Bahas Literasi Digital, Pascasarjana Unismuh Hadirkan Tiga Pakar

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Seminar Nasional dan Call for Papers 2022. Seminar ini mengangkat tema “Literasi Digital di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 ”.

Perhelatan ilmiah ini digelar secara luring dan daring. Acara luring digelar di Aula Fakultas Kedokteran Unismuh, Jl Sultan Alauddin Makassar, Kamis, 13 Januari 2022.

Narasumber seminar yakni Prof Dr Mansyur Ramly (Ketua Dewan Guru Besar UMI), Prof Akhsanul In’am PhD (Direktur PPs UMM Malang), dan Prof Dr Usman Mulbar (Pengurus PGRI Provinsi Sulawesi Selatan).

Kegiatan Seminar ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation of Agreement (IA) dengan beberapa mitra.

Dalam sambutannya, Direktur Program Pascasarjana Unismuh Dr Darwis Muhdina mengatakan, kegiatan ini menghadirkan beberapa pakar agar dapat meningkatkan wawasan terkait disiplin ilmu yang sedang digeluti.

Hal ini, ungkap Darwis, juga amat penting untuk peningkatan kualitas civitas akademika. Oleh karena itu, pihaknya mengadakan kegiatan ini.

Sementara itu, Rektor Unismuh Prof Dr Ambo Asse berharap agar makalah yang disajikan peserta dalam Seminar Call for Paper nantinya dapat dimuat di jurnal dan prosiding yang terakreditasi, baik nasional maupun internasional.

Pentingnya Literasi Digital

Dalam paparan materinya, Prof Akhsanul In’am mengungkapkan bahwa literasi digital merupakan kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital.

Kerangka literasi digital terdiri dari Digital Skill, Digital Culture, Digital Ethic, dan Digital Safety.

Digital Skill, ungkap Prof Akhsanul adalah kemampuan mengetahui, memahami dan menggunakan perangkat keras dan lunak dalam kehidupan sehari-hari.

“Sedangkan Digital Culture adalah kemampuan membaca, menguraikan, membiasakan dan membangun peradaban sesuai dengan konteks masyarakat,” ungkap Direktur PPS UMM ini.

Menurut Akhsanul, literasi digital juga meniscayakan etika digital, atau kemampuan menyadari, menyesuaikan diri, dan mengembangkan tata kelola etika digital

Hal yang takkalah penting diperhatikan saat ini, ungkapnya, adalah digital safety, atau kemampuan menganalisis, menerapkan dan meningkatkan kesadaran data probadi dan keamanan digital.

Narasumber lainnya, Prof Dr Mansyur Ramli mengulas tentang konsep Society 5.0. Konsep tersebut ungkap Ketua Dewan Guru Besar UMI ini, yaitu suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi yang saat ini dikembangkan oleh Jepang.

“Konsep ini lahir sebagai pengembangan dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia. Melalui Society 5.0, kecerdasan buatan akan mentransformasi big data yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan (the Internet of Things),” jelas Ketua BAN PT 2012-2017 ini.

Ia menambahkan, hal tersebut menjadi suatu kearifan baru, yang akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan.

Sementara itu, Prof Usman Mulbar menyoroti tantangan di era digital saat ini. Menurut dia, tantangan paling kuat dari literasi digital adalah arus informasi yang banyak.

“Artinya masyarakat terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. Dalam hal inilah literasi digital berperan, yakni untuk mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat,” ungkap Pengurus PGRI Sulsel ini.

Tantangan lainnya, kata Prof Usman, adalah konten negatif. “Contohnya konten pornografi, isu SARA, dan lainnya. Kemampuan individu dalam mengakses internet, harus dibarengi dengan literasi digital,” jelas Prof. Usman.

Lanjut dia, dengan begitu, individu bisa mengetahui, mana konten yang positif dan bermafaat serta mana konten negatif,” papar Guru Besar UNM ini (rls/Fikar).