Kepemimpinan Intelektual-Naratif yang Populis

Menemukan Nalar Identitas Baru Ikatan
Taufiqurrahman

KHITTAH.CO, Hampir semua kita sepakat bahwa kepemimpinan bukanlah tujuan akhir dari perjalanan ber-Ikatan, melainkan cara paling ampuh untuk mencicil jarak tempuh demi sampai di garis finish dari misi besar organisasi ini.

Kepemimpinan dalam Ikatan mengandaikan proses intelektualisasi dalam segenap aktivisme ber-ikatan, sebagai DNA yang melekat dan merebak tajam dari diri para kader dan pimpinan Ikatan.

Dari pengandaian yang telah disebut di atas, maka kepemimpinan dalam Ikatan sangat sukar dipisahkan dari jati diri pimpinannya.

Pimpinan sebagai sosok intelektual yang menjadikan intelektualisme sebagai aktivitas primer, yang memandu perjalanan kepemimpinan Ikatan sehingga sampai pada cita-cita peradaban ilmu dan nilai-nilai utama (Al-Qiyam Al-Fadhilah).

Sangat sulit membayangkan kepemimpinan dalam Ikatan tanpa rajutan narasi dan nilai, yang keduanya menempel kuat sebagai identitas kebesaran paling mencolok dari organ ini, di mana posisi keduanya menentukan keutuhan kesadaran dan kejernihan pikiran juga masa depan Ikatan.

Demikian pula terkait kealpaan narasi dan nilai, yang berimplikasi pada menguatnya tarikan-tarikan kepentingan lain yang membuat pilihan politik tidak lagi berdaulat di atas pertimbangan intelektual.

Fenomena ini mendapatkan bentukannya dalam kepemimpinan naratif yang tidak populis atau tidak banyak diminati orang.

Fenomena publik ini tidak boleh sampai menular masuk ke dalam politik kepemimpinan dalam Ikatan, sebab dalam iman inteketual Ikatan, kepemimpinan naratif semestinya disokong oleh kekuatan massa (populis) dan dengan sungguh-sungguh, kita meyakini bahwa hanya dengan kepemimpinan intelektual, kolektivitas bisa terajut dalam gerak lurus tujuan Ikatan.

Ini juga seharusnya menjadi kesadaran organik yang menjaga nyala lilin pencerahan di antara bisingnya mobilitas kepentingan.

Cukup sukar melepaskan momentum politik Ikatan dari intervensi berbagai kepentingan eksternal, melihat deretan jenis momentum politik yang menanti di depan mata.

Namun, di atas itu semua, posisi politik Ikatan sudah semestinya dibaca terpisah dari itu semua, sehingga pengarusutamaan narasi dan nilai tetap terjaga sebagai karakteristik yang tampak dominan dalam setiap momentum politik Ikatan.

Menjadi tanggungjawab intelektual kita semua untuk memastikan tidak adanya garis demarkasi yang memisahkan antara kepemimpinan intelektual dan dukungan yang populis sembari mengaksentuasikan kepemimpinan di seluruh tingkatan yang ada dalam Ikatan sebagai wujud aktualisasi intelektualisme, dan seluruh rangkaian proses politik kepemimpinan yang dilalui merupakan hasil pilahan dan pilihan intelektual seluruh kader Ikatan.

Tanggungjawab yang jauh lebih besar dan menentukan masa depan perjalanan Ikatan adalah itikad baik seluruh calon pimpinan untuk menawarkan gugus narasi sebagai hasil kontemplasi intelektual yang dipilih sebagai garis perjuangan kepemimpinan masing-masing.

Dengan begitu, kita bisa sama-sama mengawal kader-kader terbaik Ikatan dengan penuh keyakinan dan kesadaran menawarkan jalan pikiran mereka demi menuntun kita semua pada harapan baru, era baru dan komitmen baru, sehingga buncahan tawaran pembaharuan menjadi sinyal restorasi Ikatan yang radiusnya sampai di tingkat akar rumput.

Di samping itu semua, keterlibatan semua pihak dibutuhkan untuk secara sungguh-sungguh, bahu-membahu mengambil peran dalam menghadirkan suasana politik Ikatan yang penuh keteduhan, berdinamika secara dialogis, berpolitik adiluhung penuh kemajuan, bernuansa keakraban dengan ikatan batin dan ideologis yang kuat meski berbeda pilihan.

Masih ada cukup waktu untuk memeriahkan pesta pora Musyawarah Daerah DPD IMM Sulsel ini sebagai ajang konsolidasi narasi dan penguatan nilai yang dipelopori secara organik oleh kader intelektual Ikatan.

Terkhusus, para kandidat Pimpinan DPD IMM Sulsel selanjutnya, sehingga di penghujung akhir musyawarah ada optimisme baru yang bersambu tpadu dengan kemenangan narasi untuk segenap kader ikatan, bukan hanya kemenangan angka dalam kertas pemilihan.

Lebih dari itu semua, kita wariskan momentum penyadaran dan pendewasaan gerakan untuk generasi hari ini yang dihantui pesimisme juga generasi mendatang yang berlari dengan gemuruh optimisme yang hampir membakar dadanya.

Sembari mempertegas kembali kepada publik Sulawesi Selatan, bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah masih senantiasa tegak lurus dalam idealisme dan khittah gerakannya sebagai “Masyarakat Intelektual yang independen”.

Ditulis oleh:

Taufiqurrahman

Calon Ketua Umum DPD IMM Sulsel