Dikdasmen PWM Sulsel: Sekolah Unggul dengan Ismuba!

KHITTAH.CO, Makassar- Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan mengumpulkan 98 kepala sekolah dan madrasah naungannya, di Lynt Hotel, Jumat, 30 September 2022.

Sekretaris Majelis Dikdasmen PWM Sulsel, Panca Nur Wahidin mengatakan, ini sebagai upaya penguatan kapasitas para kepala sekolah sehingga dapat menghadirkan perubahan yang lebih baik di lembaga pendidikan yang dipimpin.

“Sebenarnya, ini penyegaran bagi Bapak, Ibu. Semoga setelah dari sini, lahir kepala profesional yang mampu mengelola sekolah Muhammadiyah yang memajukan pendidikan bagi warga, masyarakat kita,” kata dia.

Saat memberi laporan dalam Penguatan Kepala Sekolah/ Madrasah Muhammadiyah se-Sulsel ini, Panca menyampaikan bahwa para pembicara nantinya akan berbicara terkait hal-hal substansial saja.

“Fokusnya pada peningkatan kompetensi manajerial, supervisi, kewirausahaan, dan kompetensi sosial, serta kompetensi kepribadian yang beorientasi pada ideologi Muhammadiyah. Kita garis bawahi, kepribadian Muhammadiyah,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen PWM Sulsel, Thamrin Taha mengungkapkan, pihaknya seringkali mendengarkan keluhan kepala sekolah terkait jam mata pelajaran Al-Islam Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab (Ismuba).

“Katanya, terlalu banyak jam pelajaran, apalagi kalau SMK. Di mana bisa diterapkan ini Ismuba? Ditegaskan, Ismuba ini tidak harus diajarkan mandiri. Bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran lain,” ujar Thamrin.

Ia mencontohkan, pelajaran terkait bumi bisa diintegrasikan dengan ayat Quran yang membahas terkait itu.

“Kalau tidak begitu, macetlah kita. Ini kan sekolah Muhammadiyah. Saya ingatkan, Ismuba itu silakan disebar, itu cirikhas, unggulan kita. Kalau itu tidak diajarkan di sekolah kita, tidak tahu bagaimana jadinya,” kata dia.

Ia juga mengingatkan kepada hadirin terkait proyeksi pendidikan abad 21. Tiga komponen dalam proyeksi tersebut harus terus diaplikasikan.

Ia mengatakan, dengan kurikum Ismuba ini komponen pertama yakni pembentukan karakter, telah nyata diupayakan dalam sehari-hari di sekolah, terlebih Muhammadiyah. Karena itu, dia menekankan keunggulan muatan lokal lembaga pendidikan Persyarikatan ini.

Terkait, delapan standar pendidikan di sekolah, Thamrin menegaskan, para kepala sekolah harus fokua dengan standar tersebut.

“Tidak usah pusing bikin program lain. Itu saja yang dibuat matriksnya. Silakan cari apa masalahnya, solusi bagaimana, bagaimana eksekusinya, dananya dari mana, siapa bertanggung jawab, buatkan narasinya, insya Allah, kita bisa ini.”

Ia kembali mengingatkan, di sekolah atau madrasah Muhammadiyah, delapan standar tersebut ditambah satu menjadi sembilan, yaitu Ismuba.

“Ini keunggulan kita. Sembilan ini harus selalu kita jaga, baik sekolah, termasuk pesantren Muhammadiyah, apa pun namanya itu pesantren, tetap naungan Dikdasmen menurut aturan PP Muhammadiyah,” tegas Thamrin.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua PWM Sulsel, Mustari Bosra mengamanahkan, lembaga pendidikan Muhammadiyah seharusnya menjadi unggulan dan yang terbaik.

Hal ini sesuai dengan perintah Quran yang sering dikaji oleh warga Muhammadiyah yakni Al-Imran ayat 110.

Kuntum khaira ummah ini kan maknanya kita umat terbaik. Karena itu, kita harus mengoptimalkan potensi. Muhammadiyah ini secara organisasi punya potensi yang sangat besar, tinggal kita yang harus memanfaatkan itu,” ujar dia.

Para pengelola lembaga pendidikan Muhammadiyah harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Kata dia, yang diperlombakan saat ini, adalah keunggulan positif.

“Karena khaerat pada fastabiqul khairat, juga merujuk pada harta, kekayaan, properti. Kalau kita, jamakkan, menjadi kompetisi secara sehat untuk meraih keunggulan. Harus ada semangat untuk tsabiq,” tutup dia.