Sekolah Muhammadiyah Pilihan Terakhir Umat?

skolmuh
Logo Sekolah Muhammadiyah
ADVERTISEMENT

KHITTAH.co– Muhammadiyah selain dikenal sebagai gerakan sosial keagamaan, juga dikenal sebagai gerakan pendidikan. Sejak berdirinya di tahun 1912 hingga saat ini, lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Perguruan Tinggi, telah hadir hampir di seantero nusantara.

Namun, meski telah hadir dimana-mana dengan kuantitas yang besar, lembaga pendidikan khususnya sekolah-sekolah Muhammadiyah, seakan jalan ditempat dengan tidak dilirik umat untuk dijadikan sebagai tempat menimbah ilmu bagi anak-anaknya.

Seperti diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tenggara, H. Akhmad Aljufri, saat membawakan sambutan pada kegaiatan Musyawarah Daerah (Musyda) V Muhammadiyah Kota Kendari (6/3) lalu, di Gedung Islamic Center (GIC) Lantai III Universitas Muhammadiyah Kendari. Menurutnya, Sekolah Muhammadiyah kini menjadi pilihan terakhir.

“Kita memiliki TK, SMP, SMA, namun menjadi pilihan terakhir umat,” katanya.

Ia melanjutkan, bahwa dengan kondisi tersebut, Muhammadiyah tidak dapat menyalahkan umat atas pilihannya itu, sebab mereka (umat) memilih sekolah-sekolah terbaik untuk mendidik dan membina anak-anak mereka, apalagi juga dengan tantangan zaman yang sedemikian kompleks.

Akhmad Aljufri menambahkan, dengan mengutip tulisan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, pada Majalah Suara Muhammadiyah, ia menilai bahwa tulisan tersebut menjukkan bahwa ketua yang terpilih melalui Muktamar 47 di Makassar itu sedang galau. Hal itu dikarenakan akhir-akhir ini sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ditinggalkan oleh umat. “Sekolah-sekolah Muhammadiyah sudah tidak menjadi prioritas umat, sebab pihak-pihak lain telah membuat sekolah yang lebih baik dari apa yang telah Muhammadiyah miliki saat ini,” keluhnya.

Pada kesempatan itu juga, ia memotivasi warga persyarikatan untuk juga meningkatkan ghirah berwirausaha. “Wirausaha adalah profesi yang masih sipit dilirik oleh mayoritas masyarakat di Indonesia, lebih-lebih lagi umat muslim yang mayoritas di negara ini. Betapa tidak, persentase wirausahawan Indonesia hanya 1,5%, sedangkan negara tetangga Malaysia 4%. Dari 1,5% itu hanya sekitar 5% wirausahawan muslim,” jelasnya.