Politik Identitas IMM Vs Etika Mahabbah

KHITTAH.CO, Kecenderungan untuk menampakkan sentimen identitas dalam setiap kontestasi politik menjadi salah satu opsi sebagai alat yang paling ampuh untuk mempengaruhi kondisi pemilih, sehingga ke depannya dengan mulus bisa mendapatkan legitimasi kekuasaan.

Hal ini tak lepas dari paradigma yang mendepankan primordialisme, baik dalam aspek identitas kebudayaan, agama, mau pun aspek identitas profesi.

Bahkan, tak jarang aktor-aktor politik lebih mendepankan identitas yang lebih ekstrem yang beranggapan semisal dalam suatu daerah harus keturunan bangsawan atau keluarga tertentu untuk memimpin daerah tersebut.

Sedangkan daerah tersebut, notabenenya bukan daerah istimewa dan tentunya demokratisasi harus berjalan sesuai dengan mekanisme undang-undang yang berlaku. Hal tersebut bisa dikatakan sebagai pewajahan politik identitas.

Dikutip dari Manuel Castells, politik identitas sebagai partisipasi individual pada kehidupan sosial yang lebih ditentukan oleh budaya dan psikologis seseorang, di mana konstruksi identitas berada pada konteks yang selalu diwarnai dengan relasi kekuasaan.

Politik identitas semacam ini, yang didasarkan atas kesamaan identitas, menjadi penyebab utama munculnya konflik politik apalagi menyangkut tentang mayoritas dan minoritas.

Kondisi semacam ini menimbulkan kekhawatiran akan terciderainya perhelatan politik ketika politik identitas terus mengemuka.

Riset sosial yang dilakukan oleh Ari Ganjar Herdiansah beserta kawan-kawan mengungkapkan bahwa kuatnya sentimen identitas akan memengaruhi opini publik dengan melakukan mobilisasi pendukung yang didasarkan hanya identitas kelompok tertentu dalam perhelatan politik.

Hal ini terkesan jauh dari kondisi ideal yang seharusnya lebih fokus pada ide-ide substantif dan saling menerjemahkan visi misi kandidat dibandingkan isu-isu identitas kelompok.  

Kekhawatiran lainnya, sentimen identitas ini akan berimplikasi negatif terhadap pola perilaku individu dan sekelompok orang dalam berinteraksi di kehidupan masyarakat, terkhusus bagi Indonesia yang multikultural.

Iblisisme vs Cinta

Cara berpikir membeda-bedakan berdasarkan asal-usul atau paradigma primordialisme ini kata Prof. Yunahar Ilyas adalah paradigma iblisisme.

Iblis mengedepankan asal-usul penciptaannya yang berasal dari api dan merasa paling hebat sehingga menolak untuk menghormati Adam (manusia pertama) yang asal-usul penciptaannya dari tanah.

Cara berpikir seperti ini akan membuat individu atau sekelompok orang cenderung memandang rendah individu-individu atau kelompok-kelompok lain.

Pandangan tersebut akhirnya menjurus pada rasisme, intoleransi, dan konflik-konflik sosial lainnya.

Patologi-patologi sosial ini dapat diminimalisasi jika salah satu fokus kajian filsafat bisa dikejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat, yakni cinta atau mahabbah.

Cinta atau mahabbah (hubbun) memiliki makna “benih yang baik”. Artinya, benih yang baik akan menumbuhkan hal-hal yang baik pula.

Bahkan, cinta dalam pandangan filsuf Indonesia Fahruddin Faiz, menerangkan bahwasanya puncak kebenaran dan kebaikan itu ada pada cinta. Ini karena cinta adalah nilai pada hierarki tertinggi dalam kehidupan.

Konsep cinta seperti ini dapat mengikis ego primordialisme dan cara berfikir yang cenderung membeda-bedakan.

Erich Fromm menyebutnya sebagai cinta terhadap sesama. Menurut dia, jenis cinta ini merupakan pondasi dari semua jenis cinta.

Kepedulian, rasa hormat, dan pemahaman terhadap sesama dan upaya untuk melestarikan kehidupan merupakan cara kerja dari jenis cinta ini.

Cinta terhadap sesama ini menciptakan solidaritas dan keutuhan manusia. Perbedaan asal-usul tak begitu berarti jika dikomparasikan dengan identitas diri sebagai manusia.

Gunawan dalam studi tinjauan filosofisnya tentang problematika jatuh cinta mengakatakan bahwa cinta juga merupakan kenyataan universal.

Relasi dalam cinta adalah relasi yang menunjukkan harmonisasi. Tak ada kebencian antar sesama manusia. Relasi dalam cinta tak mempedulikan gender, suku, agama, mau pun status sosial.

Dalam cinta, berlaku hukum universalitas, bahwa kita semua sama, sama-sama memiliki identitas kemanusiaan.

Politiki Identitas IMM

Konsep cinta yang dijelaskan oleh beberapa ahli tadi sangat berperan penting jika kita bawa masuk ke dalam ranah perhelatan politik, khususnya yang akan dihadapi oleh kader-kader IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Sulawesi Selatan pada musyawarah daerah.

Para kandidat yang bersaing nantinya diharapkan tidak lagi berangkat dari sentimen identitas primordialisme.

Semisal menggiring kader-kader agar memilih harus berdasarkan kampus PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) atau Non-PTM, memilih kandidat Calon Ketua Umum (Caketum) harus berdasarkan dari kota madya atau bahkan memilih kandidat Caketum harus berdasarkan fakultas-fakultas tertentu dari suatu kampus.

Jika hal seperti demikian terjadi, maka kekhawatiran akan terciderainya perhelatan Musyda DPD IMM Sulsel sedikit banyaknya tentunya tak bisa dihindari.

Persaingan yang tadinya hanya dalam konteks memperaruhkan visi-misi, akhirnya tergradasi oleh isu-isu primordialisme.

Kader-kader, nantinya, cenderung tidak mengedepankan objektivitas dalam memilih calon pemimpinnya, tapi berdasarkan subjekvitas yang didasari ego identitas kelompok tertentu.

Pola-pola seperti ini seolah-olah menggambarkan kondisi politik kepartaian yang menurut tafsiran Mohammad Hatta dalam karyanya Demokrasi Kita merupakan suatu hal yang tidak berdasarkan prinsip the right man in the right place.

Kandidat Caketum yang nalar politiknya dilandasi dengan sentimen identitas apabila terpilih, nantinya, akan berpotensi tidak menempatkan komposisi-komposisi pimpinan tidak pada tempatnya.

Ia tidak  mempedulikan skill dan rekam jejak calon pimpinan. Asal dia punya kesamaan sentimen identitas maka akan tetap ter-cover menjadi pimpinan, meski realitanya tidak memiliki skill di bidang yang akan ditempatinya.

Sentimen identitas seperti yang dijelaskan tadi harus disikapi dengan bijak oleh para kandidat Caketum. Ini karena tak bisa dinafikan, akan selalu ada oknum-oknum individu maupun kelompok.

Bisa jadi juga, Caketum itu sendiri yang masih mengedepankan identitas primordialnya dalam setiap kontestasi pencarian pemimpin.

Lebih lanjut, para kandidat Caketum juga seyogianya harus berangkat dari ide-ide matang. Ide-ide yang dianggap mampu memberikan perbaikan organisasi dan menumbuhkan ranting-ranting kebaikan.

Demikian juga dengan menyajikan narasi-narasi persatuan, serta menjadikan perbedaan sebagai jalan cinta untuk ber-fastabiqul khairat.

Kandidat Caketum DPD IMM Sulsel harus mampu membangun cinta terhadap sesama yang menjalin relasi tanpa pandang bulu, baik dalam lingkup daerah, suku, mau pun background kampusnya.

Kualitas komunikasi ke atas (elite/senior IMM) sama pentingnya dengan kualitas komunikasi ke bawah (warga IMM) sehingga bisa menciptakan harmonisasi dan kolaborasi.

Ini karena, ke depannya, siapapun dari mereka yang terpilih nantinya, mereka bukan lagi ketua umum dari asal-usul terkecilnya, tapi ketua umum untuk semua daerah dan kampus dalam lingkup DPD IMM Sulawesi Selatan.

Ditulis oleh:

Saifullah Bonto

Kader IMM Sulsel/ Mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjajaran