Aktualisasi Ideologi Gerakan dalam Mengkonstruk Kepemimpinan Profetik Menuju IMM FEB yang Transformatif

Kahar

Oleh: Kahar

 – Ketua Bidang Organisasi Pikom IMM Fakultas Ekonomi Unismuh Makassar periode 2013/2014.
– Sekretaris Umum PC IMM Kabupaten Takalar 2014-2015.
– Ketua Umum Pikom IMM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar periode 2014/2015.
– Ketua Umum PC IMM Kabupaten Takalar periode 2015-2016
– Ketua Bidang Organisasi DPD IMM Sulsel 2016-2018
– Sekretaris Umum DPD IMM Sulsel 2016-2018

KHITTAH.CO — Pengertian Ideologi
Istilah ideologi pertama kali diperkenalkan oleh filsuf berkebangsaan Francis yaitu Destutt de Tracy. Ideology menurut Tracy adalah gabungan dua kata yaitu Ideo yang artinya ide, cita-cita, melihat, memandang dan Logie yang artinya logika atau rasio. Sehingga arti ideologi dapat juga didefinisikan sebagai seperangkat ide yang membentuk keyakinan dan paham untuk mewujudkan cita-cita manusia.

“Ideologi bukan ibarat baju yang bisa dipakai atau digantungkan menurut musim. Bukan pula untuk disembunyikan di bawah bantal. Ideologi mengandung norma-norma, titik-tolak, motivasi, pendorong dan sumber-sumber tenaga untuk gerak melaksanakan program. Bagi masing-masing pejuang, ideologi sudah lama tertanam dalam bathin mereka, ada yang bersifat transendental melalui wahyu ilahi, ada pula sebagaian hasil pemikiran manusia yang sudah bersejarah. Ideologi dan program adalah dua sisi dari mata uang yang satu”. (M. Natsir)

Menurut Frans Magnis Suseno, ideologi merupakan keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan. Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut.

Singkatnya adalah ideologi adalah kesepakatan dan kesepahaman bersama dalam suatu komunitas masyarakat tentang suatu obyek yang diyakini dan diperjuangkan bersama. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah salah satu komunitas masyarakat yang memiliki kesepahaman dan kesepakatan bersama untuk mewujudkan tujuan mulia Muhammadiyah yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran agama islam sehingga terwujud masyarakat islam yang sebenar-benarnya.

Ideologi  Gerakan IMM
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan salah satu eksponen Muhammadiyah (baca : ortom), yang telah mendeklarasikan diri melalui deklarasi kota garut yang kemudian dikenal dengan istilah enam penegasan IMM. Berikut penulis kembali merefleksi enam penegasan yang dimaksud :
1. IMM adalah gerakan mahasiswa Islam
2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
3. IMM adalah Eksponen Mahasiswa dalam Muhammadiyah
4. Fungsi IMM adalah organisasi yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah Negara
5. Ilmu adalah amaliah dan amalan adalah ilmiah
6. Amal IMM adalah Lillahi Ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat
Refleksi terhadap deklarasi tersebut dalam konteks kekinian adalah proses pengamalan dan pengejewantahan nilai-nilai yang ada dalam setiap poin penegasan tersebut. Hal itu lahir atas sebuah kesadaran moril terhadap kondisi bangsa secara umum dan kondisi persyarikatan dan Ikatan secara khusus. Kondisi bangsa yang masih latah dalam menafsirkan era globalisasi, era millennium dan era revolusi industry 4.0, menjadi suatu hal yang menjadi tanggungjawab secara kelembagaan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai bentuk kesadaran untuk semakin mengokohkan semangat awal kelahiran IMM itu sendiri.

Upaya memahami ideologi gerakan IMM merupakan hal yang sangat penting. Apabila ditelisik, persoalan ideologi merupakan pusat kajian ilmu sosial. Namun hingga kini, kajian tentang ideologi khususnya dalam gerakan mahasiswa sangat minim. Maka, identitas ideologi IMM yang niscaya terefleksikan dalam praksis gerakan IMM perlu dikaji. Identitas ideologi IMM dapat tercermin dalam sebuah rumusan identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang juga merupakan rumusan ideologi IMM.

Berikut penulis kembali memperbaharui ingatan kita terhadap identitas IMM yang telah usang termakan zaman.
1. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak dibidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah
2. Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memantapkan gerakan dakwah ditengah-tengah masyarakat, khususnya dikalangan mahasiswa
3. Setiap anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, harus mampu memadukan kemampuan ilmiah (intelektual) dan aqidahnya (spiritual)
4. Oleh karena itu, setiap anggota harus tertib dalam beribadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketaqwaan dan pengabdiannya kepada Allah SWT.

Poin mendasar yang dapat kita jadikan ukuran dari identitas tersebut adalah adanya penyatupaduan dan penyatalaksanaan gerakan IMM yaitu; gerakan Keagamaan, gerakan kemahasiswaan, dan gerakan kemasyarakatan. Artinya adalah setiap kader dan pimpinan IMM mesti bergerak dalam kerangka acuan gerakan IMM.
Ideologi gerakan IMM ini lahir dari Trikompetensi dasar yang melekat dalam diri seorang kader yaitu komptensi Spritual, Intelektual, dan kompetensi Humanitas. Ketiga kompetensi ini menjadi suatu kewajiban yang harus melekat dalam diri seorang kader dan pimpinan IMM kapan dan di manapun mereka eksis. Level Pimpinan Komisariat mesti melekatkan potensi itu dalam menjalankan amanah kepemimpinannya dalam berkomisariat, artinya adalah setiap pimpinan komisariat harus memiliki nilai-nilai spiritual yang lebih baik dari mahasiswa pada umumnya, setiap pimpinan komisariat harus memiliki tingkat intelektual yang lebih mumpuni dari mahasiswa pada umumnya, dan pimpinan komisariat mesti punya kepekaan social yang lebih tinggi dari mahasiswa pada umumnya.

Kepemimpinan Profetik
Banyak literature yang dapat kita jadikan acuan untuk mendefinisikan arti kata profetik. Dari asal katanya profetik berasal dari “profhet” yang berarti nabi, secara istilah profetik berarti An-nubuwwah/semangat kepemimpinan ala nabi dalam hal ini kita nisbahkan kepada kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.
Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan penghambaan manusia kepada manusia lainnya menjadi penghambaan hanya kepada Allah semata. Kuntowijoyo dalam tafsir kritisnya terhadap Alquran surah Al-Imran :110 mengatakan bahwa kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membawa misi humanisasi, liberasi dan transendensi.
Kuntowijoyo menafsirkan kepemimpinan profetik yang pertama adalah “ta’muruna bil ma’ruf”, yang diartikan sebagai misi humanisasi yaitu misi yang memanusiakan manusia, mengangkat harkat hidup manusia, dan menjadikan manusia bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya. Kepemimpinan profetik yang kedua adalah “tanhauna ’anil munkar” yang diartikan sebagai misi liberasi, yaitu misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan. Kepemimpinan profetik yang ketiga adalah “tu’minuna Billah” yang diartikan sebagai misi transendensi, yaitu manifestasi dari misi humanisasi dan liberasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.

Menurut hemat penulis Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan “ala kenabian” yaitu Fathonah, Amanah, Tabligh dan Siddiq. Mari kita kontekstualisasikan makna dari keempat sifat tersebut. Pertama, sifat fathonah yaitu sifat mensyaratkan manusia yang menjadi pemimpin harus cerdas dalam segala hal. Yang kedua adalah Amanah, sifat ini mensyaratkan pemimpinnya tidak meninggalkan amanah di tempat yang semula lalu mengejar amanah ditempat lain yang kadar dan kualitasnya sama hanya karena sumber daya yang ada tidak memadai. Contoh kasus adalah ketika ada seorang pimpinan IMM yang memiliki amanah dalam sebuah struktur lalu meninggalkan demi amanah yang sama dalam tempat yang berbeda. Dalam pandangan penulis itu merupakan sikap oportunis yang didasari dengan kerakusan dan pragmatisme. Ketiga adalah sifat Tabligh merupakan instrumen kepemimpinan yang mensyaratkan bahwa apa yang baik harus disampaikan dengan hikmah (baca : tegas dan konsisten), lalu menjadi pertanyaan adalah kebaikan apa yang harus disampaikan kalau pemimpinnya mengabaikan amanah (kebaikan)?. Ke empat adalah Siddiq yaitu sikap jujur terhadap diri sendiri, orang lain dan terhadap amanah itu sendiri. Jujur adalah perilaku Nabi yang mengantarkan beliau mendapat gelar Al Amin atau terpercaya. Lalu bagaimana cara mempercayai seorang pemimpin yg lari dari amanah?.

Gerakan Transformatif IMM
Istilah Transformasi bisa ditemukan dalam buku Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam. Dalam buku tersebut terdapat beragam istilah diantaranya Transformasi Politik, dan Transformasi Budaya. Istilah ini juga muncul pada trend pemikiran Islam yaitu “Teologi Transformatif” (Sosialisme Demokrasi Islam) tetapi pandangan yang hendak di sampaikan pada tulisan ini bukan pemikiran teologi transformatif tetapi Gerakan Dakwah yang didasari semangat Transformasi melalui tatanan masyarakat secara utuh dan menyeluruh.
Gerak langka transformatif bagi level Pimpinan komisariat, Pimpinan Cabang, Dewan Pimpinan daerah dan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah mewarisi semangat dakwah transformatif dari Rasulullah SAW. Beliau berhasil membuat tatanan masyarakat dari segala aspek baik itu aspek ideologi, politik, social, budaya, ekonomi, pendidikan bahkan system keamanan negara dan struktur negara.
Semangat itulah yang mesti dirawat kembali oleh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai bentuk penegasan atas kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Pelantikan yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar dengan tema “Aktualisasi Ideologi Gerakan dalam mengkonstruk Kepemimpinan Profetik Menuju IMM FEB yang Transformatif” merupakan upaya untuk menumbuhkan kembali kesadaran dakwah transformatif yang telah ditanamkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Tema tersebut sangat seksi menurut penulis mengingat kondisi gerakan mahsiswa khususnya IMM itu sendiri yang mengalami kegamangan dan kelatahan dalam bergerak. Sehingga muncullah pertanyaan bahwa bentuk transformasi seperti apa yangb hendak dilaksanakan oleh Pimpinan Komisariat FEB Unismuh Makassar satu periode kedepan?, langkah dan strategi apa yang hendak dicetuskan oleh pimpinan periode ini untuk menanamkan kembali semangat dakwah transformasi ditengah-tengah masyarakat kampus yang pragmatis, oportunis, dan terkesan hedon dalam era Industri 4.0 ini?. Sikap optimisme dan harapan itu kita serahkan sepenuhnya kepada para pimpinan yang akan dilantik semoga betul akan membawa IMM FEB menuju transformasi yang bias melahirkan tatanan yang lebih di Fakultas Ekonomi.

Tulisan ini saya nisbahkan sebagai nalar kritis dan kesadaran atas nama kader menjelang pelantikan Pikom IMM FEB Unismuh Makassar, kalaupun tulisan ini pada akhirnya hanya dianggap sebagai angin lalu yang tak perlu digubris maka saya serahkan sepenuhnya kepada sang pemilik Alam semesta.
Wallahu A’lam bissawab.