Ziggy dan Sebuah Buku Yang Mengatakan Laki – laki itu Monster


Oleh: Syahrul Alfaraby

KHITTAH.CO – Tak ada anak yang pernah meminta dilahirkan ke dunia. Tapi juga mungkin, tak ada manusia yang menyesal lahir ke dunia. Kelahiran, seperti kata Heidegger, adalah keterlemparan ‘Ada’ pada dunia. Manusia hadir di dunia sebagai sesuatu yang begitu saja. Keterlemparan itu akhirnya membuat sesuatu yang cacat, retak, dan tak mungkin kita hilangkan ; kecemasan (Angs).

Saya suka menyebutnya sebagai penderitaan atau kesedihan. Dua kata itu seperti sebuah kutukan yang mengikuti perjalanan kisah manusia. Orang-orang seperti Eric Church, misalnya, hendak membunuh kata semacam itu dalam lirik lagunya ‘Kill The Word’. Tapi tentu saja itu mustahil. Sehingga tak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain menerima dengan keterbukaan hati dan pikiran. Atau dalam istilah Heiddeger, “keterbukaan pada dunia”. Sebuah Pasivitas Bijak kata F. Budi Hardiman.

Ava atau Salva mungkin terlambat menyadari kutukan itu. Tokoh novel dalam Tanah Lada yang ditulis Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie adalah representasi ‘penanya’ unik. Dia hadir sebagai kanak – kanak yang hidup dalam dunia ideal kamus bahasa Indonesia yang penuh rasa ingin tahu. Maurice Natanson menyebutnya sebagai a science of beginnings, orang yang bersikap pemula pada segala sesuatu. Hal yang penting kita miliki pada zaman dimana segala sesuatu tertutupi dengan ratusan penampakan-penampakan yang kabur.

Bagi Ava, kebahagiaan hadir dalam imajinasi. Kata – kata selalu berarti petunjuk pada sebuah kebahagiaan. Meskipun realitas retak disana sini. Tetapi realitas itu dibangun di antara puing-puing kata dan aksara.
Kebahagiaan inilah yang (selalu) direnggut oleh orang dewasa. Dia bisa siapa saja. Dia bisa seorang Ayah, Ibu, sahabat atau siapapun itu. Mereka para orang tua terkadang merampas imajinasi itu dengan logos. Bahwa dunia hanya dibentuk oleh segala yang rasional. Kebahagiaan, bagi anak-anak mereka, adalah selalu tentang apa yang mereka yakini sebagai kebahagiaan. Titik.
*

Kesan pertama yang pembaca akan rasakan ketika membaca novel ini mungkin adalah rasa mual. Ziggy melancarkan kritik pada maskulinitas laki-laki dengan begitu telanjang. Saya dibuat ingin muntah membaca segala alur cerita pada novel ini. Tokoh ‘Papa’ (ayah Ava) hanya diceritakan dengan narasi yang penuh kekerasan dan kebencian. Dia menampar istri dan anaknya, mengatakan ‘jalang, anak haram, berteriak dan menjerit ketika marah, atau seperti yang dinarasikan Ziggy – mata melotot, kumis bergoyang dan hidung mendengus – dengan keras ketika marah . Laki laki dalam deskripsi Ziggy seperti monster yang menguasai segalanya.

Ziggy betul – betul memberikan pukulan paling telak bagi karakter ‘Papa’ atau laki-laki dalam novel ini. Saya berani mengatakan demikian. Tak ada pembelaan yang seimbang bagi kaum laki-laki. Meskipun tokoh perempuan diframing sebagai makhluk yang penyayang, tetapi kasih sayang itu kadang alpa. Kasih itu kadang luput atau hilang dalam proses tumbuh mereka.

“Ibuku memang menyayangi aku, kata Salva, tetapi dia kadang lupa bahwa dia memiliki seorang anak”. Orang tua, laki laki dan perempuan, memang selalu punya rasa kasih dan sayang pada anaknya, tetapi hal itu kadang muncul pada saat sang anak telah jatuh pada ‘penderitaan’ atau ‘kesesatan’.

Pepper atau tokoh Lada, yang direpresentasikan sebagai anak laki-laki yang paling dipercaya oleh salva juga bertindak hal yang sama. Lewat Pepperlah imajinasi Salva mulai tergerus oleh logos. Dari sana, sedikit namun pasti, karakter mendominasi wacana laki-laki mulai tumbuh dan mengambil kuasa. Alih – alih, Salva hidup dengan kata-kata bersama kamus dan neneknya di kampung, Pepper justru tak memberinya alternatif lain selain kematian. Tentu saja tragis. Hal itu jadi penutup yang brilliant dalam novel ini. Tapi tetap saja menyedihkan.
*

Tanah Lada begitu ciamik menampilkan karakter dan penceritaan. Kisah beberapa hari itu bisa dikemas dalam bahasa unik yang sangat formalistis. Unik sebab menampilkan karakter lugu seorang anak yang begitu tergila gila pada bahasa Indonesia (sehingga kemana mana membawa kamus). Formal sebab selalu menampilkan makna literal atau tekstual sesuai makna dalam kamus bahasa Indonesia pada setiap dialognya.

Dengan demikian, membaca Ziggy bukan hanya membaca tentang kritik kekerasan dalam rumah tangga dan pada anak-anak yang didominasi oleh laki – laki, tetapi lebih jauh lagi, membuat kita harus lebih berbangga diri dalam mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia itu sendiri.

Takalar, 2019