Ketua Muhammadiyah Sulsel: “Tidak ada Hadis Palsu!”

Ketua PW Muhammadiyah Sulsel Prof Dr. Ambo Asse (Foto: Asnawin)

Makassar – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse menolak penggunaan istilah ‘hadis palsu’. Menurutnya, tidak ada hadis yang palsu. Hadis itu perkataan yang bersumber dari Nabi Muhammad saw. Jika ada ungkapan yang dikaitkan sebagai pernyataan Nabi, padahal bukan, itu bukan hadis palsu, melainkan bukan hadis.

“Misalnya ada ungkapan Man aroda dunya fa’alaihi bil‘ilmi,Man arodal akhiroh fa’alaihi bil‘ilmi, Wa man aroda humaa fa’alaihi bil ‘ilmi. Ini bukan hadis palsu. Melainkan ungkapan motivasi berilmu dari Imam Syafi’i,” urai Prof Ambo.

Pernyataan itu dilontarkan Ambo ketika menutup Pengajian Ramadan 1438 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel. Kegiatan yang berlangsung sejak Sabtu, 19 Mei 2018 ini ditutup secara resmi Senin siang, 21 Mei 2018, di Balai Sidang Muktamar, Universitas Muhammadiyah Makassar, Jl. Sultan Alauddin.

Ambo Asse menilai pengajian Ramadan kali ini tergolong sukses. “Meski tidak semua pembicara yang dijadwalkan hadir. Namun tidak mengurangi antusiasme dan khidmatnya pelaksanaan acara. Ketua Umum PP Muhammadiyah Pak Haedar Nashir memang tidak hadir, namun penggantinya Prof Syafiq Mughni, yang juga Ketua PP Muhammadiyah, saya kira bisa menguraikan konsep Darul Ahdi Wa Syahadah secara mendalam,” tandas Guru Besar UIN Alauddin ini.

Demikian pula ketidakhadiran Ketua PP Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas, lebih pada persoalan teknis tidak adanya jadwal pesawat Bontang-Balikpapan. “Sebenarnya Pak Yunahar bisa hadir Senin sore, namun acara kita kan ditutup sebelum Dzuhur,” tambahnya.

Indikator kesuksesan menurt Prof Ambo dapat dilihat dari jumlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang hadir. Dari 24 PDM, hanya PDM Luwu Utara yang tidak sempat hadir. “Saya sebenarnya agak heran, setahu saya PDM Lutra ini salah satu PDM yang cukup aktif menghadiri acara-acara Wilayah. Nanti tugas Tim Rihlah Dakwah PWM yang kesana, saya tugaskan untuk mengklarifikasi secara langsung ketidakhadiran ini,” pungkasnya.

“Mengikuti Pengajian Ramadhan secara sungguh-sungguh itu juga merupakan jihad. Ada kesungguhan untuk meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memikirkan umat. Termasuk bersabar mengikuti rangkaian acara. Itu Jhad,” tegasnya.

Belakangan, ungkap Ambo, ada penyelewengan makna jihad. “Dikiranya bom bunuh diri itu jihad. Padahal jihad itu selalu berbarengan dengan kata Sabar. Ada pihak tertentu yang mungkin tidak sabar melihat perubahan, makanya memaknai jihad dengan bom bunuh diri. Ini keliru,” tambahnya.

Prof Ambo menutup sambutannya dengan menyampaikan rencana pelaksanaan Tim Rihlah Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel mengunjungi  seluruh Kabupaten/Kota se-Sulsel. “Pimpinan Wilayah telah membuat 6 tim rihlah. Pada awal Juni, 6 tim ini akan berkeliling ke semua daerah. Setiap tim akan mengunjungi 4 PDM,” jelasnya.

“Insya Allah kehadiran Muhammadiyah akan lebih nyata di masyarakat, jika mubalig Muhammadiyah turun langsung ke tengah-tengah umat. Jika perlu dalam ceramah nantinya, tidak usah sebut-sebut nama Muhammadiyah, sampaikan saja ayat-ayat Quran dan Hadits, yang bisa mencerahkan umat,” tutup nakhoda Persyarikatan Muhammadiyah di Sulsel ini.

Hadir dalam penutupan ini, Ketua BPH Unismuh Makassar Dr. Muh. Syaiful Saleh, Wakil Rektor I Unismuh Makassar Dr. Rakhim Nanda, Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel Dr. Abdullah Renre dan Dr. Mustari Bosra, dan peserta dari 23 Kabupaten/Kota se-Sulsel.