Para Pembunuh “Pembebasan”



Oleh : Ahlan Mukhtari Soamole

(Mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Karya Dharma Makassar dan Pegiat belajar Filsafat)




Mereka membunuh pikiran dan Kalimat pembebasan

Di era modernis ini semua keinginan sudah tersedia (secara praktis), manusia dengan gampang mudah memenuhi hasratanya. Hasrat kekuasaan hasrat hegemoni dan hasrat pasar. Hasrat-hasrat tersebut adalah hasrat pengetahuan yang pragmatis berlomba-lomba memuaskan diri secara masing-masingnya.

Di era modernis juga ditandai dengan lakon dunia politik baru (world political) berekambang di abad 21, dan negara-negara  berkembang sebagai pelopor politik baru tersebut. Demokrasi yang dicanangkan tak ubahnya demokrasi rakyat yang perjuangannya dilakukan oleh rakyat namun legitumasinya diperkosa oleh penguasa melalui propaganda neoliberlisme kapitalis.

Mengapa kita tidak tahu? jawabannya sebenarnya kita mengetahui namun hanya karena bangsa kita selaku negara berkembang, yang identik Negara euforia tingkat tinggi sehingga kita lupa menjajaki kembali identitas KeIndonesiaan yang sudah digebur habis-habisan mulai dari ekonomi politij, demokrasi hingga budaya kultural kita Indonesia.

Mensinyalir persoalan ini patut kita membutuhkan spirit ketergantungan terhadap ilmu pengetahuan yang bersifat emansipasi, melawan despotisme dan alay-isme. Tentu berangkat dari sebuah kalimat-kalimat progresif (aksrara) perjuangan yang sangat penting untuk membawa masyarakat pada proses penyadaran-penyadaran diri.

Kalimat-kalimat bermakna emansipasi, aksara peradaban revolusi dari kata kini tak terlihat lagi, dengung-dengungkan kalimat progresif, nampaknya telah dimatikan oleh bangsa kita sendiri. Digantikan dengan status facebook whats up yang alai dan mematikan paradigma rasionalistik KeIndonesiaan. Wajar saja media juga ikut berpartisipasi aktif dalam membungkam kalimat-kalimat revolusioner, media seakan menampilkan metodologi pendidikan politik neolib, dengan melibatkan paradigma pasar di dalam memuat informasi-informasi aktual berdasar laba. Kebebasan media seakan mematikan gerak kaum intelektual dan pemuda abad 21 tersebut.

Globalisasi dan penodaan ‘’intelektual’’.

Pengaruh gebrakan-gebrakan globalisasi yang dianggap sangat kuat telah menjadi momok bagi bangsa sekelas Indonesia bangsa besar berideologi berpandangan dunia namun tunduk seperti ‘kuda’ yang dikendarai seorang pengembara yang dikoordinir diarahkan secara fleksibel, mekanistik dan dominatif. Hal ini membuat bangsa Indonesia jauh dari kepercayaan diri sebagai bangsa berideologi sebagai bangsa yang beridentitas besar (big identity) untuk melawan berbagai hegemonitas global secara struktural siapakah pengembara kuda itu ya, tentu mereka para pengendali ekonomi dan politik global.

Apakah Indonesia dikendalikan juga oleh mereka jelas, tak dapat dipungkiri peranan Amerika Serikat sebagai aktor free market nampak sekali berleluasa di Indonesia mengarahkan segala kekuatannya untuk menguasai segala ekonomi dan politik secara inklusif (domestik) kekayaan alam Indonesia hampir sepenuhnya dikuasai asing bandit-bandit besar sudah hampir seperti fir’aun yang menuankan materi. Di Indonesia kekuatan kekayaan dikendalikan oleh 10 % orang kaya Indonesia dengan menguasai kekayaan Nasional sebesar 77 %  (world bank, 2015). Sangat fatal seorang bangsa sendiri (baca ; elite sudah seperti hewan ganas yang turun dari gunung bukan memangsa musuh melainkan memangsa saudara-seganas-nya sendiri akibat saudara seganas menyedihkan mengalami dekadensi kemiskinan dan degradasi trust.

Seorang tokoh selaku ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menuturkan lebih ironis lagi kekayaan yang dikuasai orang kaya Indonesia diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa. Di sisi lain penguasaan dan kepemilikan lahan di Indonesia saat ini dipegang hanya oleh segelintir orang, atau 0,2 persen. Mereka memonopoli jutaan hektar atau 74 persen luas tanah. Segelintir orang atau pihak tertentu itu termasuk perusahaan-perusahaan besar. Di antaranya, Sinar Mas Group, Asian Agri, dan DSN Group (Ombudsman, 2017).

Lantas berkaitan posisi intelektual sebagai platform penyadaran Ke-Ummatan dan Kebangsaan dalam hal ini Ke-Indonesiaan, perlu ke manakan arah perjuangan tersebut, apakah kita biarkan masyarakat tergerus dengan dinamika yang dipermainkan dan dipertontonkan oleh korporat global/globalisasi, yang sudah menjerumuskan masyarakat ke dalam kebimbangan kegaduhan dan keheranan.
Lantas, apakah kita juga ikut terjerumus atau memilih melakukan penyelamatan-penyelamatan secara inteletual dan moril, menjadi kekhawatiran jika intelektual memilih diam maka peranan globalisasi dapat saja memperkosa idealisme intelektual dalam posisi tidak melawan bergerak secara dinamis. Dan dapat saja intelektual kehilangan ke-perawan-an idealisme dan progresifitasnya.