Persaudaraan Qurani

Oleh: Muhammad Chirzin*

KHITTAH.CO, – Manusia mempunyai dua dimensi hubungan yang harus selalu dipelihara dan dilaksanakan, yakni hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama. Manusia niscaya menjaga harmoni, keseimbangan, equilibrium antara intensitas hubungan vertikal dan hubungan horizontal.

Interaksi Muslim dengan sesama didasari keyakinan bahwa semua manusia adalah bersaudara. Ukhuwah mengandung unsur persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Pepatah mengatakan, “Burung sejenis akan hinggap di dahan yang sama.” Orang pecundang akan berkumpul dengan orang pecundang. Semakin banyak unsur persamaan, semakin kokoh persaudaraan.

Kemajemukan merupakan sunnatullah dalam penciptaan makhluk. Kemajemukan bangsa-bangsa, suku bangsa, agama, dan golongan sebagai pendorong menciptakan prestasi dan penuntun perjalanan menggapai kemajuan dan ketinggian.

Al-Quran mengenalkan beberapa dimensi persaudaraan: (1) persaudaraan sesama manusia – ukhuwah basyariyah; (2) persaudaraan suku dan bangsa – ukhuwah sya’biyah wathaniyah; (3) persaudaraan nasab dan perkawinan – ukhuwah nasabiyah shihriyah; (4) persaudaraan sesama pemeluk agama – ukhuwah diniyah; (5) persaudaraan seiman-seagama –  ukhuwah imaniyah.

Persaudaraan sesama manusia disebutkan dalam QS Al-Baqarah/2:213.

Manusia itu umat yang satu. Setelah timbul perselisihan, maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS Al-Baqarah/2:213).

Persaudaraan kebangsaan difirman Allah swt dalam QS Al-Hujurat/49:13.

Hai manusia, Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci, bermusuhan). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (QS Al-Hujurat/49:13).

Di hadapan Allah swt semua manusia satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Muslim menjadi nasionalis dalam kerangka kemanusiaan universal. Ketika Muslim melaksanakan ajaran agamanya, pada waktu yang sama ia mendukung nilai-nilai baik bangsanya.

Persaudaraan nasab dan perkawinan difirmankan Allah swt dalam QS An-Nisa`/4:1.

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisa`/4:1)

Kehidupan keluarga adalah nikmat Allah swt.

Wahai orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, dijaga para malaikat yang keras dan tegas, tak pernah membangkang apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan (QS At-Tahrim/66:6).

Persaudaraan sesama pemeluk agama dinarasikan dalam QS Al-Kafirun/109:1-6.

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun/109:1-6).

Persaudaraan seiman-seagama disebutkan dalam Al-Quran QS Al-Hujurat/49:10.

Orang-orang mukmin sesungguhnya bersaudara; maka rukunkanlah kedua saudaramu yang berselisih, dan bertakwalah kepada Allah supya kamu mendapat rahmat (QS Al-Hujurat/49:10).

Kerukunan merupakan suatu kebajikan sosial. Allah swt berfirman dalam Al-Quran,

Kebaikan itu bukan karena menghadapkan muka ke timur atau ke barat; tetapi kebaikan ialah karena beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, Kitab dan para nabi. Memberikan harta benda atas dasar cinta kepada-Nya, kepada para kerabat, anak yatim, fakir-miskin, orang dalam perjalanan, mereka yang meminta dan untuk menebus budak-budak; lalu mendirikan shalat dan membayar zakat; memenuhi janji bila membuat perjanjian. Mereka tabah dalam penderitaan, kesengsaraan dan dalam suasana kacau. Mereka itulah orang yang benar, dan mereka itulah yang bertakwa (QS Al-Baqarah/2:177).

***

Iman dan takwa niscaya mengejawantah dalam perbuatan, baik dalam dataran kehidupan individual maupun kehidupan sosial. Keluarga adalah basis kebajikan, dan tiada imbalan untuk kebajikan kecuali surga. Rumah adalah surga jika menjadi pangkalan kebajikan, dan neraka apabila menjadi pangkalan kejahatan.

Keimanan kita harus benar dan ikhlas. Kita harus siap menerjemahkannya ke dalam amal terhadap sesama manusia. Kita harus menjadi warga yang baik dengan membantu segala kegiatan sosial, dan jiwa kita sendiri sebagai pribadi harus teguh dan tak tergoyahkan dalam menghadapi segala keadaan.

Iman bukan sekadar kata-kata. Kita harus menghayati kehadiran Allah swt dalam segala kebaikan yang datang dari hadirat-Nya. Segala kehidupan masa kini yang singkat tak akan memperbudak, sebab kita melihat hari kemudian itu seperti hari ini.

Mukmin niscaya bersatu, dan tidak bercerai-berai.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa; dan jangan mati melainkan dalam beragama Islam. Berpeganglah pada tali agama Allah, dan jangan bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, dan berkat nikmat Allah kamu menjadi bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran/3:102-103)

Mukmin niscaya tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah amat dahsyat siksa-Nya. (QS Al-Maidah/5:2)

Salah satu cara untuk meneguhkan persaudaraan ialah menjalin silaturahim.

Hai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan menciptakan darinya pasangannya; dan dari keduanya Ia memperkembangbiakkan sebanyak-banyaknya laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu selalu meminta dan jagalah hubungan keluarga. Sungguh, Allah selalu mengawasi kamu (QS An-Nisa`/4:1).

Silaturahim, menjalin dan memelihara hubungan keluarga, merupakan suatu tuntunan akhlakul karimah dalam Islam yang amat penting. Silaturahim merupakan sesuatu bentuk ketakwaan. Bangunan umat Islam tak akan berwujud tanpa silaturahim.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menghubungkan silaturahim.” (HR Bukhari).

Ibnu Umar sering kali berkata, “Siapa yang bertakwa kepada Tuhan dan memegang teguh tali silaturahim akan merasa hidup lapang, kekayaannya bertambah, dan keluarganya akan semakin mencintainya.”

Mukmin bertanggung jawab menjaga dan mewujudkan persaudaraan seiman dan seagama tersebut. Teladan persaudaraan ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw bersama kaum Muhajirin dan Anshar.

Orang-orang yang sebelum mereka bertempat tinggal di Madinah dan sudah beriman, dengan penuh kasih sayang menyambut orang yang datang hijrah ke tempat mereka, dan dalam hati mereka tak terdapat keinginan atas segala yang diberikan, dan mereka lebih mengutamakan Muhajirin daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kemiskinan, kesulitan. Siapa yang terpelihara dari kebakhilan dirinya, mereka itulah orang-orang yang berhasil (QS Al-Hasyr/59:9).

Pada suatu hari salah seorang dari kaum Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagi dualah tanah ini kepada kami dan kaum Muhajirin!” Nabi saw bersabda, “Tidak. Penuhi sajalah keperluan mereka dan bagilah kurmanya; tanah ini tetap kepunyaanmu.” Mereka berkata, “Kami rela atas keputusan ini.” Maka turunlah ayat tersebut yang menggambarkan kaum Anshar yang tak mementingkan diri sendiri.

Rasulullah saw bersabda, bahwa Allah swt berfirman, “Cinta-Ku wajib untuk dua orang yang saling mencintai karena Aku; cinta-Ku wajib untuk dua orang yang saling bergaul karena Aku; cinta-Ku wajib bagi dua orang yang saling mengunjungi karena Aku.” (HQR Ahmad).

 

* Guru Besar Tafsir Al-Qur’an UIN Sunan Kalijaga dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.