IKADA Gombara Dialog Publik, Hadirkan Deng Ical

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ikatan Keluarga dan Alumni Darul Arqam (IKADA) Gombara Makassar mengelar dialog publik di Warkop Jaya Abadi Jalan Pettarani Makassar, Sabtu, 3 Februari 2018 malam.

Dialog itu dihadiri ratusan peserta dan mengusung tema “Era Milenial dan masa depan Ummat” dalam prespektif Keummtan, Kepemudaan dan Politik Kebangsaan. Menghadirkan narasumber antaranya Syamsu Rizal (Wakil Walikota Makassar), Iqbal Abd Djalil (Tokoh agama dan anggota DPRD Kota Makassar), Arqam Azikin (Dosen Unismuh dan pengamat politik) dan Ibnu Kuddamah (Ketua Harian IKADA Gombara Makassar).

Syamsu Rizal, mengatakan, karakter milenial adalah maksimal umur 20 tahun.
Generasi sekarang memang melekat pada teknologi itulah yang disebut karakter zaman Now.

“Saya kira semua karakter ada plus minusnya dan semua itu harus disatukan. Sebagai pelaksana kegiatan ini adalah alumni santri semua, maka diharapkan santri punya gerakan tersendiri yang pada dasarnya tidak boleh jauh dari Al-Qur’an.

Memang zaman sekarang adalah zaman teknologi apapun yang dicari kepada google semuanya ada. Jadi tinggal kita yang mengarahkannya seperti apa, sekali lagi sebagai santri yang cerdas maka pergunakanlah teknologi dengan cerdas,” kata Syamsu Rizal sapaan Daeng Ical itu.

Sementara itu, Iqbal Abd Djalil (Tokoh agama dan anggota DPRD Kota Makassar) mengungkapkan, bahwa dirinya tetap mengakui Daeng Ical sebagai Walikota Makassar.

“Semenjak tanggal 26 sampai seterusnya saya mengakui Dg Ical adalah Walikota saya. Terkait era Milenial ini, saya kira Informasi ummat hari ini harus kembali ke Al-Qur’an. Apapun itu Al-Qur’an adalah pedoman kita. Meskipun kecanggihan teknologi sekarang ini, sebagai anak santri jangan hanya sibuk pada HP nya,” tegas Iqbal.

Selain itu, Arqam Azikin, ia mengapresiasi Zadit taqwa Ketua BEM UI yang berani memberikan kartu kuning kepada Presiden Jokowi. Katanya, pemimpin harus siap dikritik, dan perbuatan Zadit, Arqam menilai adalah mahasiswa sopan.

“Pertanyaannya hari ini kepada mahasiswa yang hadir. Karena yang hadir saat ini semuanya seumuran dengan Zadit taqwa, apakah mahasiswa yang hadir ini bisa seperti itu juga,” ungkap Arqam.

Sistem politik saat ini, kata Arqam, adalah sistem politik kapitalis. Salah satu melawan sistem itu adalah harus dipersiapkan generasi umat saat ini untuk menghadapi masa depan sistem politik.

“Sekarang tinggal dua yang saya percaya pertama Ulama kedua santri. Tentu kedua itu diharapkan mempersiapkan generasi untuk terlibat di politik. Karena kita lihat sekarang politik di Makassar, seperti berperang di media dan media itu juga tidak jelas. Memang saya sudah prediksi dari awal, ketika hanya dua pasangan lolos calon walikota Makassar maka saling membunuh karakter. Tapi saya tetap mengharapkan kedua calon itu agar tidak saling memprovokasi umat,” harap Arqam.

Ketua harian IKADA, Ibnu Kuddamah, menambahkan, ummat muslim adalah terbesar di Indonesia maka seharusnya ummat muslim itu bersatu untuk ikut andil ditahun politik ini. “Kita selaku umat muslim sudah dipersatukan di aksi 212, jadi seharusnya kita bersatu ditahun politik ini,” tutup Ibnu.(*)