USAI BERTANDING, MARI BERSANDING

Oleh : Hadi Pajarianto (Pegiat Literasi)

KHITTAH.CO- Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

Seantero jagat nusantara, baik  dunia maya maupun nyata, dalam hari-hari ini dimeriahkan oleh hajatan elektoral yang bernama Pilkada. Sadar atau tidak, hingar bingar pilkada telah menusuk seluruh jantung kehidupan masyarakat Indonesia. Tak ada satu ruangpun yang tersisa. Pilkada menjadi perbincangan hangat, bahkan panas di semua tempat, di warung kopi, kantor, kampus, masjid, bahkan di kamar-kamar pribadi suami istri-pun, pilkada menjadi tema utama. Pilkada seakan menjadi “agama baru” yang memiliki dua kekuatan utama, yaitu sebagai faktor kekuatan daya penyatu (centripetal) dan faktor kekuatan daya pemecah belah (centrifugal). Lihatlah kerumunan manusia yang jumlahnya ribuan, dipersatukan oleh persamaan pilihan, padahal mereka di masa lalu adalah musuh bebuyutan.

Di sisi lain, tengoklah dinding kehidupan bertetangga banyak yang retak dihantam dampak pilkada. Pertemanan menjadi renggang, perdebatan berujung unfriend, teman menjadi musuh, musuh menjadi teman. Tidak dapat dihindari, berbagai Isu mulai dari personaliti kandidat sampai pada SARA, menikam jantung pertahanan soliditas masyarakat yang dibangun dengan susah payah. Tikaman bertubi tersebut, ada kandidat tepuk tangan, tertawa riang karena mendapat angin segar, ataupun senyum kecut karena merasa dipojokkan.

Segregasi sosial jelang pilkada, sulit dikontrol, ritual agama-pun relatif tidak mampu mengendalikannya. Ramadhan sampai Idul Fitri, ternyata tidak mengurangi syahwat untuk saling membuka aib dan keburukan orang lain. Entah berapa trilyun caci maki, ujaran kebencian, SARA, dan praktik kotor membuat sebagian orang semakin “muak” dengan politik. Para cerdik pandai berpesan, agar masyarakat menjunjung tinggi kebersamaan, dengan menekankan aspek Sentripetal bukan aspek sentrifugal. Sentripetal adalah pergerakan dari luar ke titik tengah sedangkan Sentrifugal adalah pergerakan dari tengah keluar. Tetapi, faktanya pergerakan agenda politik praktis saat ini bukan lagi dari luar ke tengah, atau dari tengah ke luar, tetapi zigzag tak beraturan dan menabrak norma sosial dalam masyarakat. Proses komunikasi sosial khususnya di dunia maya, minus Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge’, atau tenggang rasa. Semua hanya menjadi norma langit yang berlaku pada malaikat, tak berguna bagi manusia.

Salah satu pendekatan dalam menyelesaikan segregasi sosial, adalah rekonsiliasi sosial (Maddison, 2015), atau rekonsiliasi hati. Rekonsiliasi menghendaki adanya transformasi dari kondisi sosial yang penuh konflik ke situasi yang damai. Pendekatan rekonsiliasi mensyaratkan adanya kesadaran baru untuk mengakhiri perseteruan dan persaingan yang tidak sehat. Rekonsiliasi mensyaratkan tumbuhnya kesadaran baru bahwa permusuhan dan konflik yang berkepanjangan tidak akan bermakna apa-apa bagi kehidupan sosial kemasyarakatan, kecuali justru menjadi aral bagi transformasi sosial. Rekonsiliasi memungkinkan konflik diakhiri dengan penuh kesadaran, melucuti arogansi yang mungkin ada pada setiap kelompok, dan berlangsung berdasarkan prinsip kesetaraan sebagai sesama anak bangsa.

Pilkada telah usai, tentu menyisakan kegembiraan, plus “luka” dan kekecewaan yang masih memerah. Para elit dan semua pihak di negeri ini, hendaknya memulai agenda “rekonsiliasi hati” dengan pesan verbal dan tindakan yang menyejukkan tanpa merendahkan pihak lain. Ada yang memberi ucapan selamat, bercengkerama, dan saling support adalah bentuk paling mudah untuk dilakukan, agar masyarakat di tingkat akar rumput cepat memulai hidup bersama dalam bingkai persaudaraan. Persaudaraan dan kebersamaan harus dikedepankan, dan kepentingan rakyat harus menjadi pijakan bersama. Karena, hakikat perlombaan, adalah upaya menemukan kebermaknaan diri tanpa sedikitpun menyisakan keluh, peluh, kesah dan resah pada yang lain, apalagi menyebabkan disintegrasi sosial.

Kenapa rekonsiliasi hati pasca pilkada penting? Karena tidak lama lagi, hajatan puncak Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden akan digelar di tahun 2019. Jika tidak ada jeda, mungkin rasa saling curiga dan dendam kebencian yang tidak mendapatkan momentum untuk dipertemukan dalam suasana damai, akan memuncak pada Pilpres 2019, membahayakan integrasi nasional. Kesadaran inilah yang harus dibangun dan dilakukan oleh para elit, agar secepatnya saling merangkul. Proses Pilkada yang masih sementara berlangsung, biarlah menjadi tanggungjawab penyelenggara, diawasi Bawaslu dan rakyat, dikawal oleh aparat keamanan.

Pertandingan telah usai, saatnya bersanding bekerja membangun dan memajukan kampung sesuai dengan profesi masing-masing. Memperpanjang “pertandingan” pada palagan yang lain, justru akan menghabiskan energi. Masih baguslah jika hanya energi para paslon sendiri yang habis, tetapi jika mengoyak persaudaraan masyarakat secara luas, tentu ini sikap tidak elok dan membahayakan. Sebagai bangsa yang berbudaya dan beragama, marilah menguatkan sandaran pada falsafah budaya dan agama yang tidak mentolelir permusuhan, apalagi dalam waktu berkepanjangan. Tak Perlu sempit pikir, jika jasad kita enggan berdekatan, biarlah hati, ide, dan gagasan yang saling berpelukan. Mari membangun kampung. wallahua’lam bishawab.

Catatan: artikel ini pertama kalinya dimuat pada Harian Pagi Palopo Pos