Tips Kiai AR Fakhrudin agar Rumah Tangga Bahagia

KH. AR. Fakhruddin (Foto: republika.co.id)
KH. AR. Fakhruddin (Foto: republika.co.id)

KHITTAH.co, Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1968-1990, KH Abdur Rozak Fakhrudin, yang lebih dikenal dengan Pak AR, merupakan sosok teduh dan meneduhkan, sejuk dan menyejukkan. Selain dikenal sebagai muballigh yang selalu menebar rasa kasih sayang, dia juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Karya tulisnya banyak dibukukan untuk dijadikan pedoman bagi warga Muhammadiyah. Berikut ini tulisan beliau terkait pedoman suami-istri dalam menuju rumah tangga bahagia. Selamat membaca!

Pemuda-pemudi dari keluarga kalangan Muhammadiyah yang berniat mau menegakkan rumah tangga bahagia setelah pernikahan dilaksanakan, maka:

Pertama, kedua-duanya berniat karena Allah, atas dasar ibadah kepada Allah. Untuk menjaga dari perbuatan terkutuk menurut petunjuk Islam agama Allah, ialah zina.

Advertisement

Kedua, saling cinta mencintai atas dasar akhlak dan beragamanya masing-masing. Dengan keyakinan bahwa rumah tangga yang ditegakkan oleh suami istri yang taat patuh beragama dan berakhlak menurut petunjuk Allah, niscaya rumah tangga itu akan mendapatkan tuangan dan limpahan rahmat, barokah nikmat dan taufiq dari Allah.

Rumah tangga itu akan senantiasa aman damai sentosa. Kesukaran-kesukaran akan teratasi. Kusut dan selisih akan jernih. Silang sengketa akan beres. Musyawarah akan selalu menonjol dan bukan dikalahkan oleh saling tuduh-menuduh, masing-masing mencari benarnya dan menangnya sendiri-sendiri. Demikianlah, karena Rumah Tangga itu senantiasa diliputi, dinaungi, oleh sayap-sayap malaikat rahmat.

Ketiga, suami akan selalu senang dan gembira memberikan perlindungan, pengayoman kepada sang istri. Puas, karena telah dapat menyenang-nyenangkan, menggembirakan, meringankan, menyelamatkan, membahagiakan kepada sang istri yang telah dengan segala ketulusannya dicintainya itu.

Keempat, istri pun akan senang dan gembira karena telah dapat mewujudkan kebaktian pengabdian, pengorbanan kepada sang suami yang sangat dicintainya. Dilayaninya suaminya dengan baik, bukan karena mengharapkan dibelikan gelang dan kalung. Diaturnya rumah tangganya, sehingga menjadi bersih, rapih, teratur, harmonis, bukan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan suaminya, melainkan karena menyadari perintah Rasulullah saw bahwa istri mempunyai kewajiban, mempunyai tugas untuk menjaga, mengatur, memelihara rumah tangga suaminya.

Kelima, kedua-duanya menyadari bahwa fungsi pelindung, pengayom, penanggung, penjamin, pengrengkuh, tidaklah lebih tinggi atau lebih luhur dari pada fungsi berbakti, setia, menyerah dari masing-masing suami dan istri.

Kedua-duanya menyadari bahwa perbedaan fungsi, kedudukan dan kewajibannya masing-masing itu, disebabkan oleh berbeda-bedanya atau berlainannya khilqah kejadiannya, fisik, jasmani juga ruhaninya masing-masing. Mereka yang beriman tidaklah akan saling iri, saling dengki, saling hasud, bahkan bertambah kagum atas kekuasaan dan keagungan Allah, hingga mendorong bertambah syukurnya kepada Allah.

Sedang kalau ada kesulitan-kesulitan yang melanda, maka kedua-duanya pun sama-sama mendekatkan diri ke hadirat Allah, mengadu, mengaduh, meratap kepada Allah dengan sepenuh keyakinannya, akan pastinya datangnya pertolongan dan penyelesaian dari Allah Swt tanpa ragu-ragu.

Demikianlah rumah tangga bahagia yang dibina oleh suami istri Pemuda-Pemudi kalangan keluarga Muhammadiyah yang bertaqwa kepada Allah sebagai bekalnya, sebab mematuhi perintah Allah. “Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah bertaqwa kepada Allah Swt.”

(Catatan ini sudah disesuaikan dengan ejaan baru dari buku “Anggauta Muhammadijah”, (Jogjakarta: Pimpinan Pusat Muhammadijah, tanpa tahun, halaman 12-13)

Sumber: pwmu.co