Pemuda Muhammadiyah & Kemunafikan Kita

(Refleksi Musywil XV Pemuda Muhammadiyah Sulsel)

Oleh: Hamzah Fanshury

Kader Pinggiran Pemuda Muhammadiyah

“…ini telah digariskan, biarlah terjadi!

Aku tak usah ikut campur dalam urusan Tuhan.”[Victor Hugo]

Sebuah identitas sedang terjebak dalam logika yang krisis; pemuda Muhammadiyah. Logika yang tak kuasa menampik konstanta fakta-fakta yang ambigu, saat sebuah kondisi terseret-seret dalam alur yang sophisticated; di sana, dalam pemuda Muhammadiyah, kian banyak gejala yang sulit dicandra. Kata-kata berseliweran pada horison yang labil, yang saling beririsan tanpa textum penanda, tanpa referensi data gagasan dan laku, yang kita pungut dan kita himpun dari pedalaman sejarah. Dengan nalar kader yang tanpa reference itu, para kader pemuda Muhammadiyah seakan sedang mencoba menggenggam angin, memberi nama pada absurditas. Tentu saja yang akan ditemui hanyalah gejala; sekumpulan gejala yang kisruh. Tapi toh kita tak mesti mengalami nightmare karena persoalan-persoalan yang tak mudah diformulasi dan dicarikan jawab di tanah yang sedang goyah ini; pemuda Muhammadiyah.

Menunjuk pada sebuah waktu yang telah menjadi lampau, 2 mei 1932 masehi bertepatan dengan 26 Dzulhijjah 1350 hijriah, pemuda Muhammadiyah digagas yang akhirnya menjadi ruas cerita yang menandai identitas orang perorang, merangkumnya dalam frekwensi idea yang sama pada ranah komunal; kader. Terma kader adalah spektrum nilai yang menyambungkan setiap orang tanpa terjebak oleh segregasi ruang waktu. Artinya setiap kader boleh dan absah untuk menjelajah dan ziarah pada medan realitas mana saja, tetapi identitas dan nilai kader tak dibiarkan mengalami kedunguan kultural. Pemuda Muhammadiyah sebagai idea memberi kemampuan pada kader untuk membangun latar asumsi dan perspektif yang khas, membingkai alam pikiran setiap warganya dalam interaksi apa saja dan di mana saja.

Rasanya perlu memberi sedikit eksplanasi tentang apa itu nilai dan apa itu identitas. Nilai yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sistem keyakinan (belief system) yang relatif stabil mengenai suatu objek di mana ia berperan mempengaruhi sikap batin kita dalam memandang dan memberi atribut terhadap objek atau realitas itu. Sebuah nilai tidak berada dalam tata yang vakum, ia menenggang konteks dan zaman; gerak yang tak henti untuk terus menemu jadi. Sebaris on going process. Dengan kata lain, kita tak bisa menampik perubahan dalam garba kehidupan yang bisa mengabarkan kesenjangan, disintegrasi, krisis, kecacatan, dan mengancam runtuhnya bangunan nilai yang telah dikonseptualisasi. Karena itu perlu ada kesadaran limit atas sebuah konsepsi dan paradigma. Dalam penjelasan Thomas S. Kuhn, paradigma adalah sebuah lingkaran sains yang tak mengalami kata sudah dan henti dalam berpendar dan berputar. Bergerak mendalami logika demi logika realitas. Kesadaran limit konseptual dan paradigma penting agar kita tak terjebak dalam eksklusivisme anutan nilai.

Identitas bermakna bahwa ada kesadaran akan diri, atau sebentuk imajinasi tentang sosok seperti apa diri dalam kancah hidup. Dalam pandangan Anthoni Giddens, salah satu karakter kunci dari modernitas adalah apa yang disebut ‘proyeksi refleksif dari diri’ di mana individu bercermin pada identitas mereka sendiri sambil ia terus menerus melakukan konstruksi atasnya. Sebagaimana nilai, identitas juga mengalami ketegangan dan pemuaian dalam proses-proses kemenjadiannya yang melibatkan negosiasi (;teori ini berutang banyak pada pemikiran George H. Mead) antara diri dan pihak eksternal; sahabat, lingkungan tempat tinggal dan bertumbuh, dan juga bacaan.

Eksplanasi sederhana di atas dirasa penting sebab hari-hari menjelang suksesi kepemimpinan tingkat wilayah di pemuda Muhammadiyah, tiba-tiba saja terdengar sebagian orang mulai ramai berteriak-teriak tentang nilai dan identitas kader pemuda Muhammadiyah. Idealisme dan pragmatisme mulai diungkit dan disengketakan; riuh yang tiba-tiba dan lucu. Betapa tidak, ada deret waktu yang kita lewati, yang bukan hanya hitungan hari melainkan dekade dalam pemuda Muhammadiyah, tetapi siapa di antara kader yang rela berkeringat memeras nalar dan melakukan refleksi eidos; melakukan pencarian atas pemberi bentuk dan kondisi yang khas dari pemuda Muhammadiyah sebagai entitas partikular dalam jagad keindonesiaan dan kemanusiaan? Nyaris tidak ada. Setiap perhelatan permusyawaratan perbincangan tentang gagasan konseptual yang akan menjadi basis dan bingkai gerakan selalu mengalami periferalisasi; diskursus yang pinggiran. Tak menarik dan tak menggairahkan. Tak mengundang hasrat dan tak membangkitkan libido.

Kader-kader pemuda Muhammadiyah yang seakan dilepaskan dari kerangka dan postulasi idea yang tertata, niscaya akan mengalami kebingungan ‘defenition of the situation’ yang akut. Mereka yang berteriak-teriak tentang friksi kader yang ‘telah’ berpartai dan kader yang tidak berpartai, tentang kader yang ideologis dan kader yang pragmatis, adalah orang-orang yang terjebak dalam sebentuk pelabelan. Dan dalam labelling theory (H.S. becker;1963) pelabelan menciptakan atau memperbesar penyimpangan. Terantuknya mereka pada pelabelan bisa saja disebabkan oleh karena tidak adanya akses yang cukup terhadap bangunan konseptual yang dianut di pemuda Muhammadiyah saat ini; khittah, anggaran dasar, dan anggaran rumah tangga, atau bisa juga karena tidak adanya pergulatan yang intens dengan relasi mobilitas antar generasi. Mereka sangat mungkin adalah orang-orang yang sedang tersudut dipojok pergulatan dan kemudian tersesat melakukan pelabelan; orang-orang yang rabun realitas. Sungguh, ini tragika yang memilukan kalau tak sampai hati untuk disebut memalukan.

Ketika berhamburan realitas seperti sekarang ini, di mana yang bertarung dalam arena suksesi adalah kader-kader berpartai, adalah kader-kader yang jadi saudagar, adalah kader-kader yang pernah disepak keluar dari struktur karena membuat ‘marah dan kecewa’ kelompok di Pemuda Muhammadiyah yang punya interest politik kuasa, maka tentu saja itu merupakan hal yang tak perlu disikapi secara emotif reaksioner dengan berkata; hati-hati politisasi, hati-hati money politics, hati-hati pemanjaan finansial dengan mobilisasi peserta musywil melalui pembayaran SWO (baca; Sumbangan Wajib Organisasi) oleh kandidat calon ketua, hati-hati dengan karantina suara melalui karantina peserta musywil di hotel-hotel. Toh kita sesungguhnya telah cukup lama memberi ruang untuk hal-hal sedemikian itu bertumbuh dengan cukup cepat di tanah yang tak murni ini; pemuda Muhammadiyah.

Situasi yang sedang menggeliat menjelang Musywil Pemuda Muhammadiyah, memberi kita bukan hanya kisruh kata-kata melainkan juga menurunkan chaos identifikasional dalam ikhtiar mencari standar-standar etik dan filosofis baru dengan tergesa; seperti menginci harapan dari cermin masa lalu. Sementara “…masa lalu tidak lagi memberi banyak jawaban, namun jauh lebih banyak pertanyaan.” Maka pada akhirnya kita memang harus menerima dengan hati yang tak perlu gemuruh, bahwa “entropi adalah fundamental. Semua membusuk. Kristal yang tersusun sempurna pada akhirnya berubah menjadi partikel-partikel debu acak.” Dan pemuda Muhammadiyah rasanya memang sedang terjerat dan disandra oleh suatu situasi yang sesungguhnya telah lama disiapkan oleh kadernya sendiri; liturgi politik. Rumah kultural kita sedang dihempas angin kering yang berdebu; ia menyumbat jalan nafas kita. Mata memicing dan karena itu jalan kian nampak sempit. Selengkung kilasan pesan sedang dipampang; menerima gelembung-gelembung persoalan yang makin pekat lantas berkata lirih “kita mesti memaafkan diri sendiri,” atau memang akhirnya kita harus memilih jalan yang tak mudah untuk disepakati; “ayo kita berkelahi saja, sampai mati,” sebab “…tak ada yang lebih baik dari suatu pertengkaran kecuali berbentuk kericuhan, dan tak ada kericuhan yang lebih baik ketimbang sebuah revolusi.”

Kita tahu, bahwa “Tuhan menyediakan kriteria ideal untuk membuat keputusan-keputusan yang benar…menghilangkan kekhawatiran yang disebabkan oleh kebingungan akan eksistensi dan keterabaian.” Tetapi kita juga tahu sebuah identitas dan juga nilai laksana benih; ia hanya akan tumbuh dengan baik jika ia ditabur di atas tanah yang tak kerontang.

Maka pada akhirnya, di tanah yang tak murni; Pemuda Muhammadiyah, kita harus berani berkata; berhentilah berteriak soal politisasi, sebab jika kau tetap lakukan itu, kau hanya akan terlihat seperti si munafik yang menyebalkan!