Dilarang Membunuh Ular Kobra, Sebuah Refleksi Milad ke-61 IPM

Ditulis oleh:

Fadli Dason

Ketua Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PW IPM Sulsel

KHITTAH.co, Usia ke-61 tahun IPM. Sebagai poros perjalanan sejarah, maka patut diperhitungkan bahwa organisasi ini telah mengambil langkah dalam catatan pembangunan bangsa.

Seperti dengan manusia yang mengingat masa lalunya sehingga ingatannya menyejarah dan mewaktu, begitu pun ingatan refleksi masa lalu mengenai organisasi, ia akan menyejarah.

Jika manusia menyejarah pada perjalanan psikologi dan spritualnya yang individualistik, maka organisasi menyejarah pada perjalanan sejarah, catatan hadirnya untuk bangsa ini yang bersifat kolektif dan sosio-kultural.

IPM dengan usia 61 tahun terbilang produktif, tetapi tidak terlalu tua. Kilas balik poros sejarahnya adalah pergelutan dengan periode zaman yang tidak menguntungkan.

Ada upaya mati-matian demi pernapasan yang lebih panjang. Seperti dengan induknya, yakni Muhammadiyah yang bergelut pada zamannya dengan badai ribut dan lautan yang tidak tenang.

Sebagai kader IPM yang melakukan refleksi di semarak Milad kali ini, seharusnya kita tidak abai dan memang sepantasnya serta sudah saatnya untuk condong ke watak kritis.

Sudah saatnya, sikap penghambaan kita terhadap kemapanan atau status quo dihilangkan. Ini karena IPM terlahir dengan membutuhkan perjuangan yang murni, bahkan pernah terombang-ambing.

Atas alasan itu, maka sepatutnya organisasi ini kini perlu diapresiasi dengan perjuangan yang sama ketika didirikan.

IPM di usianya ke-61 tahun, sudah sepatutnya menjadi tolok paradigma gerakan nasional yang bercorak sosial-keagamaan.

Di usia ke-61, sepertinya cukup berlebihan jika Milad kali ini disemarakkan dengan megah dan mewah. Usia ini lagi-lagi perlu diapresiasi dengan perjuangan, maka dari itu bukan dengan membuat acara muluk-muluk luar biasa mewah perayaannya tapi dirayakan dengan sebuah tindakan maupun aksi nyata!

Coba cermati baik-baik! Sama seperti manusia ketika menemukan jalan hidupnya dan menemukan apa yang dicarinya dengan usahanya sendiri, tidak pernah memikirkan apakah usahanya telah berlalu lama atau baru saja terjadi.

Namun sayangnya, ketika orang itu merasa puas dan berpikir telah menemukan apa yang dicarinya, di situlah ia berhenti berusaha.

Begitupun dengan berorganisasi, kita lebih memilih adem-ayem pada kemapanan organisasi yang telah besar ketika kita mengenalnya, yang tidak semapan awal pendiriannya.

Respons atas Ular Kobra

Meskipun Anda pawang ular yang mampu menjinakkan ular kobra namun suatu saat, ular itu akan menyerangmu !

Berbeda dengan kebanyakan ular, kobra tidak pernah gentar. Apapun yang dianggap musuh, ia akan menyerang. Ini karena bagi kobra, musuh dianggap sebagai ancaman. Demi melanggengkan kehidupannya, kobra juga senantiasa menyerang musuh-musuhnya.

Ketika di hadapan Anda terdapat ular kobra, tanpa berpikir panjang, Anda pun merasa terancam, sehingga spontan menyelamatkan diri dengan menghindar ataupun menyerangnya (membunuhnya).

Ketika Anda memilih untuk menyerangnya dengan alasan bahwa Anda merasa terancam, Anda pun adalah ular kobra.

Anda dan ular kobra memiliki kesamaan. Tanpa berpikir panjang juga, Anda pun sangat yakin bahwa sengatannya dapat membuat Anda dilarikan ke rumah sakit, bahkan sampai ko-id.

Respons ini berasal dari pengalaman, baik Anda dengarkan kisah orang yang pernah diserang atau mungkin pengalaman sendiri.

John Locke (1632-1704) merupakan salah satu tokoh empirisme terpenting. Ia mengatakan dalam magnum opus-nya A Treatise Of Human Understanding, bahwa ketika bayi dilahirkan dia tidak memiliki pengetahuan.

Bayi seperti tabula rasa atau kertas putih kosong yang dapat diisi hanya melalui pengalaman, sehingga menekankan peran indera dalam memperoleh kebenaran.

Kendati seperti itu, meskipun kita bersepakat bahwa sengatan kobra menimbulkan sensasi efek tertentu terhadap kulit, tetapi menghasilkan dampak yang berbeda-beda terhadap korban. Ada yang masih selamat setelah disengat kobra, ada juga yang ko-id.

Apa yang menyebabkan nya berbeda? Pertanyaan ini mengandaikan bahwa sebenarnya empirisme tidak selalu menang.

Viktor E. Frankl dalam karyanya berjudul “Man’s Search For Meaning”, menceritakan pengalamannya ketika berada dalam kamp-kamp NAZI .

Kamp itu sungguh mencekam. Ini karena melihat beberapa tahanan jatuh bergelatakan karena sakit dan sesaat kemudian ko-id.

Namun, Viktor E. Frankl berasumsi bahwa sebagian besar histeris tahanan, jatuh sakit, dan kematian disebabkan oleh depresi, yakni keputusasaan atas hidup yang dijalaninya.

Para tahanan melihat tidak adanya harapan lagi untuk hidup ataupun selamat dari kamp Auschwits dan kamp-kamp konsentrasi lainnya.

Namun Viktor E. Frankl selamat! Seandainya Viktor menjalani hari-harinya di sana, seperti yang dijalani oleh para tahanan lain, kemungkinan dia juga dapat menjadi depresi dan tidak selamat.

Apakah karena mental yang lebih kuat dibandingkan tahanan lain, ataukah adanya kekuatan dalam diri Viktor yang juga seharusnya dimiliki oleh tahanan lain?

Ketika kita mengatakan bahwa keselamatan itu disebabkan oleh mental, maka ia berkaitan dengan subyektif dan itu wilayahnya rasionalisme.

Rene Descartes (1596-1650) merupakan pendiri Rasionalisme. Dia mengatakan, terkadang indera itu menipu, sehingga tidak dapat diandalkan.

Seperti pertanyaan, mengapa korban sengatan kobra sebagian selamat dan sebagian tidak selamat, yang menyebabkan kita mepertanyakan pengalaman, menurut Descartes, kebenaran itu hanya didapatkan melalui rasio.

Ini disebabkan, hanya rasiolah yang mampu menghilangkan keraguan. Bagi Descartes, kebenaran itu ketika keraguan tidak berdaya, yakni pengetahuan yang tidak ditemukan adanya keraguan di dalamnya. Descartes pun menyimpulkan, “Cogito Ergo Sum”, “aku berpikir maka aku ada”.

Begitu juga dengan kekuataan sebagai wilayah intuisionisme yang dipopulerkan oleh Henri Bergson. Menurut dia, intuisi adalah salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi bagi manusia.

Bergson berpendapat bahwa indera dan rasio sama-sama memiliki keterbatasan dan kekurangan, sehingga pengetahuan yang lengkap hanya dapat diperoleh dengan adanya intuisi.

Namun, apapun itu, menyelamatkan diri dari sengatan ular dan kamp-kamp konsentrasi adalah tindakan kebaikan. Maka dari itu, ia merupakan tindakan moral. Asumsi dasar epistemologi moral tak pernah luput oleh pencarian kebenaran.

IPM dan Ular Kobra

IPM, di usianya ke-61, telah melewati fase yang paling menonjol, yakni bergelut dengan ular kobra zaman. Fase tersebut, salah satunya yakni pada Masa Orde Baru.

Pada masa Orde Baru, IPM terombang-ambing. Harus memilih untuk menyelamatkan diri atau selesai. Tentu, usaha untuk menyelamatkan diri terlihat ketika dibentuknya tim perumusan pergantian nama.

Orde baru adalah ular kobra yang dianggap selalu menyerang yang dianggapnya musuh. Apakah karena merasa kekuasaannya terancam? Ataukah membubarkan IPM dengan alasan OSIS karena IPM dianggap ancaman?

Sebagai kader IPM sudah seharusnya kita menyengat kepala sendiri agar terpacu dalam berpikir. Kita harus membiasakan diri, dan pembiasaan ini tidaklah mudah. k

Kita harus lebih dahulu menyusuri jalan gelap, yakni berlatih secara konsisten. Bukan abai dan nyaman oleh kemapanan dan sekedar mengisi struktural.

Bagaimanapun, Orde Baru yang bagai ular kobra, memberi IPM pilihan untuk selamat dengan cara licik yakni kelicikan yang paling anggun dan indah.

Kini, akankah kita menyelamatkan diri dari ular kobra selanjutnya, tanpa membunuh Si ular kobra?