Hikmah Syawalan, Kiai Alwi Uddin Ajak Warga Bantaeng Menjaga Ukhuwah

KHITTAH.co, Bantaeng- Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan Dr KH Muh. Alwi Uddin memberikan hikmah syawalan dalam acara silaturahmi Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Bantaeng, Sabtu, 21 Mei 2022, di Masjid Almanar Muhammadiyah.

Syawalan ini juga dihadiri oleh Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah dan ortom Muhammadiyah Bantaeng, yaitu IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah.

Dalam pemaparannya Kiai Alwi menyebut syawalan merupakan kegiatan pasca-Ramadan yang dijadikan tradisi oleh Muhammadiyah.

“Jadi syawalan itu dua; syawalan syar’i dan syawalan tradisi. Agenda syawalan syar’i yang pertama kali kita lakukan adalah Hari Raya Idulfitri. Yang kedua, tentu puasa enam hari di bulan Syawal. Ini yang jarang diketahui orang, termasuk warga Persyarikatan kita,” tutur Alwi.

Kiai Alwi melanjutkan, syawalan sebagai tradisi dalam persyarikatan adalah agenda yang baik untuk dipelihara, karena ada kebermanfaatan untuk ummat.

“Syawalan ini sudah lama dilaksanakan Muhammadiyah. Tentu tujuannya baik. Kita saling menghalkan kesalahan di antara saudara-saudara kita, berlapang dada, dan saling memaafkan satu dengan yang lain.”

Ketua PWM Sulsel Periode 2010-2015 ini juga menegaskan, ciri khas seorang beriman adalah takwa. Hal ini tentu sebagai pembeda antara orang beriman dengan yang lain.

“Yang beriman itu pasti bertakwa dan bertakwa selalu menjadi pemaaf bagi yang lain. Makanya kalau orang beriman itu tidak mengenal istilah ‘Tidak ada maaf bagimu’,” lanjut dia.

Ia melanjutkan, ayat Allah tentang orang mukmin bersaudara itu disebut dengan ukhuwah imaniyyah, yaitu ketetapan Allah yang pesannya dikhususkan untuk manusia secara individu.

Paling tidak, lanjut Kiai Alwi, ada level persaudaraan seorang mukmin yang harus diketahui, dipahami, dan diamalkan oleh orang mukmin.

Ia menegaskn, ukhuwah imaniyyah sebagai ketetapan Allah tentang persaudaraan antara umat Islam tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Menurut dia, ini merupakan pondasi yang mesti dipelajari dan diperkuat.

Yang kedua, ukhuwah islamiyah. Ia menjelaskan ukhuwah ini merupakan perwujudan persaudaraan antara umat Islam yang tinggal serumpun atau paling tidak, satu kompleks. “Tentu dalam ukhuwah ini, kita jangan menjadi corong terjadinya keributan”.

Yang ketiga ukhuwah jam’iyah yang merupakan persaudaraan antarmasyarakat. Ukhuwah ini tidak lagi membahas perbedaan keimanan, melainkan berfokus pada kepentingan bersama untuk kebermanfaatan bersama.

Yang keempat, ukhuwah wathoniah yang merupakan perwujudan kecintaan setiap individu terhadap bangsa dan negaranya.

“Ini demi menjaga ketertiban dari upaya orang-orang luar dalam memecah belah bangsa,” jelas Kiai Alwi.

Namun, satu hal yang tak bisa dimungkiri, lanjut Alwi, perselisihan itu seringkali terjadi, tetapi hal demikian hanya biasa terjadi antaraindividu dengan individu yang lain.

Dalam Islam, lanjut dia, tugas dan tanggungjawab kita bersama adalah mendamaikan orang yang berselisih. Kita semua bertanggung jawab dalam tugas mengislahkan saudara-saudara kita yang sedang bertikai atau bermusuhan.

“Jadilah perantara untuk mengislahkan saudara-saudara kita, yang putus disambung, yang retak dipermak kembali, karena dengan demikian, mengundang rahmat Allah Swt,” tutup Ketua Ta’mir Masjid Ridha Muhammadiyah Cabang Karunrung ini.

(Agus Umar/ Fikar)