Today a Reader, Tomorrow a Leader

Ilustrasi (wiki How) 

Oleh: Agusliadi Massere

KHITTAH.CO, Opini – Cara dahsyat Prof. Ahmad Najib Burhani (Cendekiawan muda Indonesia, peneliti senior LIPI dan Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP. Muhammadiyah) mengekspresikan kekaguman dan mengapresiasi potensi luar biasa putri pertamanya adalah dengan memposting sebuah tulisan melalui media sosial: facebook. Pada bagian yang dipandang sebagai judul, tertulis “Today a Reader, Tomorrow a Leader”. Terjemahannya kurang lebih “hari ini (sebagai) seorang pembaca, besok (sebagai) seorang pemimpin.

Bagi saya, apa yang dituliskan oleh Prof. Najib, bukan hanya sekedar judul, bahkan bisa dikategorisasikan sebagai sebuah “maksim” atau “motto”. Tetapi setelah saya membaca berulang-ulang judul tersebut, bisa melampaui dari sekedar dua kategorisasi yang terakhir. Ini adalah sebuah “idiom” bahkan sebagai “prinsip”.

Advertisement

Sebagai idiom dan prinsip, hal tersebut mengandung makna mendalam—lebih dari sekedar pemahaman secara harfiah—dan mengandung sebuah energi yang menggerakkan bahkan memberikan pedoman/tuntunan kemana dan bagaimana cara melangkah. Hal tersebut langsung menggugah kesadaran dan intelektulitas saya, seperti menemukan sesuatu yang sudah lama dalam pencarian di alam mental.

Saya berani menyimpulkan bahwa idiom dan prinsip di atas “today a reader, tomorrow a leader” jika kita menyingkap sejarah perjalanan panjang kehidupan, maka banyak fakta yang membuktikan kebenarannya. Satu contoh nyata saja, dalam konteks kehidupan Indonesia sebagai nation-state, para founding fathers adalah mereka semua masing-masing para pembaca yang baik. Hanya saja, saya pun berani menyimpulkan bahwa kita kurang menyadari hal tersebut, betapa besarnya implikasi dari sebuah kebiasaan membaca dan pembacaan yang baik.

Agar lebih menggugah kesadaran, saya membuat formulasi baru, dengan menggunakan “logika terbalik”. Jika kita ingin menjadi pemimpin hari ini, maka kita harus mampu menjadi pembaca pada hari–hari sebelumnya. Dan jika ingin menjadi pemimpin yang terbaik maka kita harus mampu menjadi pembaca yang baik. Lalu bagaimana, dengan adanya orang-orang yang dipandang sebagai pemimpin dengan kecerdasan yang tidak diragukan dan ini berarti bahwa mereka adalah para pembaca, tetapi kenyataannya tetap saja menjadi pemimpin yang tidak sesuai harapan, misalnya melakukan korupsi?

Bisa disimpulkan bahwa pemimpin yang dimaksud, bukanlah pemimpin yang sekaligus sebagai pembaca yang baik. Dan kesadaran ini pulalah yang selama ini tenggelam dalam lumpur peradaban. Menyebabkan banyak pemimpin, malas membaca dan memilih cara instan. Artinya apa? Bahwa saya pun mengakui ada seseorang yang menjadi pemimpin tanpa perlu “membaca”, apalagi jika kita memahami jenis-jenis faktor sosiologi seseorang menjadi pemimpin. Ada pemimpin hanya bercokol pada modalitas material dan popularitas orang tua dan/atau keluarga semata.

Dari awal saya menyebut—salah satunya—sebagai “idiom” karena yang harus dipahami bahwa membaca di sini bukan dalam makna harfiah semata. Tetapi “membaca” di sini,—sebagaimana atau meminjam istilah yang Haidar Bagir lekatkan pada aktivitas baca-tulis Hernowo—sebagai “gerak hermeneutik”. Membaca bukan hanya berorientasi literal-lahiriah (eksoterik) tetapi termasuk dan terutama orientasi batiniah (esoterik).

Kebiasaan membaca hari ini, adalah modal besar untuk menjadi pemimpin pada hari esok. Apalagi jika ingin menjadi pemimpin yang baik atau terbaik, sesuai harapan mayoritas. Saya menarik sebuah kesimpulan dari apa yang dipahami oleh Hernowo dari Sindhunata atas pergulatan pemikirannya dengan berbagai pakar tentang “membaca” (2004:195-201). Membaca adalah mekanisme psikis yang menggerakkan segala instrument atau piranti yang dibutuhkan dalam menjalani hidup. Apalagi jika hidup yang dimaksud bukan hanya hidup dalam konteks vegetatif dan animalia, tetapi hidup dalam rangka pencarian the meaning of life (meminjam istilah Asratillah).

Pemimpin yang secara sederhana minimal sebagai pemimpin diri sendiri, yang dalam perspektif “konsep diri” yang saya rumuskan, wajib juga melaksanakan satu fungsi yakni kepemimpinan. Dan berbeda dengan defenisi pada umumnya dalam ilmu management, kepemimpinan di sini secara sederhana saya memaknainya mengarahkan segala potensi diri untuk ke arah positif. Dalam konteks yang sederhana ini saja, itu membutuhkan mekanisme psikis: membaca.

Menjadi pemimpin di masa yang akan datang, adalah sesuatu yang mustahil jika sejak dini, tidak membaca. Baik membaca potensi diri sendiri—yang hasil inner journey saya—sangat luar biasa. Termasuk membaca ilmu pengetahuan melalui buku, membaca peta sosiologis, geopolitik dan lain-lain.

Jika sejarah adalah kristalisasi pengalaman hidup yang mengandung ibrah, semuanya tidak akan bermakna, sia-sia tanpa membaca. Ada banyak hal yang kata kuncinya adalah membaca. Sebagai contoh ketika petuah sakti Walt Disney, “if you can dream it, you can do it” tidak akan bisa dilakukan proses internalisasi ke dalam benak untuk menjadi energi jika tidak membaca. Begitpun pikiran Stephen Covey yang dikutip oleh Hernowo “apabila Anda mau mengubah diri Anda secara efektif, ubahlah lebih dahulu persepsi Anda tentang diri Anda”—jika tidak membaca? maka mustahil.

Banyak hal yang bermuara pada kerusakan tanpa memilih aktor, disebabkan lebih pada kurangnya membaca, tidak tuntas dan/atau keliru dalam membaca. Tidak sedikit pimpinan dalam sebuah jabatan formal, komunitas, organisasi atau apapun penamaan dan pada level yang lebih besar melakukan kekeliruan, menimbulkan kerusakan karena kesalahan/kekeliruan dari hasil pembacaan.

Sama halnya, siapapun dia, jika hari ini—dalam konteks kehidupan Indonesia sebagai nation-state—lalu masih mengusung tema dan isu mengganti Pancasila sebagai ideologi, dasar atau falsafah negara, maka bisa dipastikan ada kekeliruan dalam proses membaca. Minimal keliru membaca pemaknaan Pancasila dan keliru membaca peta sosiologis Indonesia dengan realitas sosial dan kemajemukan menjadi keniscayaan di dalamnya.

Begitupun intoleransi yang mewarnai kehidupan, dan termasuk radikalisme dan terorisme adalah sebuah hasil pembacaan yang keliru. Minimal keliru membaca, bahwa perbedaan adalah rahmat. Selain itu termasuk keliru dalam membaca diri, bahwa dalam diri kita ada sejenismeminjam yang dikutip oleh Haidar Bagir dari John Henry Newman, Aristoteles dan Shindunata—(proses) pendidikan rahsa, illative sense, dan phronesis.

        “Illative sense adalah bagian intelektual manusia yang dapat mengandaikan kompleksitas suatu objek, dan adanya pelbagai kemungkinan manusia mengambil sikap terhadap objek tersebut”. “Phronesis dari Aristoteles, yakni semacam kebijaksanaan untuk mengakui segala keterbatasan pengetahuan kita, tanpa kehilangan kepastian bahwa kita dapat berbicara tentang kebenaran”. (Haidar Bagir, 2020: 37). Pendidikan rahsa itu sejenis Illative sense. Jika ini kita mampu menyadarinya melalui membaca atau pembacaan yang baik, maka intoleransi, truth claim, sikap takfiri tidak akan pernah terjadi tanpa perlu menafikan pendirian untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan perspektif masing-masing.

Membaca adalah ruh kehidupan. Membaca adalah key word menuju kesuksesan dan kebahagiaan apapun konteks zaman yang sedang mengitarinya. Membaca adalah modal besar menggapai impian. Jika Allah telah berjanji akan memberikan keunggulan kepada orang beriman dan berilmu (QS. Al Mujadalah [58]: 11). Ternyata bagi saya cara terbaik untuk memiliki keduanya adalah dengan membaca.

Jika memahami perspektif Hamzah Fansuri (2013)—kami memanggilnya Kak Ancha dan menjuluki filsuf muda—bisa disimpulkan bahwa pada mulanya spekulasi diskursif tentang manusia dan kemanusiaan, meskipun penuh dengan hal kontroversial dan titik tumpu kebijaksanaan masing-masing, itu berawal dari sebuah aksara. Bahkan menurut Kak Ancha “manusia pun ada dalam, dan melalui rahim aksara”. Dan dalam diskursif semiotik, manusia berada dalam jaring-jaring teks dan tanda.

Kita berada dalam semesta aksara, maka dibutuhkan mekanisme: membaca. manusia harus mampu menjadi pembaca untuk melakukan aktivitas membaca. Dan jika saya harus menyimpulkan, ada satu hal yang ditegaskan oleh Kak Ancha dalam torehan narasinya yang penuh “kedalaman makna” bagaimana kita mau dan mampu melepaskan diri dari pretensi dan hasrat “agar benar atau pasti benar”. Mungkin ini selaras dan relevan dari apa yang diungkapkan Haidar sebagaimana dikutip dari Newman, Aristoteles dan Shindunata di atas. Selain daripada itu Kak Ancha tidak hanya pada kesadaran tentang eksistensi “aksara”, dan “membaca”, tetapi selanjutnya “menulis”.

Sudah sangat tepat sehingga dalam agama Islam, perintah yang pertama kali diturunkan adalah Iqra (membaca) sebagaimana QS. Al-Alaq [95]: 1-5. Menurut Quraish Shihab dalam perintah membaca di dalamnya mengandung kemampuan meneliti, mendalami, mengetahui. Lalu apa yang harus dibaca? Quraish Shihab menegaskan untuk membaca kitab, membaca alam, membaca tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis.

Bahkan Quraish Shihab menegaskan—sebagai aksentuasi terhadap urgensi dan implikasi:

“Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. ‘Membaca’ dalam aneka maknanya adlaah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan.” (Quraish Shihab, 2013:7)

Dan ada hal yang perlu dipahami dari penegasan Quraish Shiab:

“Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-ulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulangi bacaan Bismi Rabbika (demi karena Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca itu-itu juga.” (Quraish Shihab, 2013:6)

Apa yang ditegaskan terakhir oleh Quraish Shihab ini relevan dengan apa yang diistilahkan oleh Haidar Baqir dalam Hernowo (2009) sebagai “gerak hermeneutik” siklis. Dan saya pun pernah menemukan pesan filosofis bahwa apapun yang diulang-ulang, selain menimbulkan efek dahsyat yang mengikuti law of attraction dari “habits” juga seringkali melahirkan sebuah hal “intuitif”. Melahirkan pengetahuan yang melampaui dari proses praksis dalam realitas empirik.

Meskipun kita telah menyadari urgensi dan implikasi luar biasa dari mekanisme psikis yang disebut “membaca”, tetapi kita tidak pernah menjadi a Reader. Maka semuanya juga sia-sia. Marilah kita menjadi a Reader, Insya Allah pada masa yang akan datang kita akan menjadi a Leader.

Untuk menunjang dua hal membaca dan menjadi pembaca, maka saya masih berkeyakin proses instrument terbaik adalah buku. Dan saya sendiri demi hal ini, telah membangun sebuah komitmen koleksi buku sejak 2004 sampai sekarang. Dan Alhamdulillah jumlah koleksi buku saya sudah 955 eksamplar, dengan beragam genre, termasuk—yang sebagian orang melihat judul saja langsung “anti” atau “menolak”. Demikian percikan perspektif di antara samudera diskursus tentang “membaca” dan/atau “pembaca”

Penulis adalah Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng dan saat ini menjabat sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018-2023.