“Terjebak Macet” dan “Keterbatasan Penafsiran”

jpg

Oleh : Muhammad Nur Jabir

Sudah beberapa kali saya mengalami fenomena terjebak macet. Saya yakin hampir semua pernah mengalaminya. Namun terjebak macet di perempatan lampu merah, bagi saya cukup mengerikan. Sebab meskipun tanda lampu lalu lintas: merah, kuning, hijau, berturut-turut dan secara bergantian menyala akan tetapi sudah tak punya arti lagi. Seluruh kendaraan numpuk di tengah dan tak ada ruang celah sedikit pun untuk bergerak.

Saat giliran lampu hijau menyala, seluruh kendaraan berusaha maju ke depan, walau sadar tak ada lagi ruang gerak untuk maju ke depan. Sebagian besar kendaraan memilih membuyikan klakson sekeras-kerasnya dan berulang-ulang sebagai satu-satunya pilihan terbaik. Nah bayangkan jika keempat titik sudut tanda lampu lalu lintas melakukan hal yang sama, dan anehnya lagi sebab semua menyadari bahwa tak ada lagi ruang untuk bergerak.

Mengapa semua kendaraan di perempatan lampu merah itu merasa berhak membunyikan klakson? Sebab seluruh kendaraan mendapat giliran nyala lampu hijau karena seluruh kendaraan hanya bisa diam dan tak bisa bergerak. Maksudnya lampu lalu lintas berjalan secara otomatis, tak peduli apakah mobil sedang bergerak atau tidak. Rambu-rambu lalu lintas tak punya kehendak dalam mengambil inisiatif atau mencari solusi secara sponton. Bahasa rambu lalu lintas adalah bahasa program tanpa memiliki kehendak. Seluruh kendaraan membenarkan penafsirannya atas rambu lalu lintas waktu itu.

Kasihan angkot itu yang terjebak ditengah-tengah jalan perempatan. Angkot itu melangkah persis di ujung lampu hijau berakhir dan malangnya sebab ia terjebak di tengah jalanan, menunggu antrian agar mobil yang di depan bisa bergerak maju. Si sopir angkot hanya bisa pasrah mendengarkan cacian dan cemoohan dari pengendara saat itu. Sebagian pengendara motor yang tak sabar menendang mobil angkot itu. Mungkin karena pada umumnya dibenak kita, sopir angkot selalu berkuasa di jalan, berhenti seenaknya dan bergerak semaunya.

Seluruh kendaraan menegaskan bahwa tafsiranku atas lampu hijau sedang menyala adalah benar dan sudah saatnya saya berhak maju ke depan dan oleh karenanya saya berhak membunyikan klakson kendaraan karena kendaraan di depan tak bergerak. Apakah ada tafsiran yang salah? Tak ada satu pun yang salah sebab seluruh kendaraan sedang terhenti dan tak bisa bergerak sehingga semua merasakan hal yang sama mendapatkan giliran lampu hijau.

Mereka hanya melupakan satu hal tentang ‘terjebak macet’. Disini bukan saatnya lagi membicarakan penafsiran mana yang benar. Saatnya menyadari bahwa penumpukan kendaraan akan menjebak kita dalam kemacetan. Kondisi seperti ini seharusnya menyadarkan kita akan keterbatasan ruang tafsir. Sebab saat seperti ini yang kita butuhkan adalah kearifan, bukan lagi penafsiran. Kita mesti mengalah agar ada ruang yang terbuka dan kendaraan lain melaju.

Persoalannya siapa yang mesti mengalah dan siapa yang mesti mengambil sikap bijaksana? Bukankah hidup ini penuh dengan resiko yang mesti dihitung dengan kalkulasi matematis? Siapa yang mesti membuang waktunya dengan mengalah? Dan siapa yang mesti mengambil peran bijaksana dengan resiko kehilangan keuntungan ekonomisnya? Tapi bukankah kita sedang mempertaruhkan nilai nurani dan fitrah kemanusiaan kita?

Saya tidak tahu, apakah kondisi bangsa kita sedang mengalami ‘terjebak macet’? jika iya, lalu siapa yang akan mengalah dan siapa yang akan mengambil peran arif dan bijaksana? Tentu yang paling banyak berbicara tentang nilai moral dan yang paling banyak berbicara tentang agama. Kecuali semuanya memilih membunyikan klakson sekeras-kerasnya. Tapi bukankah kita sedang mempertaruhkan nilai nurani dan fitrah kemanusiaan kita? Saya tak tahu, hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan nihilisme kemanusiaan kita kata Heidegger. Sebab itu saya berdoa, semoga ada yang berperan mengambil ruang ‘mengalah’ dan ruang ‘bijaksana’.  Amin