Benang Merah Syariat Para Nabi dan Rasul Terkait Udhuhiyah

Dr Ir Nurdin Mappa

Ditulis oleh:

Dr Ir Nurdin Mappa

(Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel

KHITTAH.co, Sudah menjadi fakta bahwa umat manusia telah terpola menjadi berbagai suku atau  bangsa. Setiap  suku atau bangsa memiliki identitas tersendiri, seperti warna kulit, rambut, dan mata, serta bentuk tubuh.  Pola seperti inii telah diatur oleh Allah, sebagaimana disampaikan dalam Alquran Surah Al-Hujurat:13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs. Al-Hujrat: 13).

Manusia pada dasarnya berasal dari keturunan yang satu, seorang laki-laki dan seorang prempuan yaitu  Adam as dan istrinya Hawa as.

Oleh karena itu, hakikat manusia ini adalah umat yang satu. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 213.

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. … (Qs. Al-Baqarah:213)

Manusia  awal  sampai manusia terakhir kelak yang akan lahir, semua diciptakan oleh Allah Yang Maha Esa.

Dia pula yang telah mengutus para Nabi dan Rasul, mulai dari Nabi Adam as sampai kepada Nabiulllah Muhammad Saw sebagai penutup para Nabi dan Rasul.

Karena itu, bukan hanya umat ini yang satu, akan tetapi para Nabi dan Rasulpun diutus oleh Allah Swt.  membawa Risalah yang sama yaitu Agama Islam.

Agama Islam ini, inti ajaranya adalah mengesakan Allah Swt. Sebagaimana disampaikan dalam Alquran bahwa tidak diutus seorang Rasul sebelum Nabi Muhammad Saw, kecuali menyampaikan tentang tauhid yaitu tidak Tuhan selain Allah subhana Wataalah.

Hal ini diungkapkan dalam Surah Al-Anbiya:25

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.(Qs. Al-Anbiya;25).      

Oleh karena itu, kepada semua Nabi dan Rasul, umat Islam wajib mengimani, dan tak boleh dibedaka-bedakan antara satu dengan yang lain. 

Bagi umat Islam, mereka para Nabi dan Rasul adalah utusan Allah yang membawa risalah yang sama dengan Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surah Ali-Imran:84.

قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan Hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri.” (Qs. Ali-Imran:84).

Diutusnya para Nabi dan Rasul untuk misi yang sama, yakni menunjukkan bahwa agama para Nabi dan Rasul adalah sama yaitu agama Islam.

Ini karena mereka diutus oleh Allah, yang agama di sisi-Nya, hanyalah Islam, sebagaimana dijelaskan Alquran bahwa agama di sisi Allah hanyalah Islam, yang dijelaskan dalam Surah Ali-Imran:19.

 Bukti bahwa ada benang merah ajaran Allah yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam As sampai kepada Nabiullah Muhammad Saw, di antaranya adalah ibadah Haji dan Uduhiyah (Kurban).  

Dalam Alquran, disampaikan bahwa syariat berkurban pertama kali diperintahkan kepada anak Adam As yaitu Habil dan Qabil, sebagaimana disampaikan dalam Alquran Surah Al-Maidah aya 27.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Qs. Al-Maidah:27).     

Peristiwa kurban yang dilakukan oleh Habi dan Qabil adalah perintah pertama berkurban yang dilakukan oleh umat manusia. Mereka berdua adalah generasi pertama dari Adam as. 

Syariat berkurban kedua dilakukan oleh Nabi Ibrahim as, yang diperintahkan oleh Allah Subhana Wataalah untuk menyembelih anaknya, padahal anak Nabi Ibrahim  adalah anak yang sangat diidam-idamkan, anak yang lama dinanti-nantikan, bahkan anak yang lahir dengan rapalan doa-doa Nabi Ibrahim, sebagaimana disampaikan dalam Surah As-Shaafaat:100.

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh (Qs. As-shafaat:100).

Ketika anak yang diminta-minta oleh Nabi Ibrahim lahir lalu tumbuh menjadi penyejuk pandangan matanya (Qurrata yu’n), datanglah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim as dalam bentuk mimpi untuk menyembelih anaknya.

Ia berkata kepada anaknya, wahai anakku, aku diperintahkan oleh Allah dalam tidur untuk menyembelih kamu. Coba kamu berpikir bagaimana pendapatmu.

Dengan penuh rasa percaya diri, anaknya (Ismail as) menjawab: “Wahai Bapak, kerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah. insya Allah engkau dapati aku dalam kondisi sabar.”

Ibrahim lalu membawa anaknya bersiap menggerek lehernya, lalu Ibrahim diseru oleh Allah: “Ya Ibrahim, kamu sudah membenarkan mimpimu. Sesungguhnya ini adalah cobaan yang nyata, lalu Allah mengganti anaknya dengan kibas yang besar (Qs. As-Shaffat:101 – 111).   

Alhamdulillah, satu kasih sayang Allah yang luar biasa, karena Nabi Ibrahim tidak jadi menyembelih anaknya.

Jika jadi, maka akan membuat repot kita selaku umat Islam. Oleh karena, kelak di kemudian hari, setelah Rasululah diutus oleh Allah, syariat berkurban juga diperintahkan kepada Nabiullah Muhammad Saw dan umatnya.

Allah Subhana Wataalah menyampaikan dalam Surah Al-Hajj:34.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ

 Dan bagi tiap-tiap umat Telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang Telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, Karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Qs. Al-Hajj:34).

Keberlanjutan syariat berkurban kepada Nabiullah Muhammad Saw disampaikan oleh Allah Subhana Wataalah dalam Surah Al-Kautsar ayat 1-3.

Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah[1605]. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus[1606]. (Qs. Al-Kautsar:1-3).

Pelaksanaan ibadah kurban ini dilaksanakan setiap bulan haji, yaitu mulia tanggal 10 Zulhijjah, ditambah 3 hari taysriq

Oleh karena itu, bagi kita yang memiliki kemampuan menjadi muakkad untuk melaksanakannya, bahkan ada ulama yang mewajibkan dengan alasan hadis:

عَنْ أبِي هُرَيْرَة: َأنَّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا (رواه أحمد وابن ماجه)

 Artinya : “Dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami” . (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

Bagi orang yang tidak mampu, maka posisinya adalah menerima daging kurban dari orang yang berkurban, sehingga dalam syariat ini yang terjadi adalah take and give.

Berkurban adalah salah satu wujud kesyukuran akan  nikmat yang diberikan oleh Allah yang telah menganugrahkan nikmat yang begitu banyak bahkan saking banyaknya kita tidak mampu untuk menghitungnya (Qs. An-Nahl:18). 

Karena berkurban sebagai wujud kesyukuran, maka yakinlah bahwa harta orang yang berkurban akan senangtiasa dilipat gandakan oleh Allah Subhana Wataalah.

Ini karena orang yang syukur akan nikmat Allah akan ditambahkan nikmat-Nya kepadanya, sebagaimana Allah sampaikan dalam Surah Ibrahim ayat 7.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ ٧

 Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(Qs. Ibrahim :7).

Demikianlah orang-orang yang besyukur dengan cara berkurban tak akan jatuh bangkrut atau miskin, malah Allah berjanji akan menambah nikmatnya kepada orang yang berkurban.

Sebaliknya orang yang pelit, kikir, tidak mau berkorban padahal memiliki kemampuan, diancam dengan azab yang pedih.

Semoga kita semua termasuk orang yang mengsyukuri nikmat Allah subhana Wataalah, Amiin!