Membaca Ulang Nalar Pengaderan dan Kepemimpinan IMM

Ditulis oleh: Taufiqurrahman

(Instruktur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

Pengaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dimaknai secara literal-tekstual dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) sebagai proses pembelajaran yang dilakukan oleh kader.

Pengaderan tersebut dilakukan dalam kehidupan yang secara substansial, diarahkan pada terciptanya sumber daya manusia dengan kapasitas akademik memadai, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, serta berakhlakul karimah.

Sebagai sebuah proses organisasi, pengaderan IMM diorientasikan pada upaya transformasi ideologis. Bentuknya adalah pembinaan dan perkembangan kader, baik kerangka ideologis maupun teknis manajerial.

Dalam tahapan yang lebih praktis, akumulasi proses pengaderan diarahkan dalam rangka transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM di setiap level kepemimpinan.

Sebagai sebuah teks pengaderan, Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) mengandaikan diri layaknya tuntunan organisasi yang menjadi rujukan setiap proses ber-Ikatan para kader IMM.

SPI tidak seharusnya sekadar dijadikan kitab suci pengaderan, akan tetapi lebih daripada itu, menjadi pedoman yang meletakkan kaidah dan proyeksi kepemimpinan Ikatan.

Ini karena kepemimpinan adalah bagian kunci dari proses pengaderan dalam Ikatan. Kepemimpinan bukan hanya satu proses aktualisasi perkaderan, tetapi juga merupakan penentu dari realisasi cita-cita subtansial pengaderan.

Cita-cita substansial itu yakni, terciptanya sumber daya manusia Ikatan yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman. Karenanya, seluruh proses kepemimpinan dalam kemestiaannya diarahkan pada cita-cita pengaderan yang dimaksud.

Seruan untuk memisahkan pasal kepemimpinan dari bab pengaderan berakibat pada kesenjangan kepemimpinan yang marak terjadi dalam Ikatan.

Ketidakcakapan para pimpinan memahami proyeksi pengaderan juga membuat para kader IMM terisolasi dari zaman yang terus berubah.

Ini diakibatkan oleh proses kepemimpinan Ikatan yang tidak cukup pandai mencengkoki para kadernya dengan kapasitas manusia abad dua puluh satu.

Di lain sisi, Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) dalam posisinya yang semakin otoritatif, sudah seharusnya membuka diri dari masukan dan kritik zaman yang terus berubah.

Menempatkan SPI dalam pembacaan yang masih ideal, boleh jadi hanya upaya berkilah dari “kemalasan berpikir” yang selama bertahun-tahun kita lestarikan dalam alam pikiran Ikatan.

Atau boleh jadi, kita ingin menyembah SPI sebagai doktrin final seperti akidah, bukan fikih yang berprinsip dinamis dengan kaidah dasar “taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azman wa al-amakin” – berubahnya hukum mengikuti perubahan zaman dan tempat.

Pengaderan Ikatan sesungguhnya sudah mesti dibangun di atas kesadaran kebaruan (Newness). Pengaderan juga sudah seharusnya mengiringi evolusi kemanusiaan yang bersumbu pada kemajuan, revolusi, juga perubahan sebagai istilah kunci bagi kesadaran modern.

Akumulasi kesadaran itu mengikatkan diri pada cita-cita Islam berkemajuan yang secara konseptual menghadirkan kesadaran beragama yang menjawab multi permasalahan pada setiap ruang dan zaman.

Karenanya, nalar kaderisasi Ikatan harus bertumpu di atas misi transformasi yang tidak hanya bercokol dan berhenti pada konsep “saleh” melalui individuasi spiritual atau transformasi diri (tazkiyatu an-nafs).

Nalar kaderisasi Ikatang sudah harus menyentuh kesadaran “islah” sebagai kesadaran kekhalifahan yang tertaut dengan misi-misi perbaikan dan pembangunan masyarakat (taslihatu al-ummah).

Kesadaran tentang cita-cita perbaikan dan pembangunan masyarakat, mengandaikan kebutuhan akan kualitas manusia yang berorientasi pada aksi (amaliyah) serta bersikap moderat (wasathiyah).

Karenanya, perumusan Sistem Perkaderan Ikatan sudah seharusnya beririsan dengan realitas keumatan Islam.

Realitas umat yang sedang mengalami krisis dimensi material sebagai perangkat teknis untuk mengurusi dunia ini sebagai khalifah di muka bumi.

Keseimbangan dimensi ruhiyah-spiritual (bukan sekadar agama sebagai fenomena yang berjarak dengan noumena atau makna hakiki agama) dan dimensi material adalah perpaduan yang mencirikan kesempuraan manusia Ikatan sebagai umat terbaik yang akan memimpin realitas perikehidupan umat manusia.

Realitas pengaderan IMM selayaknya memberi porsi bagi pengembangan perangkat teknis manusia ikatan abad dua puluh satu.

Demikian pula dengan proyeksi kepemimpinan dan misi diasporatik kader ikatan yang diamini secara bersama (sebagai hasil konsolidasi), serta dilaksanakan dalam agenda-agenda organisasi di setiap tingkatan.

 Demi menyambut misi kepemimpinan bersama itu, sudah selayaknya buku suci Sistem Perkaderan Ikatan dirumuskan dalam setiap priodesasi kepemimpinan pusat (muktamar).

Jika demikian, hal ini akan membuat konsolidasi pengaderan menjadi tawaran yang dibicarakan dalam semarak semangat perubahan arah kepemimpinan nasional IMM, bukan lagi menjadi teks yang dirumuskan dalam kesepi-sunyian yang kehilangan spirit dan proyeksi zaman.

Seperti Al-Farabi yang membayangkan negara utama (Al-madinah al-fadilah) dengan pemimpin utama yang dipersenjatai kemampuan Ijtihad dan Jihad sekaligus, demikian pula kita mengandaikan kepemimpinan Ikatan sebagai para manusia yang melihat IMM dalam bingkai sorot semangat perubahan (perkaderan) yang senantiasa berjuang menggapai misi ideologisnya sebagai manusia terbaik (khairu ummah).

Kita ketahui, khairu ummah ini merupakan profil kekaderan tertinggi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (instrument kepemimpinan).

Jangan sampai, Sistem Perkaderan Ikatan  (SPI) yang tidak tersentuh nalar ijtihad dan tidak diupayakan dalam jihad kepemimpinan, hanya malah menjelma Sumber Persoalan Ikatan (SPI).