Bangga Menjadi Putra Nasyiatul ‘Aisyiyah (Catatan Milad ke-94 Nasyiah)

Ditulis oleh :

Muhammad Furqan Ramli
Putera Nasyiatul Aisyiyah/Alumni IPM

KHITTAH.co,– Saya bangga lahir dari seorang aktivis Nasyiah, sehingga memilih pendamping pun dari Nasyiatul ‘Aisyiyah.

Beberapa hari yang lalu, saya hadir dalam resepsi Milad 94 tahun Nasyiatul Aisyiyah di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Sangat bahagia rasanya, bisa menjadi bagian dari perjuangan dan keteguhan para aktivis perempuan muda Muhammadiyah ini.

Euforia kebahagian dan ikatan kekeluargaan itu berhasil membuatku tenggelam dalam sebauah memori masa kecil.

Ada sosok perempuan muda mengayuh mesin jahit dengan sangat khidmat menyanyikan mars Nasyiatul Aisyiyah, kadang-kadang matanya sembab menahan air mata.

Dialah Ibu dengan kebiasaanya, Siti Aisyah Muhammad seorang aktivis Nasyiatul ‘Aisyiyah Enrekang tahun 80-an.

Meski sibuk menjadi aktivis Nasyiatul ‘Aisyiyah, ibu tidak pernah lupa dan mengabaikan tugasnya di keluarga, baik sebagai istri bagi almarhum ayah, maupun bu bagi kami, anak-anaknya.

Meskipun di tahun-tahun itu feminsime belum ramai diperbincangkan, tetapi ibu telah jauh membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa memiliki peran besar dalam masyarakat dan keluarganya.

Seringkali, ibu membantu tugas almarhum ayah sebagai kepala keluarga dengan berbagai usaha yang ibu tekuni. Salah satunya adalah menjahit.

Namun, tak pernah sekalipun ibu merasa superior dari ayah. Ibu selalu menghormati almarhum ayah sebagai suami dan kepala keluarga.

Bagi ibu, kebahagian keluarga akan mudah dicapai jika suami dan istri bisa berbagi peran.

Peran ibu dalam keluarga semakin terasa vital ketika ayah berpulang (wafat). Ketika itu, umur saya masih belia.

Saya meyaksikan bagaimana kegigihan ibu yang saat itu telah single parent menghidupi kami berlima.

Meski demikian, sekali lagi, keadaan tersebut tidak mengurangi semangat ibu ber-Nasyiatul ‘Aisyiyah.

Ibu, bagi kami dan saya pribadi adalah madrasah hidup. Tidak pernah dalam sehari, ibu tidak mengarjarkan kami nilai-nilai hidup.

Hal yang paling saya ingat, semasa masih di Enrekang adalah tentang toleransi dan humanis.

Ibulah yang selalu berpesan, hargailah orang lain, siapapun, dan dari manapun asalnya. Hargailah pendapat meskipun berbeda, sambutlah dengan baik semua perbedaan karena peradaban berubah dan berkembang, Namun tetaplah teguh dalam syariat Islam.

Dari ibu juga, kami belajar organisasi. Sejak kecil, rumah telah menjadi ruang pengaderan yang ibu modifikasi untuk mendidik karakter kami.

Dari situ, ibu mengenalkan tokoh-tokoh pembaharu Islam, macam Rasyid Ridha dan Muh Abduh, sesuatu yang jarang diajarkan seorang ibu lain kepada anaknya.

Selaras dengan tema milad 94 tahun Nasyiatul ‘Aisyiyah yakni “Merawat Damai, menggelorakan semesta”, kedamaian hanya dapat dirawat jika perempuan-perempuan telah mandiri dan paling utama terlepas dari bayangan gelap patriarki yang mendominasi.

Saya ingin meluruskan, saya bukan pembela feminisme dan bukan pula seorang patriarki. Hal yang ingin saya katakan adalah dalam humanism, kedudukan perempuan dan laki-laki setingkat.

Namun, ada garis yang tidak boleh dilanggar oleh keduanya yang kita sebut sebagai kodrat. Garis itu juga setidaknya membatasi, namun tidak mengurangi peran keduanya.

Dalam kehidupan yang sering dipraktikkan kedua orang tua saya, mereka berbagi peran dan saling melengkapi, berperan sesuai fungsi dan tanggung jawab.

Kenapa perempuan? Sebab perempuan telah lama didistorsi perannya sebagai manusia.
Mengapa perempuan harus dikembalikan haknya dalam masyarakat, merdeka atas dirinya dan perannya?

Perempuan merupakan instrumen penting dalam kemajuan peradaban. Beberapa fakta sejarah mempelihatkan kita bagaimana evolusi peran perempuan dari zaman ke zaman memberi dampak positif pada peradaban bangsa dan agamanya.

Tidak salah jika kemandirian perempuan menjadi salah satu upaya yang perlu kita usahakan bersama-sama untuk merawat kedamaian.

Saya memiliki beberapa pengalaman organisasi bahwa peran perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan organisasi. Ini sebab kemampuannya dalam meredakan konflik dengan instrumen yang tidak dimiliki laki-laki.

Terakhir, saya ingin berterima kasih dan rasa syukur telah lahir dari rahim seorang aktivis Nasyiatul ‘Aisyiah dan besar oleh didikannya.

Semasa kecil, senang dan bahagia sekali mendengar Ibu Siti Aisyah Muhammad bernyanyi mars Nasyiatul ‘Aisyiah sambil kedua tangannya sibuk dengan bahan jahitannya.
Meski telah jauh dari ibu dan aktivitasnya yang kurindukan, tidak membuat kebahagian itu berkurang, justru rasanya bertambah.

Yah, kemarin, di resepsi milad Nasyiatul ‘Aisyiah di UAD, saya mendampingi istri, Monica Subastia seorang aktivis Nasyiatul Aisyiah.

Sekarang, dia menggantikan ibu menyanyikan lagu mars Nasyiatul ‘Aisyiah di rumah. Sekali lagi, terima kasih Nasyiatul ‘Aisyiah telah memberi dua kader terbaik, ibu yang telah melahirkan saya, dan istri yang insya Allah melahirkan anak-anak peradaban.

*