Melemahnya Pendidikan di Indonesia Akibat Pandemi Covid-19

Oleh: Nadira*

KHITTAH.CO, – Seperti yang kita ketahui mengenai covid-19 yang terjadi hampir di semua negara bukan di Indonesia saja. Pandemi karena virus covid-19 ini juga sudah memasuki tahun kedua di mana virus ini terus menerus bermutasi dan muncul berbagai virus-virus baru yang mengakibatkan hampir seluruh negara melakukan lockdown termasuk Indonesia.

Virus corona ini menyerang siapa saja , baik dari gologan lansia, orang dewasa, anak-anak, bayi, sampai ibu menyusui dan ibu hamil. Tentu ini membuat masyarakat sangat takut tertular sehingga di Indonesia sendiri menerapkan PPKM yang semua aktifitas yang dilakukan di luar rumah beralih menjadi di rumah saja.

Semua kegiatan dialihkan dan dikerjakan di rumah mulai dari pegawai kantoran yang di istilahkan menjadi work form home (WFH). Pendidikan yang dilakukan secara daring/online, serta aktifitas seperti berbelanja kebutuhan rumah tangga dilakukan secara online.

Hal ini tentu memiliki kelebihan dan kekuarangan masing-masing, di mana kelebihannya membuat kita menjadi lebih dekat dengan keluarga, menghabiskan waktu bersama dan tentunya terhindar dari paparan covid-19. Sedangkan kekurangannya membuat perekonomian kita menjadi lemah khususnya di Indonesia, banyak yang menjadi korban PHK, pengangguran semakin meningkat dan banyaknya toko-toko atau usaha milik masyarakat yang tutup.

Bukan hanya itu Covid-19 ini juga sangat berpengaruh pada pendidikan di mana kita bisa melihat pendidikan di Indonesia mengalami penurunan. Banyak yang malas untuk mengikuti persekolahan mau pun perkuliahan secara daring mereka merasa bosan, dan kurang memahami materi yang diberikan, sering kali jaringan juga menjadi hambatan untuk mengikuti daring karena tinggal di daerah pedalaman ataupun cuaca yang buruk. Selain itu beberapa orang tua dari siswa SD mengalami kesulitan dalam menggunakan teknologi. Mereka kurang memahami bagaimana cara menggunakan aplikasi seperi zoom, google meet, classroom, dan sabagainya. Karena hal tersebut membuat para siswa tertinggal dalam pembelajaran sering kali juga malah orang tua mereka yang bersekolah kembali karena mengerjakan semua tugas anak mereka.

Penurunan minat belajar siswa mau pun mahasiswa karena Covid-19 ini tentu kita bisa lihat di lingkungan sekitar di mana anak SMP, SMA maupun mahasiswa itu memilih untuk bekerja sebagai nelayan, petani, buruh. Ada pula yang membuka olshop dan tidak sedikit dari mereka pun memilih untuk menikah daripada melanjutkan sekolah.

Tingginya angka pernikahan di bawah umur semenjak pandemi covid-19 ini terus bertambah, banyak yang memilih menikah ataupun dijodohkan yang masih berstatus siswa baik SMP hingga SMA yang membuat mereka terpaksa putus sekolah. Dampak pendemi ini sangat berpengaruh dalam lingkungan pendidikan apalagi dengan penerapan pembelajaran jarak jauh yang semakin membuat siswa maupun mahasiswa menjadi kurang memahami materi pembelajaran yang di berikan.

Dalam mengembangkan teknologi dalam pendidikan juga perlu ditingkatkan karena seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai pulau dan media yang diperlukan dalam itu masih sangat terbatas di beberapa daerah sehingga guru-guru mendatangi setiap rumah siswa agar tetap mendapatkan pembelajaran selama pandemi ini.

Seperti yang kita ketahui juga, bahwa tidak semua siswa memiliki alat untuk mengikuti sistem yang berlaku saat ini yang mengharuskan kita bersekolah secara daring. Selain itu kurangnya pengetahuan mengenai teknologi yang ada sekarang membuat orang tua siswa terkadang kurang memahami sehingga anak mereka hanya bermain saja tidak mengikuti pembelajaran.

Dari beberapa berita yang saya baca dan lihat, termasuk dari lingkungan, saya memahami pendidikan saat ini itu sudah diberlakukan pembelajaran secara langsung tetapi terbatas seperti di sekolah dasar mereka hanya belajar 3-4 jam/hari dengan hari-hari yang ditentukan dari pihak sekolah, dan  untuk SMP dan SMA mereka diharuskan vaksin terlebih dahulu agar bisa memngikuti permbelajaran yang dilakukan secara terbatas. Selain itu juga seperti 3 atau 4 kali pertemuan dalam 1 pekan, sedangkan di perguruan tinggi perkuliahan offline dikhususkan hanya untuk angkatan 2020 dan 2021.

Tidak sedikit dari dosen-dosen yang mengajak kita sebagai mahasiswa melakukan pembelajaran offline agar mampu memahami pembelajaran yang diberikan selama perkuliahan online atau daring. Dan beberapa mata kuliah mengharuskan kita melakukan kuliah kunjungan ke berbagai tempat untuk menunggang pengetahuan para mahasiswa.

Karena adanya kebijakan yang mengharuskan semua masyarakat untuk vaksin termasuk para pelajar banyak dari mereka yang memilih untuk tidak sekolah. Hal ini salah satunya disebabkan oleh berita bohong yang sudah terlanjut tertanam dalam pikiran mereka serta para orang tua takut untuk melakukan vaksin.

Tentunya hal ini menjadi salah satu masalah yang harus cepat ditangani oleh pemerintah agar para siswa maupun mahasiswa kembali menempuh pendidikan seperti sebelumnya, melakukan sosioalisasi secara langsung ke masyarakat ataupun ke sekolah agar vaksin terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan di luar.

Penting pula memberikan motivasi agar mereka menganggap pendidikan itu penting dan memiliki banyak manfaat untuk diri kita maupun lingkungan sekitar, menyediakan sarana dan prasarana agar memudahkan mereka dalam pembelajaran. Guru pun harus mengembangkan metode atau kreatifitas mereka dalam mengajar agar para siswa tertarik dan mudah mengerti mengenai pembelajaran yang di berikan dan kita juga perlu mengedukasi para orang tua mengenai dampak dari pernikahan dini itu sendiri.

 

* Mahasiswa Sosiologi Unismuh Makassar