Teologi Kemenangan


Oleh: Dr. H Usman Lonta*

Dua hari yang lampau sebanyak 171 daerah seluruh Indonesia menggelar pesta demokrasi. sampai tulisan ini saya buat belum ada keputusan resmi dari pihak penyelenggara mengenai pemenang di seluruh pilkada, baik pilkada kabupaten/kota maupun pilkada gubernur. Walaupun lazimnya gambaran pemenang akan diketahui sekitar jam 16.00 waktu setempat masing-masing daerah yang menggelar pilkada, melalui hasil perhitungan cepat.


Menjadi pemenang adalah impian semua calon kepala daerah yang ikut dalam kontestasi, namun impian tersebut hanya bisa diraih oleh satu pasangan calon atau kolom kosong bagi daerah yang hanya satu pasangan calon. Begitulah proses demokrasi yang menjadi konsensus di negara Indonesia yang sudah berlangsung selama  lima belas tahun.


Dalam Al-qur’an Surah An-nasr ayat 1-3 dijelaskan,

اذجاءنصرالله والفتح. ورايت الناس. يدخلون في دين الله افواجا فسبح بحمد ربك وستغفره انه كان توابا.

Yang artinya :
(1). Apabila telah datang kepadamu pertolongan Allah dan Kemenangan.(2). Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.(3). Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohonlah ampunan kepadaNya, sungguh Dia Maha Penerima Taubat.”


Satu surah ini,  adalah ajaran teologis ketika kemenangan telah datang. Intisari surah ini adalah kemenangan dan pertolongan adalah ibarat dua sisi mata uang yang sama. Kemenangan akan tiba jika ada pertolongan Allah.

Dengan dasar teologi ini seorang pemenang tidak akan melahirkan kesombongan dan keangkuhan seperti yang pernah dialami oleh Firaun. Potensi sifat sombong dan angkuh ini muncul karena didorong oleh banyaknya orang yang memberikan dukungan, pujian, apresiasi dan semacamnya yang ketika sang pemenang tidak menyadarinya bahwa kemenangan yang diraihnya adalah pertolongan Allah, dan tentunya potensi kesombongan tersebut akan mematikan rasa syukur dan tawadu.

Itulah sebanya pada ayat berikutnya sang pemenang diperintahkan untuk bertasbih dan bersyukur terhadap Allah yang memberikan pertolongan dan kemenangan, sekaligus memohon ampunan kepadaNya, karena boleh jadi dalam meraih kemenangan terjadi gesekan, propaganda negatif, gibah, dan semacamnya. Sehingga perintah istighfar (memohon) ampunan adalah perintah yang juga dianjurkan oleh Allah bagi para pemenang. Kemudian dalam ayat ini dikunci bahwa sungguh bahwa Allah itu adalah maha Penerima Taubat.


wallahu ‘a’lam bishshawab