Manhaj Tarjih Pertemukan Keragaman Mazhab

Manhaj Tarjih Pertemukan Keragaman Mazhab
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar

KHITTAH.CO, Yogyakarta- Tegaskan soal manhaj tarjih, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Syamsul Anwar menjadi pembicara dalam Sekolah Tarjih yang diselenggarakan oleh PCIM Maroko dan PCIM Pakistan bekerjasama dengan Pusat Tarjih Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Prof Syamsul Anwar mengingat pentingnya pemahaman seputar ketarjihan. Hal ini ia sampaikan via daring, pada Sabtu, 13 Agustus 2022 di hadapan perwakilan PCIM se-Afrika dan Timur-Tengah

Ia melanjutkan, pemahaman ketarjihan itu amat penting, terutama bagi kader Muhammadiyah di Timur Tengah.

Ini karena mereka memang belajar kajian ke-Islaman dengan berbagai latar belakang mazhab yang berbeda.

Keragaman tersebut perlu dijalin dan disatukan dalam sebuah pandangan bersama, yakni pandangan Muhammadiyah yang tidak terikat mazhab namun sama sekali tidak antimazhab.

Menurut Prof. Syamsul, wawasan ketarjihan sudah seharusnya diketahui oleh para kader ulama Muhammadiyah.

Ini karena merekalah yang diharapkan melanjutkan dan mengisi pos-pos perjuangan di Majelis Tarjih Muhammadiyah nantinya.

Tarjih sendiri, lanjut beliau, maknanya ialah menguatkan. “Dalam artian menguatkan salah satu dalil atau suatu pandangan fiqh berdasarkan dalil yang terkuat,” kata Syamsul.

Namun, di Muhammadiyah maknanya berkembang. Tarjih adalah suatu upaya untuk memahami ajaran agama Islam, baik upaya tersebut berbentuk tarjih ataupun ijtihad. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah metode yang disebut dengan manhaj tarjih

“Kita sering mendapat keluhan bahwa Muhammadiyah kekurangan kader ulama. Maka melalui Sekolah tarjih ini, diharapkan para peserta selain mampu memahami manhaj tarjih secara komprehensif, juga kelak dapat mengisi kekosongan kader ulama tersebut,” tambahnya.  

Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa manhaj tarjih Muhammadiyah ini bukan hal baru. Tarjih ini seperti ramuan dari berbagai metode para ulama.

Manhaj tarjih ialah manhaj dalam memahami keempat aspek agama Islam yaitu aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah yang bersumber pada Alquran dan sunnah sebagaimana yang dipahami, diinterpretasikan, dan diimplementasikan oleh Muhammadiyah.

Pesan Untuk Para Mahasiwa di Timur Tengah

Prof Syamsul berkisah, suatu ketika, saat berkunjung ke Kairo dan berbagi ke salah satu kelompok mahasiswa, ia ditanyai oleh salah seorang mahasiswa. “Pak, apa kami harus hadir setiap hari di kuliah?”

Tentu saja, Syamsul memahami mengapa pertanyaan itu diangkat karena memang di sana kuliah tidak dicek kehadirannya.

Presentase kehadiran juga tidak berpengaruh sama sekali terhadapa nilai kelulusan. Hal yang penting adalah bisa menjawab soal ujian, maka mahasiswa akan lulus. Namun, Syamsul tetap menjawab bahwa kehadiran kuliah itu amat penting.

“Kalian harus tetap hadir setiap hari meski tidak diabsen. Karena di bangku perkuliahan terjadi interaksi sesama mahasiswa asing, interaksi dengan dosen, berdiskusi, berdebat dan berdialektika dalam keilmuan di kelas,” jawab Syamsul.

Hal ini, lanjut Syamsul, merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran. “Harus banyak bergaul dengan mahasiswa asing juga agar bahasa arabnya kuat, jangan dengan mahasiswa Indonesia terus,” ujar dia.

Terakhir, Syamsul bercerita rencananya hendak mengadakan kajian kitab ilmu falak yang ditargetkan dapat menjadi kompetensi lulusan PUTM.

Kajian ini akan dilakukan juga secara daring agar dapat diikuti oleh para kader ulama lainnya. “Yang tidak boleh lepas juga dari kompetensi kader ulama Muhammadiyah, ialah mampu menguasai ilmu falak,” tegas Syamsul.     

Sekolah Tarjih ini akan dilangsungkan selama dua pekan, yakni pada 14–28 Agustus 2022. Kegiatan ini diikuti oleh para utusan dari berbagai PCIM se-Afrika dan Timur Tengah seperti PCIM Mesir, PCIA Mesir, PCIM Maroko, PCIM Pakistan, dan PCIM Saudi.

Hadir pula perwakilan PCIM Sudan, PCIM Tunisia, PCIM Turki, PCIM Yaman, dan PCIM Libya.

Sumber: http://Muhammadiyah.or.id