Nabi Ibrahim dan Situasi Batas

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

Setiap tahun kita ber Idul Adha, seharusnya setiap tahun kita menambah khazanah pemaknaan terhadapnya. Tapi soal agama, sebagai keterlibatan diri kita secara bermakna pada sesuatu yang kita anggap sebagai “ultimate being”, bukanlah perkara mudah. Karena bagi saya agama pada dasarnya bukan sekedar perolehan identitas komunal religius tertentu, bukan hanya kepemilikan akan seperangkat rumusan kepercayaan tertentu.

Mungkin agama atau lebih tepatnya beragama (karena tak ada agama yang otonom dari manusia), lebih tepat digambarkan sebagai sebuah perjalanan. Semua kaum beragama laksana musafir, yang menapaki jalannya masing-masing atau syari’atnya masing-masing (dalam artian umum, bukan dalam artian fiqiyah belaka) . Yang sering melahirkan banyak tanya, banyak cek-cok, banyak peperangan, bukan disebabkan oleh tujuan akhir dari perjalanan, tetapi justru oleh proses perjalanannya itu sendiri. Para pemuka agama, sepakat bahwa, kita menuju pada titik akhir yang sama (kalimatun sawa), tapi tak pernah bersepakat soal detail dan teknis (mungkin) bagaimana kita melakukan perjalanan.

Saya tak akan mengulas banyak soal pluralitas agama-agama kali ini. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, agama (termasuk Islam) punya banyak kisah , mitos dan legenda, yang tujuan asalinya bukanlah untuk menyampaikan informasi historis tetapi dalam rangka untuk menghentak kesadaran kita, dan Kisah Nabi Ibrahim as salah satu di antaranya.

Karen Armstrong dalam bukunya “Masa Depan Tuhan” menjelaskan bahwa, kisah-kisah luar biasa, semisal mukjizat (terbelahnya bulan, lautan, memindahkan orang dalam sekejap, menghidupkan orang mati) yang termaktub dalam kitab-kitab suci agama, memiliki fungsi untuk, membuat “kaki” kesadaran keseharian kita menjadi “terantuk” oleh batu iman. Lalu mungkin ada pembaca yang bertanya, lalu apa yang terjadi jika kesadaran keseharian kita “terantuk” ?.

Yah, tak ada jawaban baku buat pertanyaan ini, tapi kita bisa belajar dari sejarah, bahwa seringkali peristiwa-peristiwa luar biasa (menggembirakan maupun mencekam) membuat manusia ingat untuk menoleh kembali dan bertanya tentang/mengenai dirinya (kontemplasi/muhasabah). Perang dunia I dan perang dunia II, membuat komunitas internasional menjadi sadar akan bahaya laten dibalik cita-cita banal “kemajuan” peradaban modern. Bocornya lapisan ozon di kawasan kutub bumi dan kelaparan massal di sebagian daerah benua afrika, menyadarkan para perancang pembangunan, bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah segala-galanya, dan nantinya akan melahirkan prinsip manajemen baru yang sebut triple-p bottom ; People-planet-profit.

Kita tidak harus menunggu peristiwa luar biasa berikutnya, agar kita memulai mengoreksi diri, budaya, ekonomi maupun peradaban kita. Kita bisa menoleh sejenak ke belakang melalui kitab suci dan dokumen sejarah, agar kita bisa lebih bermakna menapak ke depan. Membaca Kisah Ibrahim as. yang diperintah oleh Tuhannya untuk menyembelih putra tersayangnya (Ismail as.), saya rasa memiliki fungsi ataupun bobot yang sama.

Melalui essai sederhana ini, untuk menambah khazanah, ada baiknya kita mendaras pemikiran seorang filsuf asal Jerman yang bernama Karl Jaspers. Ada satu konsep dalam gagasan filosofis Jaspers yang saya rasa bisa dijadikan sebagai salah satu perangkat teoritis dalam memaknai peristiwa-peristiwa/kisah-kisah besar dalam agama. Konsep tersebut adalah “Grenzsituation” atau “situasi batas” jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Apakah “situasi batas” itu ?, ada baiknya kita mengambil jalan memutar dengan sedikit menjelaskan gagasan Jaspers soal eksistensi.

Bagi Jaspers, Eksistensi adalah hal yang paling hakiki dalam diri manusia, karena melaluinya manusia dapat berkata “Aku”. Hal ini agak miriplah dengan konsep “khudi” Muhammad Iqbal saat menjelaskan soal Insan Kamil (manusia paripurna). Eksistensi yang otentik hanya lahir saat manusia menghayati secara total kebebasannya, dan disinilah letak paradoksnya, bahwa manusia hanya bisa menghayati kebebasannya secara kaffah, saat dia mengalami atau menghayati “situasi batas” nya.

“Situasi batas” yang dimaksud Jaspers di sini adalah situasi yang tak bisa dihindari, dan baginya “situasi batas” adalah sesuatu yang sangat hakiki bagi eksistensi. Sampai-sampai Jaspers mengatakan “Mengalami situasi batas dan bereksistensi adalah hal yang sama”. “Situasi batas” memiliki banyak wajah diantaranya kematian, kesengsaraan, perjuangan, kebersalahan atau keberpasarahan pada nasib. Di antara semua situasi batas tersebut, yang paling dramatis dan mengundang kecemasan (angst) adalah kematian. Bagi Jaspers kematian ataupun kesengsaraan adalah jalan yang paling lapang sekaligus paling memilukan untuk mengasah eksistensi agar menjadi semakin otentik, karena kemakmuran hanya semakin membuat keautentikan diri semakin tertimbun dalam hutan rimba kedangkalan (shallowness).

Tapi sekali lagi, kita tak harus menunggu kematian orang-orang tercinta apalagi kematian diri kita sendiri, untuk memulai perjalanan eksistensi yang otentik. Kita bisa menoleh kepada kisah Nabi Ibrahim as. dan menjadikannya sebagai chiffren kata Jaspers. Chiffren adalah istilah yang dipinjam oleh Jaspers dari Pascal, yang berarti simbol-simbol atau semacam tulisan sandi yang menunjuk kepada “Yang Transenden”. Menghayati, memahami (verstehen) ataupun berempati terhadap Kisah Ibrahim as yang mengalami situasi batas menjelang kematian putra yang dicintainya dalam hal ini Ismail as., sedikit banyaknya membantu kita dalam menengok eksistensi diri kita, karena pencapaian ke-otentikan diri, bukanlah mengarah ataupun melalui pencapaian di luar diri, tetapi melalui “pendakian ke dalam diri” kata sebagian orang-orang arif. Dan “pendakian ke dalam diri” akan mengarahkan kita pada “yang transenden”.

Jaspers menyebut “yang transenden” dengan istilah das umgreifende dalam bahasa Jerman. Yang dalam bahasa Inggris, terjemahan paling mendekati dari das umgreifende adalah the Encompassing atau “yang melingkupi” dalam bahasa Indonesia. Apa maksud dari istilah “yang melingkupi” ? bahwa “yang transenden” melampaui dikotomi subjek-objek dalam teori ilmu pengetahuan standar. Artinya dalam membaca kisah, mitologi, legenda dalam kitab-kitab suci agama, termasuk kisah Nabi Ibrahim as. dalm hal ini, tak hanya cukup menjadikan kisah-kisah tersebut hanya sebagai objek hafalan atau objek pelajaran sejarah agama belaka, tetapi yang dibutuhkan adalah penghayatan yang dalam dalam keheningan bathin. Lalu penghayatan yang otentik akan melahirkan tindak prkasis yang otentik pula.

Salah seorang mistikus besar dalam Islam, dalam hal ini Syaikhul Akbar Ibnu Arabi, saat mencoba mena’wil kisah Nabi Ibrahim as menegaskan bahwa, pesan-pesan keagamaan itu memilki lapis-lapis makna, apa yang nampak secara literal (harfiah) terkadang tak menyampaian pesan langsung secara terus terang. Tetapi ketaqwaan (eksistensi yang otentik) akan membantu para insan membuka dan memahami lapis-lapis makna tersebut. Sebab Dia berjanji dalam Qur’annya yang agung “Jika kamu bertaqwa, maka Allah akan mengaruniamu pemahaman” (QS Al-Anfal : 29).