Ditegur Lagi, Muhammadiyah Harus Serius Dakwah di Dunia Maya

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Dakwah digital Muhammadiyah di dunia maya harus seiring dengan lekatan ‘berkemajuan’ dan ‘organisasi modern’ Persyariakatan ini. Lekatan tersebut harus dipertanggungjawabkan.

Terlebih, lekatan itu digembar-gemborkan secara massif, paling tidak, selama satu abad ini.

Ternyata, lekatan tersebut disebabkan oleh struktur dan manajemen organisasi Persyarikatan ini. Sejak awal, mekanisme organisasi ini berjalan dengan menerapkan budaya organisasi modern.

Muhammadiyah bahkan tidak segan meniru total sistem atau gaya orang-orang Barat yang dianggap lebih maju.

Lekatan organisasi modern itu masih bisa membuat kita berbangga diri, paling tidak, hingga era 80-an. Sebenarnya, era 90-an dan awal 2000-an, kita masih bisa bernapas lega, meski ada sengal.

Sejak era awal berdiri, Muhammadiyah menerbitkan majalah sebagai sarana dakwah. Era 80-an, Muhammadiyah masih mengudara di frekuensi radio, menyebarkan dakwah.

Awal Mula Dakwah Digital Muhammadiyah

Terkhusus Muhammadiyah Sulsel, tercatat bahwa Muhammadiyah memiliki radio yang digandrungi.

Cendekiawan Muslim, M Qasim Mathar, mengakui pengaruh radio Al-Ikhwan atas khalayak, terkhusus warga Muhammadiyah di era itu.

“Lagu-lagu yang diputar Radio Al-Ikhwan pagi, sore hari, itu yang dinyanyikan anak-anak muda. Di radio itu juga kita bisa mendengarkan ulama Muhammadiyah, Fathul Muin Dg Maggading ceramah,” ungkap Qasim.

Ceramah Dg Maggading itulah, kata Qasim, yang diikuti oleh warga, didiskusikan, ditanggapi, bahkan didebat oleh KH Muhammad Nur, di radio lain yang berafiliasi dengan Nahdhatul Ulama .

Zaman itu, radio merupakan media penanda zaman. Muhammadiyah Sulsel yang memiliki radio bisa dibilang maju.

Pada era 90-an, Muhammadiyah sudah membangun laman resmi organisasi. Era 1997 merupakan zamannya internet pribadi. Sampai di situ, Persyarikatan juga terbilang maju untuk dakwah digital.

Bagaimana dengan Kini?

Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel telah lama sadar akan ketertinggalan Muhammadiyah dalam hal digitalisasi dan aktivitas dunia maya. MPI Pusat pun demikian.

Karena itu, pada 5–6 Januari 2019, MPI PWM Sulsel menggelar pelatihan Mujahid Cyber Progressif. Motifnya adalah untuk mendorong kader Muhammadiyah, pengguna medsos dan internet pribadi untuk menjadi buzzer.

Buzzer yang didamba tentu tidak seperti para pegiat hoaks bernapas politik praktis. Buzzer yang diinginkan Muhammadiyah, yang mendengungkan spriti Islam Berkemajuan.

Buzzer yang membuat Muhammadiyah “dihitung” dakwah digital di dunia maya

Setelah MPI PWM Sulsel menghelat itu, MPI Pusat kembali melakukan penguatan dengan membuat pelatihan yang mirip di Universitas Muhammadiyah Parepare.

Sayangnya, tidak bisa ditampik, hasil dari pelatihan itu tidak begitu menggembirakan. Terlebih, peserta yang diutus dalam penelitian itu adalah para baby boomers (usia 50-an ke atas).

Wacana terkait dakwah digital Muhammadiyah kembali mencuat pada Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah, Jumat–Ahad, 22–24 Juli 2022, di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dalam jambore tersebut, berkumpul 110 pengelola media yang berafiliasi dengan Muhammadiyah.

Ternyata, berdasarkan laporan setiap pengelola media, tidak ada PWM atau PDM yang serius mengelola media Persyarikatan di daerahnya. Dakwah digital Muhammadiyah di dunia maya lemah.

Di sisi lain, para pengelola media ini juga masih kurang kompetensi untuk membuat medianya bisa eksis di persaingan jagat maya.

Akhirnya, banyak pemberitaan terkait Muhammadiyah yang tidak “bunyi” di jagat maya. Jambore ini lalu memberikan materi kepada hadirin tentang Search Engine Optimization (SEO) yang bisa mengangkat suatu berita atau konten di jagad internet.

Menurut Zainal Arifin yang menjadi pembicara terkait SEO, masalah dari artikel-artikel Muhammadiyah adalah, ketidakpiawaian pengelola untuk menggunakan kata kunci di dalam kontennya.

Seharusnya, kata Cak Ipin, artikel-artikel Muhammadiyah menempatkan kata kunci artikel di awal paragraf.

Analisis Drone Emprit

Yang menjadi pamungkas, Direktur Media Kernels Indonesia (Drone Emprit), Ismail Fahmi, Ph.D. Ia mengungkapkan, sesungguhnya Muhammadiyah telah memiliki akses di drone emprit.

Drone emprit adalah suatu sistem analisis yang memonitori aktivitas jagad maya. Sistem ini dapat memberikan peta analisis jejaring sosial terkait suatu topik atau kata kunci yang menjadi viral atau trending topic.

Analisis big data tersebut dapat meyajikan informasi dengan artificial intelligence dan Natural Learning Process (NLP).

Karena itulah, setiap konten dapat diketahui siapa pemrakarsanya dan digaungkan oleh kelompok mana, sehingga motifnya dapat dianalisis.

Muhammadiyah, melalui Pusat Syiar Digital, telah mengakses drone emprit ini. Kata Ismail Fahmi, akses tersebut juga dapat digunakan oleh seluruh media afiliasi Muhammadiyah, tidak hanya Pimpinan Pusat.

“Ini bisa digunakan untuk mencari topik, isu yang relevan dengan visi Muhammadiyah untuk disebarkan melalui media-media Muhammadiyah. Kalau ada yang penting, ini bisa dimonitor lewat dashboard Muhammadiyah,” ungkap Ismail Fahmi via Zoom.

Sayangnya, Muhammadiyah tidak dapat menandingi pesaingnya di dunia maya. Ismail Fahmi menunjukkan data, pada Ahad, 23 Juli 2022, konten Muhammadiyah dikalahkan oleh konten organisasi lain.

“Malah yang memberitakan (aktivitas Muhammadiyah) banyak media luar. Hari ini kita bisa lihat, ada berita Muhammadiyah. Ini yang memberitakan bukan dari media Muhammadiyah,” kata dia saat menyajikan data.

Platform yang Dimassfikan

Ia menekankan, dakwah digital Persyarikatan mutlak dimassifkan, lantaran penggunaan medsos kini yang terus mengalami peningkatan.

Ismail menyajikan data, untuk pengguna Twitter saja, peningkatan penggunaan terjadi, dari 27% (2018) meningkat 56% pada 2020.

Youtube, menurut data yang dipaparkan Ismail Fahmi, menjadi platform yang paling banyak digunakan khalayak Indonesia, yakni 93.8%. Ini berdasarkan data Januari 2021.

Dengan Youtube, profit materi dipanen subur. Namun sayangnya, konten-konten yang disajikan di Youtube kebanyakan hoaks. “Youtube lahan subur bisnis hoaks,” kata dia.

Muhammadiyah harus merebut Youtube dengan menyajikan konten amar ma’ruf nahi munkar yang berkemajuan. Tidak hanya Youtube, platform lain, yakni Tiktok pun demikian.

“Tahun lalu, Tiktok hanya 38.7%, sekarang sudah mengalahkan Instagram. Ini perlu dilihat betapa massifnya pertumbuhan media sosial, dan ini menjadi sesuatu hal yang amat penting bagi Muhammadiyah untuk menyusun strategi dakwahnya.”

Menurut dia, Tiktok kini telah menjadi platform yang paling kuat melakukan difusi informasi. Sifat medsos, informasi atau kontennya akan tersebar ke mana-mana, tidak hanya di satu platform.

Tiktoklah yang paling kuat melakukan itu. Tiktok yang paling hebat dalam distribusi konten. Platform inilah yang kini sedang digandrungi khalayak.

Untuk benar-benar bertanggung jawab atas lekatan “berkemajuan” dan “organisasi modern”, sudah semestinyalah Muhammadiyah memassifkan gerakan dakwah digitalnya.

Pasalnya, penanda zaman ini adalah aktivitas dunia maya dan kehidupan serba digital.

Peluit teguran dari para pakar media dan teknologi informasi telah berulang kali ditiupkan. Saatnya, Muhammadiyah benar-benar serius dengan aktivitas digitalnya.