Dialog Pra-Musyda, IMM Sulsel Bincang Politik

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Panitia pelaksana Musyawarah Daerah (Musyda) Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah (IMM) Sulsel menggelar dialog pra-musyda di Warkop 27 Makassar, Sabtu 27 Januari 2018.

Dialog tersebut, dihadiri puluhan peserta dengan mengusung tema “Meneropong Arah Kepemimpinan 2019”.

Ketua Panitia Musyda, Darmawansyah, menyebutkan, bahwa tujuan dialog dilaksanakan ini adalah untuk menyemarakkan pelaksanaa  Musyda yang tinggal beberapa pekan lagi.

Sementara itu, Fatmawati (Aktivis IMM), dalam paparannya mengatakan, semua orang diizinkan untuk berpolitik, baik politik praktis maupun politik Al-Ma’un.

Akan tetapi, menurut dia, yang diutamakan di IMM adalah politik Al-Ma’un yang artinya bahwa kita bisa berpolitik tapi harus melihat di sekitar, yaitu bisa menghidupkan orang-orang miskin.

“Ketika ada kader IMM menonjolkan dirinya sebagai calon ketua itu sah-sah saja. Tapi kita perlu ketahui bahwa di IMM memilih calon formatur bukan memilih calon ketua. Yang terpenting juga adalah pelaksanaan politik Al-maun, politik yang memperhatikan kehidupan kaum miskin,” kata Fatmawati.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulsel, Yusran Sofyan, yang juga hadir sebagai pembicara, mengungkapkan, bahwa dalam politik, siapa saja bisa terjung.

Akan tetapi, ia menegaskan, ketika pemuda mau berpolitik hari ini harus mandiri, harus produktif. Artinya, pemuda harus memperlihatkan eksistensinya sebagai harapan bangsa.

“Pertanyaannya kembali pada diri sendiri, apakah mampu tidak merubah diri pemuda. Yang harus kita ubah dari diri pemuda adalah bagaimana bertahan hidup. Kalau sudah bisa bertahan hidup atau mandiri maka mari berpolitik. Mulai hari ini, berani tidak pemuda menghadap sama orang tuanya bahwa mulai saat ini jangan lagi biayanyai kulliah saya?” ujar Yusran.

Sementara itu, moderator, Abd Gafur, menambahkan, bahwa terkait adanya issu calon ketua umum di IMM, maka itu boleh-boleh saja.

“Karena kita ketahui bersama teman-teman sekalian, bahwa semua yang mencalonkan formatur adalah calon ketua umum dan konsekuensinya sebagai calon formatur ketika ditunjuk sebagai ketua umum dalam rapat formatur maka harus siap. Begitu pun kalau saya ditunjuk, saya harus siap,” tutup Gafur (*)