita seringkali menemui manusia yang mengurung dirinya dalam satu keadaan, satu sudut pandang atau satu model keberfikiran tertentu, manusia seperti itu sudah dipastikan tidak menyenangkan.

Kedua adalah diri yang selalu menyaksikan dirinya berbeda dengan yang lain. Diri yang seperti ini memiliki substansi sama dengan yang pertama, di mana dia tidak melirik selain dirinya sendiri dan menganggap dirinyalah yang paling benar, yang lain tidaklah penting. Eksistensi yang paling penting di dunia, satu-satunya hanya dirinya sendiri. Menyaksikan dirinya yang selalu berbeda dengan selain dirinya, ia mengetahui ada eksistensi selain dirinya namun tidak memberi efek untuk dirinya, tidaklah perlu berinteraksi dengannya, yang pada dasarnya sama bahwa sesuatu di luar dirinya tidaklah mendapat pengakuan bagi dirinya.

Kedua hal di atas merupakan penyakit kemanusiaan yang menganggap manusia lain tidak berarti. Kita bisa menyebutnya sebagai “individualistik”. Orang yang memiliki jiwa individualistik akan berbuat sesuatu sesuka hati tanpa memikirkan perasaan, cara pandang serta ber-masa bodoh kepada orang lain. Ia tidak memiliki kepedualian sama sekali, apalagi harus berfikir tentang dampak yang ditimbulkan akibat ucapan ataupun perbuatannya. Pada umumnya orang yang egois dan indivialistis seperti ini ini akan melakukan penentangan secara bebas tanpa ada nilai moralitas di dalamnya serta memiliki life style yang materialistik, yang hanya mementingkan kehidupan dunia semu yang penuh kepalsuan, dibutakan oleh harta dan segala bentuk kemewahan.

Ajaran Islam tentu tidak melarang manusia mencari harta sebanyak-banyaknya akan tetapi harta tidak untuk dinikmati sendiri melainkan untuk dishare kepada yang lain. Nah sekarang bagaimana supaya “aku” di sini bisa keluar dari kedua “aku” agar mengalami perubahan menjadi suatu entitas yang lain dan lebih luas??
Obat dari penyakit ke-akuan di atas hanyalah CINTA, cintalah yang mampu mengobati diri yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri “aku” ini. Mencintai akan menimbulkan keterbagian eksistensi diri menuju eksistensi yang lain. Tentu memiliki harta yang banyak tidaklah dilarang, sebab ia adalah salah satu dari metafora CINTA, tetapi masih ada empat metafora lainnya sebagai jembatan menuju jalan CINTA.

Salah satu ukuran bahwa manusia telah mencoba keluar dan mengalami keterpisahan terhadap eksistensi dirinya ialah minimal ia pernah JATUH CINTA, apalagi jika manusia telah berani mencintai manusia lainnya karena adanya kekaguman terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dicintainya, itu bagian dari FITRAH manusia yang cenderung menuju kepada hal-hal sempurna.
Sebagaimana Syair singkat Rumi: “Cinta adalah lidah api yang akan membakar segalanya kecuali Sang Kekasih, dan kenapa Sang Kekasih tidak terbakar sebab dialah penyebab cinta ini akan bergelora”.

Ya Rumi dikenal dengan kedalaman ilmu ynng dimilikinya melalui kemampuan beliau dalam mengungkapkan perasaannya dalam bentuk puisi yang memikat hati dan memiliki makna mistis yang sangat dalam. CINTA adalah salah satu teori yang sangat terkenal dari Rumi.
Sekilas cerita tentang Rumi, ia lahir di Kota Balkh Afghanistan, pada 30 September 1207M atau 604 Hijriah dan wafat di Kota Konya Turki 17 Desember 1273 M/672 Hijriah. Bernama lengkap Jalaluddin Muhammad Bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi, Rumi adalah nama panggilan yang diberikan oleh masyarakat Konya sebab beliau banyak menghabiskan hidupnya di Konya, Turki. Tak hanya sebagai penyair, Rumi juga adalah tokoh sufi yang sangat berpengaruh di zamannya.

Nah, selanjutnya, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa CINTA itu adalah keterbagian dan dengannya ia akan mengalami keterpisahan? dan mengapa harus terpisah? Dan setelah terpisah ia menjadi satu kesatuan wujud atau kesatuan hamba dengan Allah, atau segala sesuatu itu adalah Allah dan Allah adalah segala sesuatu atau disebut sebagai wujud penyatuan atau penyatuan wujud??
Keterpisahan ini harus disadari keberadaanya bahwa memang manusia mengalaminya. Melalui keterpisahan akan menyebabkan adanya sebuah pengorbanan yang di dalamnya terdapat derita-tangis dan air mata. Dan ini merupakan prasyarat menuju CINTA. Secara eksistensial, semua manusia harus mendapati derita batin yang luara biasa jika hendak menemukan CINTA sampai kepada puncaknya.
Maka jalan menuju CINTA adalah bersiap untuk keluar dari diri yang individual menuju ke yang lain, rela terpisah dengan eksistensi diri menuju eksistensi yang lain dan derita sebagai tumbal atau proses menuju-Nya. Jika tidak ada derita, maka bisa jadi adalah CINTA bualan, gombalan, kepalsuan atau obsesi semata yang arahnya adalah mencintai diri sendiri.

Pada dasarnya manusia adalah suatu kesatuan yang tunggal, hanya saja diri ini di alam material mengalami keterpisahan dan tugas kita adalah menemukan diri kita yang abadi itu. Sebagaimana alam arketipe yang terkenal datang dari seorang Plato. Yang maknanya bahwa “Sesungguhnya semua manusia pernah hidup bersama di alam yang lebih tinggi, menyaksikan tentang semua”, kita mengetahui semuanya secara sempurna di alam Arketipe, namun ketika jiwa turun ke dunia material maka jiwa mengalami kelupaan, dan harus kita temukan kembali dengan jalan proses pengingatan kembali. Sebab sifat materi sangatlah terbatas serta dapat mengalami kehancuran, tidak sebagaimana alam Arketipe yang abadi dan tidak mengalami perubahan. Jadi kesempurnaan inilah yang hendak kita raih secara bersama lewat jalan CINTA.

Di dalam diri manusia terdapat 3 kesadaran yaitu kesadaran material, barzah dan kesadaran tentang alam ruh. Jadi keterpisahan yang sejak awal saya jelaskan bukanlah keterpisahan sejati secara eksistensi, tetapi ini lebih kepada makna “kesadaran” diri kita sebagai manusia terhadap manusia lainnya, alam dan Tuhan sekalipun.
Tentu kesadaran ini menurunkan cahayanya sesuai dengan tingkat pengetahuan kita selaku manusia. Artinya Derajat kesadaran aku tentang aku di dalam diri memiliki tingkatan berdasarkan capaian pengetahuan manusia hidup di bumi. (Aku) di sini tentu saja terbagi dua: aku yang palsu dan aku yang sejati. Aku yang tadinya material beranjak menuju yang lebih tinggi ke alam barzahi, dan kembali kepada Ruh Ilahi. Yang jadi masalah adalah ketika manusia terjerembab dalam api CINTA yang sifatnya hanya duniawi yang penuh kepalsuan, sebab ini yang akan membutakan manusia dan menjauhkannya dari kesejatian CINTA. Yang membatasi diri-aku yang palsu ini menuju aku yang sejatinya aku. Salah satu jalan kita bisa menemukan CINTA adalah dengan jalan pernikahan.

Di dalam pernikahan akan terkumpul seluruh metafora CINTA dan ia akan mengaktual di sana. Ada satu paradigma umum yang mesti kita dekonstruksi mengenai perkara pernikahan, seringkali manusia salah paham terhadap pernikahan yang dianggapnya sekedar pemuas kenikmatan seksualitas yang berbuah pada keturunan, padahal substansinya ada yang lebih tinggi dari sekedar hubungan seksualitas, yang semestinya dijadikan sebagai perjalanan menuju Tuhan.

Banyak manusia yang berhenti pada kenikmatan tubuh, sebagaimana saya katakan tadi bahwa tidaklah salah akan tetapi perlu kiranya disempurnakan lagi. Sebab tubuh hanya berhenti pada kenikmatan-kenikmatan yang sifatnya semu.

Sebagaimana Doktor Maximus Ibnu Arabi katakan: “Jika laki-laki mendatangi perempuan lebih kepada pemuas nafsu birahinya, maka sungguh ia telah salah paham terhadap seksualitas”. Perempuan adalah lokus bagi laki-laki untuk bisa berjumpa dengan Tuhan-Nya. Para alim ulama juga telah bersepakat untuk mengatakan bahwa Allah mencipta karena keCINTAan, dan olehnya itu Allah menciptakan segalanya menjadi berpasang-pasangan agar bisa saling mengenal satu sama lain untuk bisa berjalan Menuju kepadaNya. Sesuai dengan tingkatan pengetahuannya.

Tingkatan pengetahuan CINTA ada 3 yaitu: pertama adalah CINTA yang masih ada jarak antara yang mencintai dengan obyek yang dicintainya, yang kedua CINTA yang sudah mengalami peleburan tetapi masih tetap terpisah dalam dua eksistensi dan masih bisa dibedakan mana obyek dan mana subyek, CINTA yang ketiga adalah antara dia sebagai subyek yang mencintai dengan obyek yang dicintainya telah melebur menjadi satu dan tak bisa lagi dibedakan mana subyek mana obyek, sebagaimana ketika kita melompat ke dalam bara api, ia benar-benar menyatu dalam satu wujud eksistensi.

Sebagai kesimpulan, laki-laki dan perempuan ini sama-sama berasal dari Tuhan yang satu dan keduanya akan kembali ke ruh Tuhan, namun dalam perjalanannya laki-laki dan perempuan terpisah, untuk bisa bertemu kembali di atas jalan cinta maka ia harus menikah dengan jalan membangun rumah berdasar CINTA untuk menemukan CINTA abadi, dan sebagai catatan perjalanan CINTA dalam mahligai RUMAH CINTA ini sangat tergantung dari siapa yang menjalani dan sejauh mana ia dapat mentransformasikan ilmu yang dimilikinya dalam segala tindakan bijaknya.

Jalal dan jamal ini keduanya adalah Zat Ilahi, akan tetapi dalam manifestasinya Jamal Allah selalu lebih dahulu dari Jalal-Nya. Dan kita ketahui bersama bahwa perempuan memiliki Jamal yang lebih tinggi ketimbang laki-laki, karenanya RAHIM dititipkan kepadanya untuk dijaga dan dipeliharanya demi melahirkan generasi unggul, bermartabat dan bijaksana.

*Penulis adalah pegiat literasi Kota Makassar