Surat Rekomendasi dan Langkah Berani Muhammadiyah Sulsel

Oleh : Kasri Riswadi

Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel

Pendaftaran calon anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) baru akan dibuka pada 9-11 Juli 2018, namun nama-nama bakal calon senator sudah mulai tergiang di mana-mana. Pada lingkaran organisasi Muhammadiyah misalnya, beberapa pimpinan wilayah Muhammadiyah (PWM) salah satunya Sulawesi Selatan, bahkan telah mengeluarkan maklumat resmi atau surat rekomendasi untuk dukungan pada satu nama. Satu nama itu adalah Dr. Ir. H. Muhammad Syaiful Saleh, M.Si.

Sosok yang boleh dianggap paripurna di Muhammadiyah Sulsel. Selain dikenal sebagai Wakil Ketua PWM Sulsel dalam beberapa perode terakhir, di kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), ia juga adalah panutan dan tempat berkonsultasi. Di Unismuh Makassar, ia adalah Ketua BPH dua periode. Belum lagi dengan kesuksesannya dalam memimpin pelaksanaan event akbar sekelas Muktamar Muhammadiyah 2015. Di luar Muhammadiyah pun hampir sama, dirinya juga selalu diperhitungkan, ia dikenal sebagai birokrat senior yang bertangan dingin.

Namun rekomendasi Syaiful Saleh ini diperhadapkan dengan realitas lain. Realitas yang muncul membenak bagi sebagian warga Muhammadiyah.  Bagaimana dengan nama AM Iqbal Parewangi, senator DPD RI yang juga selama ini dikenal sangat dekat dengan Muhammadiyah di Sulsel. Di banyak kesempatan termasuk forum Muhammadiyah, ia juga telah memberikan sinyal untuk maju kembali.

Persoalan terjadi di akar rumput. Meski surat rekomendasi telah dikeluarkan PWM, namun tak dapat disangsikan bahwa Iqbal juga tetap tak terpisahkan bagi banyak kalangan Muhammadiyah. Ini tentu menjadi pekerjaan lain yang meski diselesaikan Muhammadiyah Sulsel.

Beberapa opsi sebenarnya sempat mewacana atas persoalan ini, ada tawaran bagaimana bila kak Iful (panggilan akrab Syaiful Saleh) maju untuk DPR RI saja dengan alasan di lembaga tersebut perannya lebih strategis dan keterpilihan juga menjadi lebih terukur. Tawaran lain adalah pemetaan garapan suara bila keduanya tetap maju, serta pandangan optimisme bahwa keduanya punya peluang lolos bersamaan, karena Aziz Qahhar Mudzakkar (Anggota DPD RI 3 Periode) yang selalu meraih suara mutlak tak lagi maju pada Pileg 2019 mendatang.

Bagaimanapun kelanjutannya, satu hal menjadi pegangan bahwa surat rekomendasi telah dikeluarkan untuk Syaiful Saleh, surat itu pun telah dibacakan melalui rapat konsolidasi PDM se-Sulsel.

Langkah Berani Muhammadiyah Sulsel

Mengambil suatu langkah memang selalu melahirkan kemungkinan-kemungkinan. Tapi paling tidak, kali ini Muhammadiyah Sulsel telah membuat langkah berani, dengan mengeluarkan kembali surat rekomendasi yang tidak sempat dilakukan pada Pileg 2014 lalu. Harapannya, dengan surat rekomendasi tersebut semua menjadi jelas untuk dukungaan pada calon tertentu.

Selama ini dalam hal politik, Muhammadiyah Sulsel memang cenderung pasif dan sangat berhati-hati, paling tidak hal itu dilihat pasca Pileg 2004 dan 2009 yang juga pernah mengeluarkan surat rekomendasi sebagai calon senator pada diri KH Andi Iskandar Tompo, meski hasilnya tak maksimal. Kini dukungan organisasi kembali dikeluarkan pada sosok baru yang syarat pengalaman, HM Syaiful Saleh.  Keluarnya surat dukungan ini telah menjadi petanda bahwa kepercayaan diri  politik Muhammadiyah Sulsel telah kembali.

Dengan potensi kultural yang ada, sekali lagi Muhammadiyah memang punya kekuatan signifikan untuk mewarnai kebijakan publik. Sebab dalam politik tidak ada yang netral. Warga Muhammadiyah juga warga negara Indonesia, maka memilih menjadi suatu keharusan. Oleh karenanya, warga Muhammadiyah tak ingin sekadar pemilih, tapi turut serta memenangkan pilihannya dan mengawalnya kelak secara bersama-sama.