Mereka Mendengar dan Melihat

Oleh: Irnie Victorynie*

Ada cerita ringan, namun hikmahnya tidak enteng, bila diamati. Berawal dari bicang santai saya dengan seorang sahabat di sebuah tempat. Beliau adalah seorang guru sekolah dasar, dan beliau menjadi guru yang menyenangkan anak didik. Bisa dibilang, menjadi salah satu guru favorit di sana. Sampai pada suatu hari, sahabat saya menjalani perawatan dari dokter berupa pemakaian kawat gigi atau behel. Tak terduga, selang beberapa hari, ada kejadian yang mengejutkan. Saat sahabat itu hendak mengajar, beliau membuka pintu kelas dan menyapa anak didik seperti biasanya, kemudian sontak terkejut melihat sebagian besar anak didiknya kompak memakai behel.

Sambil tersenyum lebar, ia lalu bertanya pada anak didiknya, alasan mengapa memakai behel rame-rame dan beli darimana. Kemudian serentak mereka menjawab, “kan biar sama dengan Ibu. Belinya dari Abang-abang yang menjaul pernak-pernik di depan sekolah.” Sahabat saya lalu tertawa haru mendengar kejujuran dan kepolosan mereka.

Saat mendengar kisah tadi, sayapun ikut tertawa dibuatnya, seolah-olah hanya sebuah lelucon sepintas. Namun nyatanya tidak, kajadian itu tidak bercokol selintas di kepala. Sampai di rumah, masih saja melayang dan melayang-layang dalam ingatan. Akhirnya, saya menemukan beberapa hikmah dari peristiwa itu.

Memang benar, anak menyerap ilmu dari guru dengan cara mendengarkan dengan seksama, semua yang disampaikan dan dijelaskan oleh guru. memperhatikannya, para peserta didik belajar untuk selalu berdiri dan memperhatikan, agar memahami pelajaran. Tidak berhenti di situ, merujuk dari kisah tadi, saya amati, ada hal lain yang penting untuk dipertimbangkan oleh guru. Ternyata, anak didik dalam proses memperhatikan guru, bukan hanya menggunakan indra pendengaran saja, namun indera lainnya yang terlibat.

Kasus mereka menggunakan behel berjamaah, karena indera mata mereka yeng melihat guru kesayangan mereka mengenakannya. Disamping, mereka juga mendengarkan penjelasan guru. Benar kata pepatah Jawa, guru itu digugu lan ditiru. Setelah terbangun kasih sayang dan kepercayaan anak didik terhadap gurunya, maka dengan mudah anak didik akan meniru guru. Meski tanpa disuruh.

Jadi, dua poin tadi jangan sampai dilupakan oleh guru, bahwa anak didik memperhatikan guru, bukan hanya mendengarkan, tapi juga melihat. Sehingga hal ini menjadi rambu bagi guru dalam berucap dan berperilaku. Apapun yang keluar dari lisan guru, pertimbangkan dulu baik-baik, apakah kata atau kalimat yang terlontar bermanfaat untuk anak-anak atau justru sebaliknya. Pertimbangkan juga perilaku guru yang terlihat oleh mata anak didik, semuanya mesti mengandung keteladanan.

Sebagai tambahan, apa yang diucapkan oleh guru, Menggugat iringi dengan bukti perilaku yang sesuai dengan ucapan. Saya pernah mendengar sebuah kasus tentang itu. Ada anak didik yang tidak mempan dinasehati untuk berhenti merokok, padahal sudah berulang kali ditegur, dan dihukum oleh gurunya. Alasan anak tersebut cukup masuk akal. Dia bilang, Pak Guru melarang dia merokok karena tidak baik untuk kesehatan, tapi nyatanya, dia pernah melihat Pak guru juga merokok di sekitar rumahnya. Karena itu, dia tidak mempercayai dan menuruti nasehat guru tersebut.

Memang, itulah perjuangan seorang guru yang mengemban slogan digugu lan ditiru. Anak didik akan terus mempercayai dan meneladani guru, bukan hanya saat bertemu di lingkungan sekolah, namun juga di luar sekolah.

 

*Dosen Universitas Islam 45 Bekasi