Berlapanglah dan Tetap Istiqamah dalam Ber-Islam

Oleh: KH Zainal Muttaqin (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tana Toraja)

Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah? Maka beliau bersabda,

“Al Hanifiyyah As-Samhah”

وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ الحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ ( صحيح البخاري )

“Ahabbu ad-din ilallah al-hanafiyyatu as-samhatu.” Artinya, “Agama yang paling dicintai Allah adalah (yang bercirikan) lurus dan lapang (toleran)”.

Pengertian agama yang lurus (al-hanafiyyah) dan lapang (as-samhah) adalah agama yang mempunyai karakteristik ringan dan mudah, bersifat Rif’ah (berkepribadian yang luwes tidak kaku ,setia dan penyayang.

Dalam beribadah ta’at pada aturan dan Mutaba’ah (mengikuti contoh Nabi saw).

Nabi saw ,melarang dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran islam untuk: tasaddud (berlebihan), perfeksionis, pesimistik, dan beribadah sepanjang waktu tanpa menimbang waktu yang telah dijaduwalkan oleh Tuhan.

Padahal, Tuhan telah memilah waktu yang memang secara kondisi fisik dan psikologis , mendukung untuk beribadah, di antaranya waktu pagi, siang, dan malam hari. Sabda Nabi Saw,.

” … وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ( هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُوْنَ ) . رواه مسلم . المتنطعون المتعمقون المشددون في غير موضع التشديد

Halaka al-mutanatthiˊun.” Celakalah orang yang berlebih-lebihan, yaitu orang yang mengambil tindakan keras dan berat, tapi tidak pada tempatnya.

Dalam hadits dari Abu Hurairah ra. disebutkan,.

عن أَبِي هريرة  النَّبيّ ﷺ قَالَ: إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، ولنْ يشادَّ الدِّينُ إلاَّ غَلَبه فسدِّدُوا وقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، واسْتعِينُوا بِالْغدْوةِ والرَّوْحةِ وشَيْءٍ مِن الدُّلْجةِ رواه البخاري

”.Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw bersabda: “Sungguh agama Islam ini mudah. Tidak satupun orang yang mempersulit/memperkeras agama ini, kecuali ia akan terkalahkan. Berlaku benarlah (dalam kata dan perbuatan), saling mendekatlah, dan gembirakanlah, serta bermohonlah pertolongan (kepada Allah) di waktu pagi, sore, dan sedikit dari malam.” (HR. Bukhari,)

الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“al-hanafiyyah as-samhah” menjadi titik tolak dan indikator umum yang diberikan Nabi Saw tentang bagaimanakah model dan corak ber-Islam yang harus kita aplikasi-praksis dan kontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Titik tolak “al-hanafiyyah as-samhah” dimulai dari penggalan kata dalam hadits di atas, “fasaddidu.” yang mengarahkannya pada makna “untuk tidak berlebihan”.

Ibnu Hajar Al-Asqalani yang menukilkannya pada makna at-tawasuth fil-‘amal (pertengahan dalam perbuatan) tidak ektrim dan tidak radikal. Sebagaimana sabda Nabi Saw,          

خَيْرُ الْأُمُوْرِ أوْسَطُهَا

“Khairul-umuri ausatuha”, sebaik-baik urusan ada di pertengahannya..

“ausatuha (at-tawasuth)”. Secara bahasa, at-tawasuth berakar dari kata wasath yang berarti segala yang baik sesuai dengan objeknya. Sesuatu yang berada pada posisi di antara dua ekstrem. Misalnya, keberanian adalah pertengahan sifat ceroboh dan takut.

Dari sini, kata wasath (wasathiyah) berkembang maknanya menjadi tengah, yang dalam bahasa sekarang lebih dikenal dengan istilah ‘moderat’.

Seseorang yang menghadapi dua pihak berseteru dituntut untuk menjadi wasith (wasit) dan berada pada posisi tengah agar berlaku adil. Sehingga, lahirlah makna ketiga wasath, yaitu ‘adil.

Moderat atau adil dalam beragama dapat disimpulkan sebagai sikap untuk meletakkan ketentuan-ketentuan agama pada tingkatannya yang adil, baik dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya..

Tetap ber-istiqamah artinya tetap berpegang teguh kepada ajaran islam (i’tisham bi hablillah), dan Tadayyun (perilaku keagamaan), yang memahami adanya perbedaan idiologi dengan orang lain, (perilaku Tasamuh) atau adanya sikap toleransi dalam keberagaman dan tetap konsisten dalam ber-iltizam (komitmen pada ajaran agama).

akan menjadi dasar pijakan dalam mengarungi hidup dan  kehidupannya dalam situasi dan kondisi apapun.

اللّه اعلم بالصّواب