Socrates ; Dan Jalan Seorang Filosof

ADVERTISEMENT

Oleh : Hamzah Fanshury

 

Orakel Delphi menyebutnya sebagai orang yang paling bijaksana di antero Athena. Tetapi Anytus, sang politisi menyebutnya sebagai penghasut. Dan kita tahu, seringkali suara politisi adalah tangan lancung dari kekuasaan. Maka dalam sejarah kita baca, Sokrates kemudian di seret menjadi terdakwa; “…bersalah karena tak menyembah Dewa-Dewa yang dimuliakan Negara tetapi malahan membikin sesembahan baru, dan selain itu ia bersalah karena merusak kaum muda, sebab mengajarkan perbuatan tadi kepada mereka.” Dan dosa yang dituduhkan itu mengepungnya dalam sebuah ancaman yang klimaks; kematian.

Saat sokrates mendengar bahwa Orakel Delphi menasbihkannya sebagai orang yang paling bijak, ia mengaku kaget dan bingung; “hanya Dewalah yang bijaksana…kebijaksanaan manusia hanyalah sedikit atau tak berharga…” bagi Sokrates, apa yang disabdakan Orakel Delphi sekedar menjadikan dirinya sebagai analog, bahwa kebijaksanaan Sokrates itu adalah karena dia mengetahui bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan dan dunia. Karena itulah sokrates senantiasa memberi ‘tanya’ dan dalam masyarakat yang telah terbiasa dalam harmoni, bertanya adalah akhlak yang berbahaya, sebab “Orang yang paling subversive adalah yang selalu bertanya. Memberi jawaban tidaklah begitu berbahaya. Mengajukan satu pertanyaan dapat lebih memancing ledakan dibanding seribu jawaban.”.

Dan Sokrates memang telah meledakkan sesuatu yang haram dalam pandangan para penjaga dogma; tanya. Keresahan lalu menyebar dikalangan kaum muda Athena. Ia menyeret orang masuk ke dalam arus nalar dialektika; melalui Sokrates percakapan bukanlah untuk menyemai informasi melainkan praktek dekonstruksi terhadap prakonsepsi yang ada untuk menemukan kebenaran dalam diri sendiri. Mempertanyakan asumsi yang mendasar dan melihat sesuatu dengan intuisi yang ekstasis; “Hidup yang tak diperiksa adalah hidup yang tak pantas untuk dijalani.” Ia sering menggambarkan dirinya sebagai “seorang bidan bersalin;… membantu kelahiran kebenaran di dalam diri lawan bicaranya.

Tak ada serangkum tesis yang defenitif yang, dibutuhkan adalah mengalir dalam dialog menuju penemuan yang mencerahkan atau visioner. Dalam dialog bersama Sokrates, setiap partisipan seakan diliputi oleh emosi yang ritmik, ada pergulatan yang intens dengan pengetahuan tanpa terjebak pada sikap dogmatik; sebuah keterbukaan yang penuh semangat pada kebenaran. Dan sesaat setelah percakapan dengan sokrates itu usai, partisipan dalam dialog seakan menemukan kembali gagasan yang sempat terlupakan. Alcibiades, tokoh muda Athena menggambarkan percakapan dengan Sokrates sebagai Logoi yang memenuhi pendengarnya dengan rasa autentik, membangunkan jiwa yang murni; “Setiap kali aku mendengarnya, jantungku berdetak lebih kencang daripada ketika aku mengalami keriuhan religious dan air mata mengalir di pipiku,” katanya.

Dan jalan yang ditempuhnya itu, kata Sokrates adalah “perintah Dewa; dan aku percaya bahwa tak pernah ada kebaikan yang lebih baik di Negeri ini kecuali pengabdianku kepada Dewa.” Barangkali seperti para nabi, Sokrates sedang menempuh jalan wahyu saat manusia berada pada tubir zaman yang likat.

Tapi kenapa Anytus, politisi itu menuduhnya menghina dewa?

Sebab selalu ada ngarai yang menganga antara dewa dalam keyakinan rakyat dan dewa dalam keyakinan penguasa. Bagi penguasa, Dewa tak jarang hanyalah tipu daya linguistik; eupimisme untuk menjinakkan penderitaan rakyat. Sebuah terma tanpa penghayatan iman dan dedikasi; hipokrisi. Dewa oleh mereka diseklusi dalam ritus dan do’a yang pias. Sementara Sokrates mengajak orang bicara tentang Dewa yang filosofis dengan keyakinan diri yang memikat sehingga membuat jengkel para penguasa dan penjaga dogma. Sokrates bicara atas nama sesuatu yang lebih agung dari diri dan kekuasaan; dewa dan keadilan.

Suaranya terdengar menantang dan mengancam ditelinga Anytus dan penguasa lainnya.

Maka ditahun 399 sebelum Masehi, ia ditangkap dan diadili. Dan mayoritas juri dari sekitar lima ratus orang memutuskan dirinya bersalah; ia dihukum meminum racun sampai mati. Sebuah vonis yang tak menggentarkan bagi Sokrates; “Aku ingin kalian tahu” ujarnya dihadapan pengadilan, “jika kalian membunuh orang seperti diriku, kalian akan lebih menyakiti diri kalian sendiri daripada menyakitiku…orang jahat tak akan mampu menyakiti orang lain kecuali dirinya sendiri…” Sokrates menolak hukuman alternatif; membayar sebesar tiga puluh minae. Ia juga tak bersedia menghadirkan anak-anak untuk meratap dipersidangan sebagai upaya meminta keringanan vonis. Sokrates juga menolak melarikan diri dari penjara seperti yang direncanakan oleh sebagian murid-muridnya, dan pengasingan pun ditampiknya. Ia bersetia kepada negaranya, Athena, dan mematuhi hukum hingga akhir. Kematian yang dipelupuk mata bagi Sokrates bagaikan secarik undangan dari yang maha agung; Daeva, yang bicara kepadanya di saat-saat akhir itu; “Aku seolah mendengar gumam di telingaku, seperti suara seruling dalam pendengaran seorang penganut mistik.”

Penghujung hidup pun akhirnya menjelang. Belenggu narapidana dilepaskan dari dirinya, ia diberi kesempatan untuk bercakap-cakap dengan murid-muridnya; “Ada ajaran yang dibisikkan secara rahasia bahwa manusia sesungguhnya adalah narapidana yang tak punya hak untuk membuka pintu dan melarikan diri…manusia harus menanti, dan tidak mengakhiri hidupnya sendiri sebelum Tuhan memanggilnya, sebagaimana sekarang Dia memanggilku.” Ujar Sokrates pada teman dan murid-murid yang berkerumun di sekelilingnya. Barangkali kita yang memilih hidup saat berada dalam situasi seperti yang dihadapi Sokrates akan memberi gumam: ah, dia menjual nyawanya pada jalan yang tragis, sesuatu yang juga tak bijak. Tetapi bagi Sokrates, “…Tidak ada yang tragis tentang kematian.” Dengan kata lain, meminum racun dan lalu mati sebagai vonis hukum dari kuasa yang balau adalah sebuah ikhtiar mengucapkan kebenaran yang “…yang tak tertangkap oleh wacana dan tak terangkum oleh teks.” Dia mampu menatap kematian dengan ketenangan hati. Ia meminta agar istrinya yang terus menangis diajak menjauh. Ia membersihkan dirinya, kata Plato, agar tak merepotkan para wanita setelah wafatnya. Dengan tenang ia kemudian menyesap racun hemlock itu, merambati jalan darahnya dan menghambat desah nafasnya dari saat ke saat. Ruh filosof agung itu “…pergi ke tempat yang tak diketahui orang, barangkali suatu ruang yang tidak di mana-mana: suatu suwung.”

Kematiannya memberi pesan; kedamaian batin atau juga kebahagiaan adalah hal yang mungkin untuk digapai, meski di tengah kepedihan dan derita. Tak ada duka yang berpesiung dan merusak. Hanya lengkung teduh dan penghayatan hidup yang tenang.

Beberapa ratus tahun kemudian, seorang filosof Roma, Cicero, mengenang Sokrates sebagai filosof yang “…menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah… menelaah kehidupan, etika, kebaikan dan kejahatan.”

Dan kita dengar, saat ajal kian kisut bibirnya masih sempat berucap tanya yang lirih; “saat perpisahan telah tiba, dan marilah kita tempuh jalan kita masing-masing_aku mati dan kalian hidup. manakah yang lebih baik, hanya Dewata yang tahu.”