Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Lingkup Pendidikan dan Keluarga

Oleh: Nurul Fadillah*

KHITTAH.CO, – Kekerasan seksual/pelecehan seksual saat ini tengah marak diberitakan di mana mana. Seperti pelecehan seksual terhadap anak-anak, pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayah ke anak kandungnya, dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru terhadap murid nya hingga hamil. Seperti kita ketahui pelecehan seksual adalah tindakan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, menyebabkan pelanggaran dan ketidak nyamanan.

Bentuk kekerasan seksual pun mempunyai banyak macam, tetapi yang ingin dihabas adalah yang beberapa waktu ini dan sampai sekarang masih marak menjadi buah bibir masyarakat terkhusus di bidang pendidikan yaitu seorang guru pimpinan pesantren. Oknum tersebut dengan kejinya melakukan hal yang tidak senonoh terhadap siswa yang masih di bawah umur dan bahkan sampai hamil. Begitu terkesan sangat miris melihat keadaan tersebut, santri diperkosa dan ada beberapa di antaranya telah hamil dan melahirkan. Anak yang dilahirkan dijadikan sebagai bahan mendapat simpati orang lain dengan dalih ia anak yatim-piatu, apakah pelaku itu bisa dikatakan sebagai manusia?

Tak ada alasan yang pantas membenarkan perilaku tersebut, banyak juga kita lihat seseorang berpendapat bahwa salah dari wanita karena cara berpakaian dan berperilaku tapi ini terjadi pada santri yang tentunya memakai hijab. Jadi bisa disimpulkan itu memang nafsu sesat pelaku. Tapi di luar dari itu, walaupun wanita berpakaian terbuka tidak seharusnya wanita dilecehkan dengan alasan apapun. Jika kita berpendapat seperti itu juga seakan-akan wanita yang menjadi korban dia pun disalahkan.

Lalu hukuman Apa yang pantas untuk orang seperti itu, hukuman kebiri atau hukuman mati saja. Karena kita tidak bisa yakin ia nanti ia bebas ia akan berubah karena bisa saja ia kembali melakukan hal tersebut, dengan kedok yang berbeda lagi nantinya. Tidak bisa kita bayangkan kejadian itu terjadi pada anak di bawah umur, bagaimana mental dan psikis anak yang menjadi korban.

Apa lagi hal ini terjadi di bidang pendidikan, itu sangat berdampak buruk dan menimbulkan penilaian bahwasanya lingkungan pendidikan bukan sebagai tempat yang aman bagi peserta didik yang jauh dari kata kekerasan seksual. Ini pun terjadi di pesantren yang dikenal dengan tempat ilmu agama tapi malah ada kejadian seperti itu. Lalu di mana lagi lingkungan yang bisa menjamin keamanan seorang wanita Dari kekerasan seksual.

Hal tersebut sangat mencoreng nama pendidikan menimbulkan pertanyaan karena pendidikan tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Tempat mengarahkan individu ke hal yang lebih baik, tetapi sekarang malah menjadi tempat mala petaka peserta didik.

Bukan hanya terjadi di lingkungan pendidikan saja, kekerasan seksual bisa juga terjadi di lingkungan keluarga. Ada juga pemberitaan seorang ayah yang tega melecehkan anak kandungnya sendiri. Itu merupakan perbuatan yang diluar nalar manusia, apa yang ada dalam pikiran seorang ayah itu bernafsu dengan darah daging dia sendiri.

Fenomena pelecehan seksual merupakan kesalahan pelaku yang tidak bisa menahan hasrat seksual nya, dan banyak faktor yang menjadi penyebabnya, contohnya seperti situs porno yang mudah diakses. Peristiwa semua ini menjadikan wanita serba salah, kita akan bertanya-tanya sosok laki-laki mana yang bisa menjaga wanita seutuhnya jika pendidik bahkan ayah bisa saja menjadi orang yang tega melecehkan anak kandungnya.

Wanita akan merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, menimbulkan banyak kewaspadaan dalam bersosialisasi, cenderung tidak percaya dengan orang lain. Sekarang pun hukum saja belum mendapatkan titik terang dalam menanggulangi peristiwa pelecehan ini. Hukum mati pun tidak menjadi sebuah hal yang ditakutkan oleh pelaku jika ingin melakukan tindakan tersebut.

Pelecehan seksual yang tiap saat bisa bertambah korban dilakukan oleh oknum mana saja, kita hanya bisa pasrah dan meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga diri sendiri. Karena tidak ada yang menjamin kita aman dalam peristiwa itu, kita hanya bisa berpangku oleh diri sendiri. Karena terkadang korban pelecehan seksual, banyak tidak mendapat keadilan.

Seperti sudah dibahas sebelumnya tindakan pelecehan ini sangat susah untuk ditanggulangi, baik dari pemerintah, hukum atau pun masyarakat. Siti Nur Isnaeni menegaskan “Banyak korban pelecehan atau kekerasan seksual yang takut untuk speak up karna merasa malu, takut tidak ada yang percaya, takut disalahkan, takut dijauhi para tetangga atau takut membuat malu keluarganya. Padahal korban harus bisa kita rangkul, dan memberikannya dukungan serta rasa aman”.

 

* Mahasiswa Sosiologi Unismuh Makassar