Tafsir At-Tanwir Diharapkan Bangun Etos Umat

KHITTAH.co–Tafsir At Tanwir yang diluncurkan PP Muhammadiyah diharapkan bisa membangun etos ilmu pengetahuan, etos ekonomi dan kerja, serta etos sosial umat. Tafsir ini sendiri diharapkan bisa menjawab persoalan umat yang makin kompleks.

PP Muhammadiyah Saat Meluncurkan Tafsir At-Tanwir, Senin 19 Desemeber 2016.
PP Muhammadiyah Saat Meluncurkan Tafsir At-Tanwir, Senin 19 Desemeber 2016.

Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan Tafsir At Tanwir mencoba membangun tiga etos yakni etos keilmuan, etos ekonomi dan kerja, serta etos sosial. Etos keilmuan tidak bisa dihindarkan karena dulu Islam bangkit dengan kekuatan ilmu pengetahuan. Sehingga uraian Tafsir At Tanwir pun diupayakan bersifat keilmuan.

“Misalnya pada ayat yang menyebut tentang benda-benda langit. Pada penjelasannya bisa ditambahkan mengenai pengukuran usia galaksi,” kata Syamsul di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, pekan ini.

Ke dua, etos ekonomi dan etos kerja. Syamsul mengatakan, Indonesia tak bisa maju jika ekonomi umat tidak maju. Penjelasan-penjelasan dalam Tafsir At Tanwir diharapkan bisa mendorong kemajuan ekonomi Muhammadiyah dan umat.

Banyak istilah dalam Islam yang berasal dari turunan istilah ekonomi. Misalnya kata ajrun yang artinya upah. Saat dijadikan konsep teologi, ajrun berarti pahala. Jadi hubungan ekonomi dan agama memang demikian erat.

“Juga pada ayat, mereka adalah orang-orang yang membeli kesesatan dengan uang berupa petunjuk. Perdagangan itu tidak membawa untung. Ada terminasi ekonomi di sana,” kata Syamsul.

Hal lain juga yang ingin dicapai dari hadirnya Tafsir At Tanwir adalah etos sosial, bagaimana keseimbangan dunia dan akhirat. Karena dalam teologi sufi, negara adalah bayang-bayang yang tidak perlu dikejar.

Tafsir ini ingin membawa umat pada keseimbangan. Dunia anugerah Allah SWT, tidak boleh ditinggalkan dan harus diurus. Karena keberhasilan dunia jadi modal keberhasilan akhirat.

“Bukan berarti dunianya ditinggalkan, bukan. Tapi yang dilarang adalah lalai kepada Allah SWT karena mengejar dunia. Ini cita-cita yang ingin disampaikan,” ungkap Syamsul.

Agar tidak membingungkan masyarakat, Syamsul berpesan kepada Tim Tafsir untuk mengacu pada tafsir Kemenag karena maksud tafsirnya sama, kecuali ada perbedaan yang perlu ditegaskan. Misalnya, pada surat Al Baqarah 185. Dalam Tafsir Kemenag, bulan Ramadhan adalah bulan dimana Alquran diturunkan.

“Secara umum, Tafsir At Tanwir sama dengan tafsir Kemenag. Tapi dalam beberapa hal terdapat perbedaan. Agar jangan sampai terkesan Muhammadiyah ini beda terus, bahkan soal tafsir,” kata Syamsul yang disambut tawa hadirin yang hadir dalam peluncuran Tafsir At Tanwir.

Tafsir At Tanwir sendiri hadir karena adanya kebutuhan warga Muhamamdiyah. Di Muhammadiyah upaya mentafsirkan Alquran sudah lama berjalan bahkan sebelum kemerdekaan. Ada tafsir Al Baqarah yang dibuat warga Muhammadiyah, tapi tidak ada lanjutannya.

Muhammadiyah juga pernah memiliki tafsir Hubungan Sosial Antar umat beragama pada tahun 2000an, tapi kontroversial. Tafsir At Tanwir ini upaya ke tiga Muhammadiyah.

Meski belum sepenuhnya dicapai, Syamsul mengaku ingin sekali agar Tafsir At Tanwir responsif, tidak mengutip yang sudah ada, tapi juga menjawab perkembangan persoalan umat saat ini.

Awal pekan ini, PP Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid meluncurkan Tafsir At Tanwir, meski baru Juz 1. PP Muhammadiyah menargetkan dalam tujuh tahun ke depan, 30 juz Alquran sudah rampung ditafsirkan.

Sumber: Republika.co.id

PP Muhammadiyah Saat Meluncurkan Tafsir At-Tanwir, Senin 19 Desemeber 2016.
PP Muhammadiyah Saat Meluncurkan Tafsir At-Tanwir, Senin 19 Desemeber 2016.