Medsos dan Pesan Keteladanan di Bulan Ramadan

Kasri Riswadi

(Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel)

Ada yang berbeda dari bulan Ramadan tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena tahun ini kebetulan tahun politik (pilkada), sehingga diplesetkan juga sebagai Ramadan politik. Namun, perbedaan itu dari sisi nuansa dan pesan yang hadir secara beruntun pada Ramadan kali ini. Tidak melulu melalui ceramah tarawih dari atas mimbar-mimbar masjid, melainkan melalui media sosial (medsos) yang mengabarkan pesan keteladanan.

Melalui media sosial, pesan keteladanan itu pertama datang dari seorang Pesepak bola bernama Muhamad Salah, bintang Liverpool yang berhasil menarik perhatian dunia bukan hanya karena kehebatannya di atas lapangan hijau. Sebagai seorang Muslim melalui sepak bola ia berhasil menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya kepada dunia, yaitu Islam yang modern dan berprestasi. Tampil hebat, menjadi pribadi yang saleh di dalam dan di luar lapangan, ia berhasil menepis Islamophobia. Bahkan berkat capaian dan kepribadiannya itu, para pendukung Liverpool berkali-kali mendengungkan nyanyian “ingin menjadi seorang Muslim” setiap kali Salah tampil di atas lapangan.

Pesan keteladan yang kedua datang dari pemuda asal Australia bernama Ali Banat, seorang muslim dan juga seorang dermawan, yang meninggal setelah tiga tahun berjuang melawan kanker yang dideritanya. Kematiannya diratapi dan menyisakan duka mendalam untuk banyak orang. Hal itu karena gerakan filantropi yang dilakukannya, ia menghabiskan harta yang dimilikinya untuk membantu kemanusian di berbagai belahan dunia, khususnya di wilayah Afrika. Sebelum meninggal, melalui proyek Muslims Around The World (MATW) yang didirikannya, tercatat ia telah membantu 200 janda, membangun masjid, membangun sekolah, membangun rumah sakit hingga 600 rumah yatim piatu, dan bisnis untuk mendukung masyarakat tidak mampu. Maka usai kepergiannya, do’a pun terus mengalir padanya.

Pesan keteladanan yang ketiga datang dari seorang gadis muda bernama Razan Al Najjar, perawat Palestina yang tewas ditembak tentara Israel. Kematian Razan yang bekerja sepanjang waktu untuk memberikan bantuan bagi para korban tentara Israel, disesali dunia. Sebagai pahlawan kemanusiaan ia pun dikenang, dalam proses pemakamannya ia diantar ribuan warga Palestina ke tempat peritirahatan terakhirnya. Razan memang dikenal sebagai sosok yang tak kenal takut sama sekali, hingga ia harus meregang nyawa saat tengah menjalankan tugas kemanusiaanya.

Selain tiga teladan itu, tentu masih banyak lagi keteladanan lain yang mungkin saja kita rasakan dan jumpai dalam kehidupan khususnya melalui Ramadan kali ini. Intinya, keteladanan itu masih ada, baik datangnya dari seorang pemimpin maupun dari seorang yang biasa-biasa saja, sehingga kata-kata krisis ketaladanan mentah atas fakta-fakta tersebut.

Krisis Meneladani

Sepertinya kita memang tidak bakalan mengalami krisis untuk urusan keteladanan. Dalam bidang pendidikan, pemilihan dan penetapan siswa teladan masih ada di sekolah-sekolah serta mahasiswa teladan di kampus-kampus. Bagi pendidik mereka pun demikian, penyematan guru teladan dan juga dosen teladan masih terus aktif dilakukan, meski dengan kriteria yang ketat. Dari itu saja sudah dapat dikalkulasi berapa banyak figur teladan yang lahir setiap tahunnya.

Sementara dalam bidang literasi, buku-buku kisah teladan pun masih menjamur di berbagai toko buku, di media juga kita masih dengan mudah menjumpai rubrik khusus yang menampilkan sosok teladan. Kemudian belum lagi keteladanan dari para pemimpin yang berhasil dalam kepemimpinannya. Yang menjadi persoalan hari ini adalah bagaimana masyarakat dapat meneladani itu semua.

Nabi Muhammad Saw, berhasil dalam menyebarkan dan mengokohkan ajaran Islam bukan hanya karena keteladanan beliau, tapi juga karena para sahabat dan umat Islam generasi awal pada saat itu yang ikhlas meneladani sang Nabi. Para sahabat dikenal sebagai penurut sejati atas ajaran dan perilaku Nabi, sehingga keteladanan dari sang Nabi turut mereka praktikkan juga dalam kehidupan dan perilaku kesehariannya masing-masing. Itulah bedanya dengan masyarakat sekarang ini, keteladanan yang dijumpai dalam diri seseorang hanya sampai pada sebatas kekaguman atas torehan orang tersebut. Tidak diikuti dengan spirit bahwa keteladanan itu harus ditularkan dan ditanamkan juga pada dirinya sendirinya.

Sebagaimana keteladanan Mohamad Salah, Ali Banat, dan Razan Al Najjar, seharusnya masyakarat sekarang telah memiliki spirit besar dalam hal keteladanan. Apalagi mengingat saat kisah mereka tengah viral-viralnya di media sosial, masyarakat khususnya umat Muslim di Indonesia seakan berlomba-lomba menunjukkan empati dan rasa bangga atas kisah kepahlawanan ketiganya, dengan turut serta membagikan kisah tersebut di media sosial masing-masing.

Menjumpai kisah teladan sekaligus turut membagikannya memang mudah, karena media sosial telah memfasilitasi semuanya. Yang masih sulit adalah meneladani kisah yang dibagikan itu sendiri. Akhirnya, bila belum sempat menjadi teladan, paling tidak telah siap untuk meneladani.