Sebelum Hadiri Milad, Baca Dulu Sejarah Muhammadiyah Jeneponto

KHITTAH.co – Jika tak ada aral melintang, Kabupaten Jeneponto akan menjadi tuan rumah milad Muhammadiyah tingkat Wilayah Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 November 2017 mendatang. Bagi pembaca yang akan menghadiri milad tersebut, ada baiknya membaca selayang pandang sejarah Muhammadiyah di Jeneponto.

Kehadiran Muhammadiyah di Jeneponto pertama kali dirintis oleh Sinowa Daeng Lalang pada tahun 1929. Sinowa Daeng Lalang sebelumnya adalah anggota Muhammadiyah Cabang Makassar.

Berawal sebagai peserta pengajian dan kemudian manjdi anggota Muhammadiyah Cabang Makassar, dia semakin paham dengan gerakan Muhammadiyah. Sinowa Daeng Lalang dengan keyakinannya terhadap Muhammadiyah juga mulai mengenalkan Muhammadiyah pada keluarga dan para sahabatnya.

Atas usahanya untuk mengembangkan paham dan keyakinannya itulah, pada tahun 1933 Muhammadiyah Ranting Jeneponto berhasil dibentuknya. Sebagai pengurus pertama waktu itu adalah Sinowa Daeng Lalang sendiri, dan ditemani oleh Abdul Kadir Supu, Daeng Supu, Abdul Razak Sako dan Daeng Kulle.

Setelah terbentuk, Muhammadiyah dibawah kepemimpinan Sinowa Daeng Lalang mendirikan Amal usaha melalui lembaga pendidikan disamping juga tetap aktif melakukan kegiatan-kegiatan tabligh.

Pada tahun 1933, Muhammadiyah Ranting Jeneponto akhirnya berhasil mendirikan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Sebagai langkah pemantapaan akan apa yang ia rintis itu, Muhammadiyah Ranting Jeneponto juga mendatangkan Hasyim, seorang guru dan Jawa sebagai Pembina lembaga pendidikan yang didirikannya.

Pada tahun itu juga, Muhammadiyah Ranting Jeneponto dengan segala usahanya berhasil  pula mempelopori berdirinya Ranting Muhammadiyah  di Poko’bulo dan Ranting Muhammadiyah Tanetea.

Perkembangan Muhammadiyah di Jeneponto tidak terlalu mendapatkan tantangan yang keras dari masyarakat, hal itu dikarenakan keberadaan Muhammadiyah di Butta Turatea itu didukung oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh dan mempunyai kharisma di dalam masyarakatnya, tokoh-tokoh itu seperti Haji Mattewakang Daeng Raja, Lanto Daeng Pasewang dan Haji Patoppoi Daeng Sutte.

Sumber: Buku Lintasan dan Perkembangan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, Wahab Rajab (1999:54)