Syuja’: Terinspirasi Pengajian, Bangun Rumah Sakit

syuja
ilustrasi

Suatu hari, Syuja’ bertanya pada gurunya, Kyai Ahmad Dahlan, “apa sebabnya pengajian Al Maun selalu saja diulang, malah sudah ketiga kalinya, padahal kami sudah hafal dan mengerti maksudnya?”. Lalu KH Ahmad Dahlan bertanya balik, “Apakah kalian sudah mengamalkannya?” Syuja’ menjawab, “sudah bahkan setiap kali salat saya membaca Al-Maun.” Lalu KH Ahmad Dahlan menanggapi, “Bukan itu yang saya maksudkan. Pengajian Jumat yang akan datang, masing-masing orang membawa seorang miskin, anak yatim, makanan, beserta lauk pauknya, pakaian yang masih baik serta sabun untuk mandi.”

Jumat berikutnya, Kyai Dahlan tidak menyuruh para santrinya membaca Al Quran, tetapi memandikan anak yatim yang dibawa oleh para santri, mempersilahkan mandi orang-orang miskin yang sudah dewasa, sesudah mandi diberi pakaian yang bersih dan baik. Kemudian mereka bersama-sama makan dengan para anak yatin dan orang miskin itu. Sesudah itu sebelum pulang, para anak yatim dan orang miskin itu diberi  bungkusan. Setelah kegiatan itu selesai seluruhnya, Kyai Dahlan berkata kepada para santrinya, “Sekarang mari kita pindah kekajian berikutnya.”

Dampak dari pengajian surat Al Maun tersebut, membuat Syuja’ memikirkan cara-cara yang efektif untuk menolong anak yatim dan orang miskin. Salah satu idenya, yaitu membangun rumah sakit di bawah naungan Muhammadiyah. Ide ini tentu saja tidak dapat langsung diterima oleh kalangan internal. Banyak orang yang merasa ide tersebut terlalu muluk untuk dilaksanakan.

Rencana pendirian Rumah Sakit tersebut rupanya juga dipandang sebelah mata oleh pemerintah Belanda waktu itu. Ketika Syuja’ ditanya oleh pemerintah, “mau buat RS, dokternya dari mana?” Dijawab Sujak, “dokternya Tuan yang menyediakan.” Belanda pun kaget mendengar permintaan itu. Syuja’ menguatkan permintaannya dengan sebuah argumen, “RS Onder de Bogen (Sekarang bernama RS Panti Rapih), yang didirikan yayasan Katolik, dibantu tenaga dokternya oleh pemerintah Belanda. Jadi apa salahnya jika yayasan Islam mendirikan RS, tenaga dokternya pun dibantu oleh pemerintah Belanda?”. Alhasil, pemerintah Belanda pun menyediakan beberapa dokter yang diperbantukan di PKO Muhammadiyah. Pada tanggal 15 Februari 1923, Klinik PKO Muhammadiyah mulai beroperasi. Itulah kisah pendirian Amal Usaha Kesehatan pertama milik Muhammadiyah.

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Syuja’ tersebut. Pertama, pengajian adalah pondasi gerakan Muhammadiyah. Betapapun kini Muhammadiyah telah menjadi organisasi besar yang telah memiliki ribuan amal usaha, ruh gerakan ini adalah pengkajian terhadap nilai-nilai Qur’an dan Sunnah Rasul. Kedua, gerakan Muhammadiyah tidak boleh berhenti sebatas pengajian, tapi melakukan aksi nyata. Aksi nyata yang berpihak terhadap kaum lemah dan terpinggirkan. Ketiga, aksi nyata yang dilakukan pun tidak boleh bersifat sporadis, tidak sistematis dan berpola. Aksi nyata membutuhkan sentuhan manajerial. Keempat, kalau ada motivasi besar untuk bertindak, halangan apapun bisa dilewati. Sujak mendirikan rumah sakit, ketika Muhammadiyah sama sekali belum memiliki kader yang berlatarbelakang ilmu kesehatan. Kelima, sejak awal berdirinya, Muhammadiyah selalu siap bekerjasama dengan siapapun untuk kepentingan masyarakat banyak, baik dengan Pemerintah maupun dengan pihak yang memeluk keyakinan agama yang berbeda. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari jejak Syuja’.