IPM Sulsel: Selamat Hari Perempuan, Bukan Hari Kartini

Kartini (Foto: Wikipedia)
Kartini (Foto: Wikipedia)

KHITTAH.co. Sosok Kartini telah menjadi ikon perempuan Nasional dalam pergerakan kaum perempuan pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20, dimana Kartini melakukan protes terhadap dominasi laki-laki. Hingga hari ini kita kenal sebagai sumber inspirasi kaum perempuan indonesia, tepat tanggal 21 April. Sejalan dengan itu, kaum perempuan Indonesia mengalami transformasi dengan munculnya kesadaran pada level elite-elite Islam untuk membuka ruang keterlibatan kaum perempuan dalam wilayah publik.

Bahkan, secara politik, proses keterlibatan perempuan diformalkan dalam bentuk UU, Misalnya UU No.2 tahun 2011 tentang partai politik dinyatakan dengan jelas mengenai quota perempuan dalam kepengurusan partai politik, diperkuat lagi dengan UU No 8 tahun 2012 tentang pemilu disebutkan bahwa calon anggota legislatif yang diajukan ke partai politik harus memenuhi kuota 30 persen perempuan.

Hal ini tentunya telah dibukanya ruang-ruang terbuka bagi perempuan untuk terus berkarya. Namun, tak jarang untuk memenuhi quota tersebut perempuan secara tidak sadar telah dieksploitasi sekedar penggugur kewajiban. Toh pun jika terpilih perempuan masih dianggap sebagai parfum di parlemen. Sehingga masih banyak mepertanyatakan peran aktif perempuan sebagai wakil rakyat.

Bagi Ketua Bidang Ipmawati Sulsel, Nurul Fitratunnisa, melihat hari Kartini ini para ipmawati yang nantinya akan melahirkan generasi-generasi perubahan, Sarinah-sarinah tangguh, serta Ontosoroh-ontosoroh Indonesia tidak disibukkan oleh simbol perempuan di tanggal 21 April saja. Namun, tentunya bisa menjadi spirit perempuan untuk terus berkarya.

“Saya tidak menolak, sebab dalam Al-Qur’an juga tidak melarang untuk bersaing dengan kaum adam. Justeru Allah selalu menyebut laki-laki dan perempuan, orang-orang beriman baik laki-laki maupun perempuan. Dan ini tentu sudah jelas dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 35, dimana Allah menyebut laki-laki dan perempuan tidak ada diskrimanasi,” ungkap Fitrah.

Namun, lanjut Fitrah, perempuan bisa berkarir, tanpa meninggalkan kodrat lahiriahnya sebagai perempuan. Ia berharap, di hari Perempuan ini kita semakin berpikir jauh dan tetap menjadikan teladan perempuan-perempuan di zaman Nabi dalam mempertahankan agama Allah. “Ada Aisyiyah, Fatimah, Khadijah, Maryam, Hindun bahkan Sumayya yang seorang budak kala itu memilih ditombak hingga kepala, daripada harus kembali pada agama orang-orang arab jahiliyyah kala itu. Bukankah perempuan seperti ini yang perlu dikagumi?“ tegasnya.

“Maaf sekali lagi saya tdk memprovokasi perihal pemahaman teman-teman terkait Kartini, Kartono ataupun Kartika, tetapi semoga bisa membawa kita kepada pada muhasabah diri, dan mengembalikan pada jati diri kita sebagai Ipmawati. Perempuan yang semakin jauh dari kebodohan, kemalasan, kekerasan, ekploitasi, pembatasan hak-hak serta semoga semakin syar’i. Maka bagi kami, lebih tepat selamat hari perempuan, bukan hari Kartini, sebab pejuang perempuan bukan hanya Kartini,” ungkap mahasiswi semester akhir Fakultas Ushuddin UIN Alauddin Makassar itu.

Senada dengan itu, Mujahidatul Khaerat yang juga Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Sulsel menyatakan bahwa Kartini sekarang ini menjadi simbol kesetaraan gender. “Tidak salah ketika perempuan sekarang menjadikan Kartini sebagai inspirasi. “Yang perlu dipahami bahwa bukan sosok Kartini yang mau dibawa ke era sekarang, tapi semangat juangnya,” ungkapnya.

Rahmawati Idrus