Tidak Ada Peristiwa 21 Mei 98

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Kita tidak bermaksud mengungkapkan asal-usul pergolakan massal dan jejak-jejak kebangkitan intelektual muda dari mahasiswa. Karena itulah, mungkin usia anak kecil terlalu cepat memasuki tanda keindahan pembunuhan di malam kejam. Pergerakan politik ditandai dengan tumbangnya sebuah rezim lama menuju rezim baru, setidak-tidaknya masa transisi kuasa sejak dua puluh dua tahun yang lalu. 

Masyarakat Indonesia terutama kaum terpelajar atau intelektual muda memiliki satu ingatan kolektif atas pergerakan Reformasi 21 Mei 1998 tidak lebih dari fenomena sejarah. Tidak selalu  peristiwa politik menjadi peristiwa menarik, kecuali peristiwa dimaksudkan merupakan bagian dari fenomena sejarah politik itu sendiri. Peristiwa besar tidak dapat direduksi dengan rangkaian   determinisme dari pergerakan sosial atau rangkaian sebab musabab mengapa terjadi gelombang protesi terhadap rezim otoriter. 

Ahli sejarah belum menemukan rangkaian sebab musabab tumbangnya rezim dengan daya nalar. Akumulasi amarah yang menumpangi protes sosial membuat nalar dapat dibunuh dengan kesilauan akan kebebasan, bentuk-bentuk penghancuran mimpi, berakhir setelah sebuah citra dan suara menjalar menuju ilusi kebebasan, tanpa perubahan esensial. Kedalaman hasrat dicapainya dengan penundaaan kemiripan dan intensitas kekerasan bahasa dan pikiran. Tetapi, dari kebutaan  atas peristiwa besar yang dirisaukan bukanlah semangat, melainkan kekerasan pikiran, karena hasrat untuk bebas memiliki kekuatan logika tersendiri untuk memahami perjalanan kehidupan dunia. Sejarawan berusaha mencari nilai surplus kuasa di sudut-sudut peristiwa, bukan pada saat kegelapan atau kesamaran gambar. Sejauh ini, peristiwa adalah peristiwa dinamis, yang lebih kuat dari segala apa yang kita terhadap rangkaian kausalitas yang untuk memperbaiki keadaan kompleksitas, representasi, diferensial, tipologis, relativitas matahari dan bulan, siang dan malam tanpa rasa silau. Pada titik awal dan di akhir kegairahan, kita menemukan peristiwa. Kegairahan lambat menggantikan  mimpi panjang: bangun, terlena, kerja sambil berpikir serius untuk masa depan di balik kata-kata bisu, parameter bahasa, semantik, dan nilai yang tidak diperlukan lagi.

Kita tidak memiliki kerangka teoritis mengenai peristiwa yang betul-betul merupakan suatu rangkaian peristiwa transformasi masyarakat dan diskontinuitas. Lebih tepatnya, suatu peristiwa yang mengarah pada peristiwa diskursif melalui apa yang dinyatakan individu bergerak dari satu kegelapan ke cahaya, dari kepenuhan nafsu menuju pada pembebasan esensial, yang berjalan ke peristiwa yang membebaskannya dari kepastian yang terburu-buru. Tiba-tiba dari samping, suatu perbedaan garis putih dan hitam melintasi titik peritiwa melalui kebenaran yang bertopeng tanpa kegelapan dan cahaya yang menyatakan reformasi atau perubahan dimana gerangan.

Inilah kegairahan kita membatasi garis demarkasi ”tumpangan gelap kebebasan” (kebebasan yang kebablasan), ketika jiwa bebas yang hangat dan perih ini tidak tertandingi. Ia terus belajar pada gairah individu, tanpa perkataan lunak;⎯ tanda kegairahan tidak dibutakan oleh kemiripan dalam ikon atau retakan khayalan birahi. Jejak-jejak tidak membutuhkan rasa sesal, terbalaskan keringat mengalir di tubuhnya. Tetapi, kerelaan yang spontan dari citra pikiran yang terjebak; ia tidak datang dari noda dibalik halaman buku yang direnggut oleh pembaca. Memang pandangan sengit tertuju pada dimensi waktu untuk kegairahan, bukan dimensi ruang yang pengap, keruh dan pucat kompleksitas warna dan suara. Kegairahan sekarang diarak-arak keluar secara kolosal dalam bidang ekspresi kita, tetapi merosot dalam prediksi masa depan yang buram, ganjil dan luar biasa. Perhitungan cermat dari orang yang puas, terhadap khayalan dan ingatan akan suatu perubahan tidak lebih membumbui adonan spesies baru. Citra dan jaringan teror: nalar, dimana kebebasan menyongsong mimpi dan melepaskan transaksi gelap, dari bacaan sesaat dan dongeng merahasiakan kodenya dalam siang dan malam panjang. Garis-garis, kata-kata dan proposisi dijauhkan dari label ‘monster’; kelenyapan raut wajah halus dan kasar apapun bentuknya dalam harga, nilai, kegunaan, keramahan, adaptasi, dan reputasi. Untuk melanjutkan balas dendam dari peristiwa diskursif, marilah kita mengarahkan sejenak pikiran ini dari bawah ke atas tanpa hirarki, dalam kebebasan dan penyanderaannya: perut hanyalah kubangan bisikan atau godaan. ‘Dada’ sebagai kejayaan budak dan tuan dan ‘kepala’ menjadi asal-usul tipu muslihat sekaligus kecerdikan, tetapi ada sesuatu yang membuat lebih tersenyum analis jahat: akibat masih lebih misterius dan menyiksa apa yang ada di bawah perut manusia. Sungguh hal ini dramatis, kecuali sisi manusia mulia dan heroik atau tidak lama lagi, racun berbisa tetaplah racun dalam larutan madu. Warna dan baunya merupakan representasi yang khas dan tantangan tersendiri dari bahasa kegairahan. Setelah kebebasan dijinakkan, manusia heroik adalah jenis manusia dalam cara melihat, menahan dan menyebarkan benih-benih kekacau-balauan dari kebebasan yang hampir-hampir tidak tertidur; menghiasi malam sebagai momentum serangan mendadak. Sudut kobaran jiwa bebas membiarkian siang untuk menyediakan cibiran diantara orang yang malas membunuh gairahnya. Maka dari itu, orang dapat mengembalikan penalaran dan petuah bijak mereka dengan memperanakkan penderitaan filsuf menghilang dalam mata khayalan dan birahi. Karena ia telah melunasi utang yang ditanamkan orang-orang bijak sehingga kita dapat mengatakan, bahwa setiap orang menjaga birahi dari penderitaan atau keburukannya, berarti mengagumi dirinya dibalik sinyal atau bunyi sebagai satu langkah melepaskan dirinya dari budak disiplin. Ia telah menyebabkan hilangnya milik mereka sendiri, sepanjang mereka apa yang betul-betul unik dan hal-hal apa yang digandrungi orang lain. 

Atas nama pengorbanan diri, struktur represif kesadaran menerima ingatan melalui ketelitian yang terlunasi sebagai satu-satunya sarana penyembuhan atas kematian nalar. Berbagai reputasi gemilang atas nalar dan kekerasannya adalah arus-arus ledakannya yang sulit memperbaharui kembali. Pergerakan darah dan sel-sel syaraf dari replikasi alam,  ia hadiri bukanlah di tengah kegoncangan hidup diantara ketidakhadiran gairah yang fantastis. Permainan kebenaran nampak di akhir kebenarannya sendiri. Kebenaran dari peristiwa bukanlah hipotesis, difragmentasikan dengan kertas tanpa tinta di depan pembajak demokrasi. Tatkala berpikir sederhana, kita mesti bertanggungjawab atas pemecatan tatanan dunia, tiba-tiba menyelinap dalam pencampur-adukan persfektif dan tatanan, seperti duri dalam daging membuahkan rasa sakit. Sesungguhnya gairah menandingi kebebasan sebelum menit-menit terakhir ilusi. Kita mungkin menghadapi tantangan dunia baru untuk memasuki celah-celah perubahan instan yang pincang akibat niat busuk, tatkala kepura-puraan dan kritisisme yang anti kritik. Karena retorika yang mentah mengumbar gambar melalui posisi tawar yang tinggi. Tanpa patahan, pengembosan dan pertumbuhan fantastis dari pergerakan arus perubahan melalui jejak tanpa tubuh yang memadati gambar, suara dan warna mutakhir. Misalnya, pantulan realitas luar terhadap senyuman, citra dan pengumbar janji palsu yang mempesonakan.  Kita mungkin masih naif dengan relasi interior (gaya Barat), ia mengubah tubuh dan mengodekan sesuatu dengan mengurangi kekosongan makna akibat materialitas tiruan sebagai tanda. Arus di bagian dalam suatu perubahan kehidupan atau tatana dunia baru diluapi, disesuaikan dan bahkan dimanipulasi dengan ”represi kesadaran” secara spontan atau dicitrakan oleh tubuh. Kita mungkin menyimpan rentetan peristiwa pengetahuan tentang daya birahi bagi epigone literature (kesusteraan epigon) begitu bersemangat menyuarakan nada-nada sensual dan berlipat ganda membungkam ribuan hentakan intelektual yang keras tentang jiwa modern.

Lalu, seorang teknokrat sejati yang terlatih menahan luapan dan desakan kuat dari insting berkuasa: menikung tajam; persepsi mengenai jurang yang dalam dan terhimpit oleh kekuatan luar. Mereka diletakkan sebagai obyek pengetahuan tentang perubahan dunia untuk meniru ilusi. Begitulah arus hasrat yang tanpa disadari menjadi bahan analis atau obyek pengetahuan, dilahap habis bagi mereka yang haus kontradiksi internal antara imajinasi dan ‘kegemaran pada langkah permainan catur yang logis’. Tanpa cermin dan referensi, ia tidak pernah habis terbuang percuma diantara kekambuhan. Ia dipisahkan dari permukaan tubuh yang datar dan sensitif; kegairahan filsuf adalah bui. Ia bukan merupakan representasi bahasa yang paling cair dan membius ingatan yang bergerak “dari dalam”. Suatu lingkaran dan tontonan besar dari “permukaan kebebasan”, gambar mengalir keluar dari dirinya, penuh penafsiran dan pemujaan atas tubuh ditampilkan oleh sainstis, sastrawan, orator hingga filsuf agung. Lihatlah, mengapa tangan dingin para pencari pengetahuan penuh semangat berapi-api berbeda dengan tangan kotor dan jari-jari yang terbakar! Apapun alasan para filsuf, manusia melengkapi dirinya dengan titik rahasia ritual birahi melalui tubuh yang dikorbankan. Daya represi ingatan menjadi relasi produksi hasrat dan kode ritual dari kebenaran yang bertopeng yang ditemukan dalam ilusi kebebasan.

Keterjarakan jejak-jejak antara mimpi dan ingatan sebagai bentuk keintiman yang menukik, memahami suatu disposisi birahi dan kegairahan pikiran dalam kekuatan ganda, tanpa pemolesan wujud artifisial. Sebagian perjalanan hidupnya, manusia mungkin tidak tertarik untuk berbicara, berhitung, menulis, merasakan dan bertindak tanpa jasa tubuh eksotis sebagai mediator sekaligus pemicu yang menakjubkan; representasi bacaan atas birahi dengan cara manusia memikirkan dalam-dalam tentang apa arti waswas, merenung dan membalikkan keadaan baru. Kita mesti banyak belajar di bawah maklumat, munajat dan seni-kritis tentang ”palaentologi kegairahan” bergerak kepurbakalaan penalaran yang baru dan mendasari kesejahteraan batin dan ingatan kita.

Kita dipandang unik dari dunia lain berkat kekuasaan sebagai kenyataan ’panggung hidup’ yang dimainkan oleh kebenaran seks hanyalah penjelmaan halus dari daya yang lebih kuat dari kuat. Tetapi, seluruh pengetahuan teknis manusia terbungkam dalam represi birahi yang subur dan sportif, dimana insting-insting, hasrat-hasrat dan keinginan-keinginan lain yang sebelumnya sebagai obyek tidak riil, akhirnya menjadi relasi obyek citra dan obyek kolinis  dari pandangan metafisika atas tubuh atau sejenis realitas dalam waktu yang tidak diketahui oleh manusia. Presentasi-presentasi dan relasi metafisika antara tubuh dan jiwa senantiasa dipersembahaan untuk dikalkulasi kembali dengan kesenangan yang singkat. Khayalan dan ingatan bukanlah instrumen khusus, melainkan titik akhir dari pengetahuan yang membuat diri kita lebih serius mengatasi representasi dan huru-hara. Ia membelokkan pandangannya yang luas dan keyakinan yang kuat. Apabila seseorang terasuki dan terbelenggu dalam kebebasan, maka ia berusaha semampu mungkin melalui kekuatan hasratnya yang tidak terpuaskan. Karena hasrat merupakan cetakan diri. Tetapi, cengkraman rasa malas bergayutan terus menerus tanpa mengenal kelelahan seperti seekor onta dan seekor keledai yang memikul beban dan juga memiliki insting untuk memperkirakan sesuatu dengan kesabaran dan keteguhan melintasi padang pasir atau daratan yang remeh, sejenis sinyal dan tanda bahaya jika melampaui batas melebihi kekuataannya. Manusia perlu iri hati melihat fenomena birahi yang lebih cermat dari dirinya hingga penaklukan yang tersembunyi dalam daya birahi kita tidak lebih sebagai reaksi epistemik terhadap dunia lain. Berbeda dengan gaya selera, ia dirancang sebagai sarana persuasi sekunder dari birahi sejati kita. Disinilah individu, terlepas dari eksistensi yang menjerat dengan keraguan darinya. Esprit vaste (suatu daya intelektual yang mengembara) sebagaimana situasi-situasi kejiwaan kita, disekitar respons-respons kekacauan khayalan bukan lagi serangkaian sintaksitas kegairahan yang cair, melainkan ketidakhadirannya melalui pergerakan-pergerakan, sinyal, simpati, dan daya heroik yang tinggi. Seperti seseorang merasa gembira dan berputar-putar mengelilingi godaan dengan menerbangkan mimpinya ke dunia nyata, tempat berpijak mereka. Kegairahan individu bukanlah sekumpulan mayoritas, minoritas dan minimalitas dari obyek pengetahuan, tetapi serangkaian imanensi yang keluar dari representasi, tanpa dibumbuhi representasi citra dan kesenangan yang samar dan rapuh.

Lingkaran-lingkaran hitam bernegosiasi dengan pelahap nafsu, atau cara ia melihat diri dari rangsangan kuat dan menyebar di dalam kuasa tubuh melalui amour-passion (cinta bernafsu) seluas pengetahuan kita tentang keindahan dan rasa sakit. Apakah kita masih membutuhkan tata bahasa melayang-melayang di luar teks Kantian; teks yang tidak mampu menegangkan urat syaraf dan melonggarkan otot persendian kita? Mungkin ini juga merupakan pentolan birahi yang menipu, sejak pikiran modern melihat keuntungan diantara kehadiran, tatanan dan kesia-siaan, melepaskan rasa sakit dan kenikmatan yang menakutkan kita. Lebih dari gerakan yang disembunyikan, kualitas disembunyikan di dalam kuantifikasi yang dimunculkan birahi (dalam jumlah gambar, warna, tinggi, berat, dan frekuensi ‘desahan yang khas’ dari ‘sang penentang ketidakadilan.

Emosi dan hawa panas terombang-ambing di atas suatu kenyataan dunia, bahwa kekacauan yang melanda pikiran terluapkan dengan penyusupan intensif dalam kehangatan tubuh esoteris. Emosi dan panas diluar ide, kecuali kekuatan fisiologis dipersembahkan oleh para saintis untuk melenyapkan kata-kata kebencian atas nafsu birahi. Darah-emosi digambarkan sebagai kekuatan besar yang secara reflektif atas perubahan tatanan meneror pikiran kita yang penuh kepolosan, diorganisasikan untuk merelakan penyerangan langsung kepada birahi tidak lebih sebagai parasit tanpa beban benda-benda nyata. Darah bergerak sekian kali, karena kerja jantung sangat vital melalui pergolakan sengit memerangi dirinya sendiri, titik pengontrolan ketat atas penghianatan bagian-bagiantubuh, seakan-akan kelahiran nalar yang tidak diharapkan. Kerja jantung tidak membutakan kelazimannya dengan menaklukkan perlawanan dan dampak negatif organ tubuh lain agar melonggarkan pembuluh-pembuluhnya. Disanalah kelahiran kembali suatu organisme melalui sirkulasi ajaib, pencairan-pencairan humor akibat ketegangan berlipat ganda, peniadaan halangan-halangan, penyegaran-penyegaran darah, penggembiraan kekuatan diri yang tercantum dalam panas alamiah, penyempurnaan citra-rasa pencernaan, dan pengolahan tubuh segar dan pikiran tajam. Proses kimiawi makin alot dan mengasyikkan tubuh kita, ditandai kebahenolan panas, perangsangan pori-pori,  erotis digelembungkan oleh selaput-selaput yang tersembunyi,— satu-satunya cara untuk menyelamatkan penderitaan fisik kita, yakni kelembaban yang kasar dan efek-efeknya bagi obyek non-metafora tubuh. Cairan kental dan halus memanggil dengan bunyi jasmani yang sangat kuat dari panas tanpa penandaan. 

Pergerakan-pergerakan halus secara otomatis atau alamiah bukanlah sesuatu dunia esensial, di dalam organ tubuh ditumbuhkan sebuah kehangatan biasa dengan bantuan berlapis-lapis oleh kecederungan alamiah, yang silih berganti sensasi dan mesin. Rasa panas dan dingin bergantung pada berganung pada dunia indera, tetapi hanya diketahui oleh tubuh kita.  Kegairahan diganggu, ketika daya-daya lain tentang panas diciptakan untuk menekan pergerakan-pergerakan tubuh yang menolak kekerasan dan kecenderungan ganjil lainnya. Tubuh merupakan efek perangsang paling ampuh dan penguat paling mematikan. Menggabungkan paradoks dan mimpi, kilatan atas keluguan, lautan atas daratan, khayalan atas indera dan kesilauan atas kesamaran, didalamnya memisahkan fenomena ekstrim dari kelezatan tubuh. Rentetan tersebut memproyeksikan dirinya sendiri, dalam bingkai-bingkai gambar, simponi diskursus dan tindakan. Kegairahan akhirnya dibungkam seribu bahasa dan heterogenistas ditandai kelimpahan aksesoris ritual kesenangan-kesenangan. Kegelapan malam yang dibungkus kerudupan sinar dari lampu untuk menimbulkan efek sensual, dinding berwarna cerah, keharuman parfum-potpourrie, rangsangan sirkulasi udara, pakain tidur, tarian, parfum, musik, rayuan, dan pujian yang terbenam hingga matahari pagi dan malam kembali melingkari kita. Tetapi, seluruh gerakan polosnya di bawah kesilauan tubuhnya. Kesenangan-kesenangan fisik tidak lain hanyalah sebagai kelahiran nalar telanjang. Tetapi, kita bernafsu tanpa lelucon, diubahnya sebagai kesenangan-kesenangan yang lumrah. Beginilah cara-cara kita memanipulasi birahi ‘tuna intelek’ dengan rentetan kegelapan dan kecerahan bergabung dan terbungkus tubuh dan efek-efeknya yang mengkristal dan tajam, dalam kebebasan mendadak terpecah dalam kepalsuan ganda.  Insting pemangsa bukan kebinatangan, ia hanya permasalahan kondisi manusia. Dalam pengetahuan umum, bahwa kesamaan insting manusia dan binatang, diantaranya air liur sebagai satu energi atau zat yang berfungsi untuk mempertahankan hidup. Apakah rangkaian bayangan, cahaya ataukah citra artifisial sebagai sesuatu yang tidak sepeleh? Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, bahwa paling penting dalam permasalahan tentang kebebasan yang tidak terpikirkan.

Perputaran-perputaran atau pergerakan-pergerakan lihai tubuh sebagai pengantar yang baik bagi bentuk fisiologis yang haus darah harus berada di luar lapisan represi birahi dan penolakan dan penyatuan kesilauan makna diinstruksikan kembali kedalam pijaran besar dan cahaya dari dalam diri berdasarkan kegairahan, estetika dan sadar. Kenikmatan, hasrat, imajinasi, mimpi dan amnesia diredistribusikan, ketika halusinasi mengejar bayangan dan pijaran yang menyilaukan mata atas mata dan akhirnya dilenyapkan oleh kekekuatan ilusi. Bersama sebuah dunia fiksi, ilusi tidaka lebih kuat dari nasib manusia bersama ketidakhadiran nalar, dimana kekuatan indera didaulat sebagai penjamu kebutuhan yang sempurna.  Dalam fiksi, gambar teridentifikasi sebagai korban kesadaran kuno yang memalukan. Di satu sisi, fiksi bukan saja membebaskan, tetapi juga membersihkan kuman-kuman kebenaran metafisika. Di sisi lain, fiksi hanya menjajakan boneka mainan dengan perantara sebuah persfektif inderawi. Kita ini, seperti sebuah boneka mainan yang dipajang di etalase toko, dimana anak-anak kecil baru belajar bermain dengan dunia, dalam keriangannya yang tidak terbayangkan dalam dunianya sendiri, dibimbing oleh kebiasaan dan citra kita, dan kemudian ditinggalkannya ke tempat dan jenis permainan lain sesuai seleranya di bawah kekosongan birahi. Tanpa mengabaikan intensitas peristiwa tubuh dan jaringan-jaringan instrumen yang mengurungnya, sebuah kegairahan tidak dihasilkan efek jaringan tubuh, tetapi berjuang bersama logika nurani untuk penaklukkan raksasa atas bayangan benda. Apakah logika itu? Memamerkan kebebasan atau hikmah kebenaran yang mengandung kekerasan. Sebaiknya, kekerasan harus memboncengi ketiadaan bayangan gelap dan cahaya. Supaya tidak ada kata-kata kotor dan kebenaran benda sebagai perangkap yang terlumpuhkan oleh bingkai foto erotis, seni yang tidak bermakna. Tidak ada kelenyapan makna yang mengajarkan kita kehampaan, dimana memori-memori, pantulan-pantulan, arus-arus, dan pemindahan-pemindahan yang tegas dan solid akan menarik kebutaan dari nafsu. Memanfaatkan nafsu untuk melawan kegairahan berarti menyerang balik kesatuan hasrat dan bahasa dan memanfaatkan  suatu peristiwa kecil dalam rasa sakit akibat gigitan semut. Insting-insting tersalurkan dengan baik lewat pembalikan-pembalikan arus dan pemantulan sastra birahi dalam maknanya yang ketat.

Kebebasan yang fatal tanpa nalar dibumbuhi dengan kemalasan dan ketakutan besar, lemah kehendak dan tuna rasa memiliki daya tarik bagi kebutaan di siang bolong. Kegairahan berjalan sesuai dengan rotasi waktu. Esensi kegairahan ditaklukkan sang waktu dan keingintahuan adalah pemunahnya. Inilah peristiwa intelektual dan melepaskan histeriapobia menciptakan gerakan tersendiri di luar daya birahi, menggeser peristiwa tubuh. Disinilah, daya gerak dilipatgndakan kegairahan berarti dilihat sebagai penakluk tanpa sifat kealamian dan kemunafikan. Di dalam diri sebagian filsuf dan seniman, kita dapat memperhatikan suatu kegairahan yang sempurna ditiup-tiupkan sebagai buaian ’benda hakiki’. Homo intellectus dalam daya kritis dan kebijaksanaannya yang teguh memperingatkan bahaya besar dari mimpi yang nyata. Kesadaran filosofis hanyalah ritual pengorbanan, yang dibayangkan seonggok daging yang digerakkan oleh produk-produk lain. Penekanan-penekanan kesadaran dan ketidaksadaran hanya makin membebani di atas beban bertumpuk dan bertahan tanpa sumbu perubahan esensial.

Apakah kebenaran benda atau bukan, itu bukan cerita menarik dalam konsep bulan madu sang sutradara film komedi?  Penjebakan meja yang terbuat dari serbuk berifat lemah tekanan dan rapuh. 

Suatu bayang-bayang dan cahaya yang disengaja dirancang untuk perubahan dalam suatu pengintaian, penyelaman dan perekaman atas gaya, gelombang dan percikan cahaya kilat dan menghancurkan ilusi dan mimpi buruk. Para ruhaniawan bersepakat, bahwa suatu keyakinan di bawah bayang-bayang, cahaya dan kilatan petir, sekalipun diputar haluan oleh sebuah kebenaran. Representasi segelas anggur dan emosi yang menghadangnya dari dalam kesunyian. Warna dan manifestasi benda absurd seperti dalam sebuah kehangatan anggur, yang membangkitkan dunia indera bukan sebuah esensi, melainkan permainan tanda. Humor-humor maupun syaraf-syaraf perangsang yang tajam dari rahasia mata indera dari rahasia kelicikannya, dimana pikiran-pikiran dikorbankan melalui selera yang buruk pada parfum atau busana. Sebaliknya, amor intellectualis Dei (cinta intelektual Tuhan) adalah sebuah ungkapan paling halus diluar pergerakan secara pskis, kecuali pergerakan secara mekanis. Segalanya adalah mesin. Dalam Ethics, teks Spinoza mengungkapkan peristiwa diskursif. Sekilas, dunia, pengetahuan, kesenangan, atau gagasan manusia diselimuti rahasia, dimana amor intellectualis Dei membisikkan hal-hal yang penuh kehingar-bingaran sekaligus kesenyapan mengurung kita dengan uluran tangan ‘keabadian’, lalu Spinoza berkata: “Dari jenis pengetahuan yang ketiga membangkitkan kebutuhan akan cinta intelektual Tuhan” (Lihat Spinoza, Baruch,  Ethics,  J. M. Dent and Sons, Ltd, London, 1959, hlm. 218). Perkara ini adalah taruhan deduksi Spinoza dan dunia yang dia ciptakan lewat doktrin Tuhan dan cinta yang merasuk, dimana kesadaran adalah ilusi. Tatanan yang mendukung doktrin Tuhan dan cinta adalah ‘tatanan geometri’ (geometric order) sebagai ‘pembacaan berlipat ganda tidak terbatas’.

Semuanya mengacu pada sesuatu yang di luar pikiran. Produksi ingatan, tidak bertentangan respons-respons birahi, karena ingatan memerlukan suatu lompatan: manusia seringkali melebihi birahinya sendiri. Birahi yang pincang ditandai akumulasi rasa haus, lapar, mengantuk, istirahat dan kebutuhan seks. Kita sangat gelisah jika suatu saat nanti tidak memiliki lagi birahi.

Kita mesti banyak belajar kepada kemandekan atau kelihaian tubuh sensual modern (yang dipelopori oleh akhir dari nalar); birahi tidak tertidur dalam tidur bersama dunia mimpi panjang. Setiap realitas terjebak oleh perubahan masa. Dalam kontradiksi yang ringan dari kekaburan dan kecerahan ingatan; kegairahan dibangunkan oleh histeritas mimpi, ingatan dan cermin sebagai tanda kemabukan diri yang sama sebelum diartikulasikan. Kontradiksi kegelapan dan cahaya Apabila kita memikirkan obyek kamera di dalam hiperrealitas bergejolak karena sentuhan keras sensasi, berarti ia sebuah ritme birahi yang kosong makna energiknya di dunia pikiran. Disini, tubuh eksoterik berafiliasi dengan hiperrealitas yang berhasil menyadap rahasia ‘dunia indera’ dan memukul mundur pikiran atas kedunguan. Seperti “seseorang memiliki hasrat untuk membeli sebuah bentuk ‘kamera digital’. Terlebih awal, suatu obyek yang diketahui di dalam hasratnya, tidak lebih sebagai sebuah cermin pantul yang buram dan kosong dari penglihatan dibalik penglihatan. Sebagai obyek nyata, karena kamera digital bermanfaat terutama mengambil obyek gambar yang juga nyata. Kamera dilengkapi perhitungan jarak, cakupan-batasan, muatan, dan bahkan jumlah warna terungkapkan. Sebuah kamera disinari dengan garis cahaya yang dipantulkan oleh obyek yang dipotret. Sebuah obyek yang disorot cahaya melalui lensa yang dipantulkan oleh sebuah obyek tertentu tergiring kedalam medium ketiadaan. Seseorang terlanjur disirami suatu cahaya kamera, di dalam pikiran hanya satu, yaitu dunia yang ada dalam dirinya sangat menarik pandangan. Betapa sebuah sarana pemuasan sensasi sangat menarik, tetapi mustahil tidak menarik prinsip estetis. Suatu kamera interior adalah sarana sensasi dan media pergulatan pikiran, karena cahaya yang kuat ditransendensasikan untuk memperjelas bayangan dengan elemen pengaturan otomatis, seperti bayangan, ketajaman dan penyinaran sebuah obyek. Di dalam birahi-intelek itulah ada suatu ‘kamera’, di mana penjelasan distansi-distansi ketiadaan obyek melalui ketajaman sealigus kekaburan sensorik. Kegairahan yang dangkal terceraikan dari angka diafragma dari sebuah kamera dengan proposisi absurd personifikasi, makin besar angka diafragma, makin kecil peluang sebuah jendela pembidikan diafragma atau sebaliknya. Karena alat-alat visual tidak lebih dari permainan cahaya. Di dalam cahaya sebuah benda hanyalah akhir kebutaan yang ada di dalam benda itu sendiri. Misalnya, seorang pemabuk, melihat suatu kilatan cahaya dari kamera akan mengakibatkan efek pemancingan sensasi yang terbatas, memancing  emosi pemabuk yang mengganggu pikirannya atas pantulan cahaya dari sebuah obyek yang tidak nyata dalam bentuk halusinasi massa. Ilmu ukur pergerakan massa dari satu tempat ke tempat lain dengan kaidah-kaidah formal dengan apa yang disebut metri causa (meter adalah irama dari distansi-jarak). Setelah penilaian akhir, suatu revaluasi bentuk yang tersembunyi dianggap bukan sebagai seni yang menghangatkan jiwa, mencakup rentetan angka, simponi dan syair yang teratur dan menukik tajam. Melalui lensa kamera hanyalah obyek-obyek sebagai realitas spasial dengan garis dan lingkaran yang menyelemuti dirinya dalam bentuk geometri. Kebebasan hanyalah pantulan-pentulan tubuh bersama daya intelek, disamarkan oleh ketajaman sensasi mata; karena adanya ruang penglihatan dan pendengaran sensasi yang memisahkan, antara hal yang nyata dengan ilusi. 

Kini, kita telah menemukan diri kita di dalam kemabukan dan ketidaksadaran atas peristiwa diskursif muncul ex astris, scientia venit (dari bintang-bintang, datang pengetahuan), karena pengorbanannya, ia membuka aib kegelapan. Tidak ada kegelapan dari suatu artifak pengetahuan tanpa perpaduan rasionalitas atau irasionalitas. Peristiwa diskursif merupakan pembalikan atas permukaan yang melebihi energi voluptarie cogitationes (pikiran-pikiran yang menggairahkan) dan voluptate psychologica (gairah psikologi) dimanfaatkan untuk membedakan gejala dan pengidap neorosis, melankolia, skizoprenia, halusinasi dan ilusi dengan rasionalitas, idealisme, eksistensialisme atau metafisika dari filsuf dan pemikir di dunia Barat dan Timur.)

Pada saat alam terjaga dari determinisme khayalan, penyingkapan mimpi seorang penidur imajinatif mengitari citra-citra jiwa-birahi dalam kesamaran konstan sejenis kekuatan interioritas.  Dalam realitas, penyembuhan intuitif melewati kelemahan determinisme naif untuk melahirkan obyek hasrat, tata bahasa, nilai dan mimpi ilusif, memaksa diri melunakkan emosi, mengangkat kesadaran optiknya atas sebuah cermin penyanderaan hirarkisitas. Penandaan hasrat melibatkan ambigu baru dari para pesolek sensasional, terpasung diantara dua himpitan cermin, buram dan jernih yang dibuatnya sendiri. Kedua cermin ambiguitas dengan persfektif kegairahan tubuh menyelinap kedalam kesamaran birahi, terselimuti kegelapan yang memainkan suatu kebebasan gerak citra-citra mimpi yang menyelimuti bagian-bagian bahasa gairah dan pergolakan esoteris, mengizinkan sebuah lompatan masa depan yang tidak diketahui oleh pandangan supranatural sebagai pemandu ulung dari gambar-gambar tidak berseni dalam retorika persuasif.  “Aku tidak tidak meyakini bahwa saya berada di awan”, dari percikan mimpi birahi ilusif ini berlanjut terus kedalam lingkaran pemujaan tanda visual-birahi tubuh (bintang pornografi) bergantung sedikit pada desakan kepentingan birahi tubuh. Ia menjadi penerus keotentikan birahi yang bertugas untuk mematangkan proses penggairahan leksikal dengan ‘gramatikal kekudusan’ dan kepolosan ‘citra tubuh’ (tanda ikonik diperhitungkan dalam pernyataan-pernyataan dari relasi antara tubuh dan hasrat yang telah disamarkan dengan tinggi, ramping, cantik, mulus, luas, diameter) terbebas dari komposisi pemain drama komedian yang terbeli. 

Bagaimana mencermati taburan cahaya lampu jalan tidak sekedar eksis, lampu biasa yang diselimuti unsur-unsur fisik. Masih adakah cahaya dibalik dua bayangan lampu berpijar terang?  Pikiran mengenai cahaya optikal masih dihubungkan dengan tubuh atau penglihatan mata yang ditampilkan dunia indera. Cahaya sensasi yang ada pada diri kita merupakan bentuk tubuh setelah pikiran sebagai esensi mendahului identitas benda.  Kita telah mengarahkan pikiran tajam dengan kilatan tajam obyek lain menjadi kilatan cahaya jiwa yang melebur kedalam birahi-intelek. Ketika kita menerima sinyal-sinyal sederhana dari kesadaran diri untuk birahi-intelek, kita akan kembali ke semangat baru dengan waktu bergerak menembus tapal batas dunia fisik, suatu peristiwa jiwa sebelum dan setelah tubuh menikmati tubuhnya sendiri secara persepsi indera. Neo Platonik menggambarkan nafsu-birahi sebagai bagian dari struktur jiwa di bawah akal dan kehendak. Tetapi, pembacaan berlipat ganda tanpa batas, melihat sesuatu secara lebih terinci, bahwa kebenaran mengenai sesuatu dari hasrat untuk mengetahui. Jika kita tidak dapat memahami sesuatu dari birahi sebagai representasi diri, kita akan kembali memahami sesuatu hal dengan pikiran, mengapa ‘matahari’, ‘api’, ‘cermin’ atau seekor ‘kuda’ menimbulkan gaya-gaya solid dengan obyek .

Sambil menutup mata atau sebaliknya, ada seorang pemimpi atau pemabuk intelek dalam kegilaan.  Dalam ra furor brevis est (amarah adalah kegilaan yang singkat). Anehnya, amarah menerobos rambu-rambu kebutaan, ia dapat ditumpahkan kedalam tulisan, pidato, lukisan, bahkan kedalam kekuasaan politik. Asal-usul amarah tidak dapat ditukarkan, tetapi dipadamkan, digambarkan atau diarahkan di dalam hasrat melalui rasa benci terhadap sesuatu. Jenis amarah ini merupakan titik didih dari daya afektif (emosi) berhubungan dengan gairah atau hasrat yang dikoordinasikan terhadap tubuh, ilusi, amarah buta, dan balas dendam sebagai daya-daya yang saling berlawanan tidak terelakkan. Terutama jenis emosi ini: mengapa amarah tidak disebut sebagai kebajikan? Dalam pemikiran modern, Spinoza menafsirkan “amarah (ira) adalah hasrat melalui rasa benci yang kita hasut untuk mengusahakan kejahatannya dengan siapa kita benci” (1959 : 137). 

Sejauh ini, amarah tidak pernah memberikan landasan berpikir jernih atau menjadi suatu rententan pemikiran reflektif, dimana satu sisi pikiran menjauhi beban dari daya aktif yang jahat, sekalipun itu, ia dapat melupakan atau menghilangkan rasa sakit bertubi-tubi menderanya. Spinoza masih selalu mempertahankan amarah melalui sisi lain dari rasa benci dan cinta sebagai upaya melengkapi kaidah-kaidah kekerasan terhadap diri seseorang. Amarah adalah daya yang memiliki persfektif paling luas terhadap tubuh, dimana momentum rasa sakit atau kebencian ditunaikan. Di bawah kepucatan para pemimpi, bahwa amarah sebagai sifat paling tipikal yang membekukan sebuah pergerakan suatu perubahan tanpa kebebasan (reformasi) yang kebablasan. Akhirnya, segalanya berlipat ganda dalam peristiwa diskursif dan mesin.