Menelusuri Akal

Oleh: Resky Nuralisa Gunawan (Bidang PIP PW IPM Sulsel)

KHITTAH.CO – Halo kawan, perkenalkan saya makhluk Allah yang terbatas, di sini saya hanya ingin sharing berdasarkan apa yang saya ketahui. Tidak muluk-muluk, mari langsung saja kita bertapa eh menelusuri akal dengan tulisan saya.

Ohiya, saya jamin yang membaca tulisan ini adalah manusia, bukan binatang ataupun monyet, iyakan?. Okeh, kawan-kawan sekalian tau kan, apa yang membedakan antara manusia dengan binatang?. Iyah, bukan otak tapi AKAL. Soalnya binatang juga punya otak, sedangkan binatang tidak mempunyai akal.

Saya pernah membaca buku yang berjudul “Pokok-pokok Peraturan Hidup dalam Islam” yang ditulis oleh K.H Hafidz Abdurrahman, di buku tersebut dijelaskan bahwa para ulama’ kaum muslim ataupun kaum non-muslim belum ada yang berhasil merumuskan definisi akal tersebut. K.H Hafidz Abdurrahman telah melakukan riset, sebab ada yang mengidentikkan akal dengan otak, padahal sejatinya akal bukanlah otak. Otak adalah organ tubuh yang tempatnya di kepala, sedangkan akal tidak ada di kepala.

Akhirnya datanglah sosok Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang dengan cemerlangnya berdasarkan nash-nash dapat mendefinisikan akal secara renyah, dan menurut beliau ternyata akal adalah suatu proses berfikir antara realitas – pengindraan – otak sehat – informasi sebelumnya.
Okey kawan, kita pelan-pelan memahaminya!

Di dalam buku Dr. Samih Athif yang berjudul Jalan Iman, akal dijelaskan secara sederhana, yaitu kekuatan untuk menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang sesuatu. Dimana dalam menghasilkan suatu kesimpulan harus melalui empat komponen tadi (realitas – pengindraan – otak sehat – informasi sebelumnya).

Realitas merupakan kenyataan/fakta yang ada. Pengindraan merupakan proses mengindra realitas. Otak sehat yang dimaksud di sini adalah otak yang tidak mengalami gangguan jiwa, otak yang normal dan mampu menalar. Sedangkan informasi sebelumnya, adalah pemberitahuan lebih dulu.

Contoh, seseorang anak kecil yang berusia 3 tahun diberi pengajaran dari ibunya bahwa ini adalah pulpen (sambil menunjukkan pulpen kepada anaknya), maka anak kecil tersebut dapat mengindra (melihat) realitas yang ada, sehingga realitas yang ia indra tersebut dikirim ke otak lalu menyimpulkan bahwa kalau benda yang bentuknya seperti ini (berbentuk pulpen) maka ini disebut pulpen. Hal tersebut dapat disimpulkan karena terdapat realitas (terdapat pulpen), kemudian pengindraan (anak melihat pulpen), otak anak tersebut dalam keadaan sehat sehingga dapat menalar sesuatu, dan terdapat informasi sebelumnya dari sang ibu (bahwa ini adalah pulpen).

Hingga besar nanti, anak kecil ini akan menyimpulkan bahwa pulpen adalah pulpen, bukan buku adalah pulpen. Jadi, besok-besok sang anak pergi ke suatu tempat dan melihat benda yang berbentuk pulpen, ia akan dapat menyimpulkan bahwa benda ini adalah pulpen. Inilah kekuatan dalam menyimpulkan realitas, inilah esensi akal manusia.

Jika salah satu dari komponen akal itu tidak ada maka kita tidak dapat menyimpulkan sesuatu. Misal, ketika tidak ada realitas yang kita indra, bagaimana mungkin bisa dicerna oleh otak?. Alih-alih dicerna oleh otak, otak sebagai organ tubuh saja bingung mau ngapain. Contoh lagi, ketika menusia tidak mempunyai otak yang sempurna (orang gila), maka orang gila tersebut tidak dapat menghubungkan antara realitas yang diindra dengan informasi sebelumnya. Bisa saja orang gila ini ketika memegang batu akan dimakan, bisa saja orang gila ketika melihat sampah akan dimakan, yah namanya juga orang gila. Hal ini disebabkan karena orang gila tidak dapat menyimpulkan sesuatu, karena tidak memiliki otak yang sempurna (otak yang sehat).

Owyah kawan, dengan akal inilah kita dapat membedakan antara durian dan rambutan. Dan tentu dengan akal ini kita berbeda dengan monyet. Jangan beranggapan bahwa karena kita manusia makan pisang dan monyetpun demikian, lantas kita disamakan dengan monyet. Ohhh not like that! Manusia yah manusia, monyet yah monyet. Manusia mempunyai akal yang mampu berfkir, sedangkan monyet tidak dapat berfikir. Sekali lagi akal adalah proses berfikir untuk menyumpulkan tentang sesuatu melalui empat komponen, yaitu realitas – pengindraan – otak yang sehat – informasi sebelumnya.

Betapa istimewanya kita sebagai manusia yang diberi akal. Akal dapat membedakan kita dengan makhluk lain. Sebagaimana ketika manusia menggunakan akalnya dengan jernih, maka derajatnya akan lebih tinggi dibanding malaikat. Namun sebaliknya, ketika manusia tidak menggunakan akalnya, maka derajatnya pun bisa lebih rendah dibanding binatang.

Wallahu’alam