Irwan Akib, PP Muhammadiyah Pertama dari Indonesia Timur, Siapa Dia?

Prof Irwan: Unimen Sempat Tidur 30 Tahun, Pas Bangun, Langsung Meloncat
irwan Akib menjadi orang pertama dari Indonesia Timur yang masuk dalam 13 formatur Pimpinan Pusat Muhammadiyah (foto: AHZ)

KHITTAH.CO, Makassar- Muktamar 48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menciptakan sejarah baru. Pasalnya, setelah 110 tahun berdiri, akhirnya perwakilan Indonesia Timur masuk dalam 13 formatur Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Orang pertama dari Indonesia Timur itu adalah Irwab Akib. Dia adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Irwan juga adalah Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

Masuknya Irwan Akib dalam formatur PP Muhammadiyah merupakan tanda bahwa muktamirin adalah pemilih cerdas yang rasional.

Pasalnya, Irwan Akib dikenal sebagai sosok di balik majunya Universitas Muhammadiyah Makassar. Bermula sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Matematika, ia kemudian menjadi wakil rektor 1. Dari wakil rektor inilah, ia menjabat pelaksana Rektor Unismuh Makassar.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Seltan, Ambo Asse mengungkapkan rasa syukurnya atas terpilihnya Irwan Akib.


“Alhamdulillah. Kita bersyukur bahwa pada Muktamar ini, ada perwakilan dari Indonesia Timur yang masuk ke dalam formatur, yaitu Prof Irwan Akib,” kata dia.

Ambo Asse melanjutkan, harapan dari Indonesia Timur berada di tangan Irwan Akib. Hal ini ia sampaikan saat ditemui seusai penghitungan suara untuk 13 formatur PP Muhammadiyah, Ahad, 20 November 2022 dinihari, di Edutorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

“Semoga Prof Irwan amanah. Harus ditekankan bahwa Prof Irwan bukan hanya untuk Sulsel, tapi Indonesia Timur, dan selanjutnya untuk Muhammadiyah di seluruh penjuru,” kata Ambo.

Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Syaiful Saleh menyebut masuknya Irwan Akib adalah sejarah baru Persyarikatan. “Sudah ada dari Indonesia Timur, semoga Prof Irwan bisa menjalankan amanah, tugas dengan baik. Insya Allah,” ungkap dia.

Sebagai Ketua Badan Pembina Harian (BPH) saat Irwan Akib memimpin Unismuh Makassar, Syaiful Saleh mengaku tidak ragu dengan kapabilitas Irwan Akib.

Sementara itu, Andi Fajar Asti yang merupakan junior Irwan di Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) FMIPA UNM menaruh harapan besar atas terpilihnya Guru Besar Matematika ini.

Fajar berharap, dengan masuknya Irwan Akib ini, pendidikan Muhammadiyah semakin mengarah kepada berkemajuan.

“Saya optimis dengan masuknya Prof Irwan, visi Muhammadiyah untuk mencerahkan semesta akan semakin terang karena beliau memang sangat menguasai sektor pendidikan. Kita tahu, beliau pernah rektor dan pejabat di Kementerian Pendidikan,” ungkap dia.

Siapa Irwan Akib?

Irwan dikenal sebagai sosok pekerja keras dan bertangan brilian. Irwan sudah kerja menyambi sejak SMP pada seorang tukang pembuat kursi pentil. Pada pembuat kursi pentil itu, Ia bekerja sebagai tukang cat.

Sebenarnya, ia sempat tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk lanjut studi. Ini karena biaya. Beruntung, ia meyakinkan diri dan orang tuanya bahwa dirinya bisa kuliah sambil bekerja.

Terbukti, sejak tahun kedua kuliahnya, ia telah bekerja sebagai asisten dosen dan pengajar di SMA Muhammadiyah dan SMA PGRI, keduanya terletak di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel.

Tidak hanya itu, selain belajar dan mengajar, sebelum ke kampus, setiap subuh dirinya harus membantu Sang nenek mendorong gerobak berisi jualan pakaian dari rumah sampai pasar itu.

Selama di universitas, selain belajar, asisten dosen, dan mengajar, Irwan juga sibuk menjadi instruktur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Hampir pasti, seluruh mahasiswa Universitas Negeri Makassar saat itu mengenal Irwan sebagai IMMawan UNM.

Ia juga merupakan aktivis Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Di kedua lembaga ini, dirinya menjabat sekretaris.

Karier Irwan Akib di univesitas bermula dengan menjadi dosen PNS di Unismuh. Untuk menggapai ini, sejumlah drama harus ia hadapi.

Amanah struktural pertama yang ia emban dalah menjadi ketua jurusan. Selanjutnya, ia diminta menjadi Pembantu Dekan (PD) 1 FKIP Unismuh.

Ia menggantikan pejabat sebelumnya yang pergi sekolah namun lama kembali. Saat pejabat PD 1 itu pulang, Irwan kembali menjadi ketua jurusan.

Tidak lama menjadi ketua jurusan, Irwan diangkat menjadi PD 1 lagi. Selama menjadi PD 1, ia lalu kuliah S3.

Sepulang Irwan S3, pejabat Dekan FKIP Unismuh Ashabul Kahfi yang kini menjadi Ketua Komisi VIII DPR RI memundurkan diri.

Irwan lalu dimintai untuk menggantkan. Menjadi Dekan FKIP selama sembilan bulan, ia diangkat lagi menjadi Pembantu Rektor (PR) 1 Unismuh Makassar.

Baru dua bulan dilantik menjadi PR1, pejabat rektor wafat. Ia lalu diangkat menggantikan rektor yang meninggal tersebut.

Selama menjabat rektor inilah, sejumlah invovasi ia hadirkan. Alhasil, Universitas Muhammadiyah Makassar menjadi kampus swasta favorit di Indonesia Timur.

Bangunan 18 lantai berdiri. Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah ia gagas. Muktamar ke 47 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga sukses dihelat di Unismuh Makassar, di masa kepemimpinannya jadi rektor.