Prof Syamsul Anwar: Kalender Islam Global Itu Maqashid Syariah

KHITTAH.co, Tokyo- Ada yang menarik dari pemaparan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Syamsul Anwar saat dirinya menjadi pembicara dalam kajian yang dilaksanakan Global Islamic Calender Community Japan pada Ahad, 26 Juni 2022.

Dalam pemaparannya, Prof Syamsul Anwar menegaskan, adanya suatu sistem kalender yang akurat sebagai bagian dari upaya manajemen waktu yang baik merupakan maqashid syariah.

Pasalnya, firman Allah Swt mengatakan bahwa umat Islam adalah bangsa yang satu (QS. Al Anbiya: 92 dan QS. Al Mu’minun: 52).

Penegasan tersebut mengisyaratkan, adanya konsep kesatuan dalam maqashid syariah. Konsep kesatuan ini salah satunya dapat diwujudkan dalam suatu sistem penanggalan yang meneguhkan umat Islam sebagai umat yang satu.

Hal tersebut ditegaskan pula dalam Firman Allah Swt yang berbicara tentang universalisme ajaran Islam (QS. Al Anbiya: 107 dan Saba: 28). Nabi Saw juga diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan bagi seluruh manusia.

Risalah Nabi Saw tersebut bersifat universal. Salah satu bentuk pengejawantahan universalisme berdasarkan risalah Nabi Saw adalah penyediaan suatu sistem kalender yang dapat menyatukan umat dalam sistem tata waktu terpadu dan universal.

Dalam hadis juga disebutkan bahwa bahwa puasa, Idul Adha dan Idul Fitri dilaksanakan pada hari semua umat Islam berpuasa, beridul fitri, dan beridul adha. Artinya puasa dan Id dilaksanakan serentak pada hari yang sama. Hal ini hanya mungkin dilakukan dengan adanya kalender global tunggal.

Dengan demikian, terwujudnya suatu sistem kalender yang akurat sebagai bagian dari upaya menejemen waktu yang baik dapat dipandang sebagai maqasid syariah.

Sebaliknya, Rukyat fisik dalam menentukan awal bulan termasuk bulan-bulan ibadah adalah sarana dan karenanya bukan tujuan (maqasid) dari hadis yang memerintahkan rukyat.

Tujuan hadis tersebut, yang mewakili maqasid syariah, adalah dapatnya ditentukan mulai puasa secara akurat dan pasti.

“Karena itulah, Kalender Islam Global yang tunggal bukan yang zonal merupakan bagian tujuan dari syariah. Sekarang umat Islam seharusnya bersama-sama dan bersatu wujudkan kalender Islam pemersatu yang berprinsip satu hari yang sama di seluruh bumi,” tegas Syamsul.

Menurut MTT PP Muhammadiyah, Kalender Islam Global merupakan utang peradaban yang harus dilunasi.

Ketiadaan kalender yang unikatif menyebabkan dunia Islam mengalami semacam kekacauan pengorganisasian waktu.

Ini karena kalender dapat berfungsi menciptakan suatu sistem kalender yang bisa mengatur kegiatan sosial maupun kegiataan keagamaan.

Beberapa ulama memberikan gagasan bagaimana kriteria kalender Islam global yang harus disusun. Nidlal Qassum, pria kelahiran Al-Jazair ini menawarkan Kalender Islam Global dengan konsep qudro-zonal, yakni kalender yang membagi dunia tempat berlaku kalender menjadi empat zona penanggalan, yaitu zona Asia Selatan-Timur-Tenggara, zona Asia Kecil, zona Afrika-Eropa, dan zona Atlantik-Amerika.

Ulama lain yang menawarkan konsep Kalender Islam Global adalah Mohammad Ilyas. Kalender yang ditawarkan cendekia dari Malaysia ini berkonsep trizonal, yakni sistem penanggalan yang membagi dunia menjadi tiga zona tanggal, yaitu zona Asia Tenggara, zona Timur Tengah-Eropa dan zona benua Amerika.

Berbeda dengan Ilyas, Mohammad Syaukat ‘Audah mengenalkan konsep dwizonal, yakni kalender yang membagi dunia menjadi dua zona penanggalan, yaitu zona timur dan zona barat.

Zona timur meliputi empat benua, yaitu Asia, Australia, Eropa, dan Afrika. Sedangkan zona barat meliputi seluruh benua Amerika.

Ketiga konsep Kalender Islam tersebut, meskipun mengklaim diri sebagai Kalender Islam Global namun nampaknya masih memperlihatkan pembagian wilayah penanggalan.

Ketiganya masih memungkinkan adanya perbedaan matlak. Jika demikian, perbedaan tanggal pada hari-hari besar umat Islam seperti hari Arafah sangat potensial dapat terjadi.

Kalender yang mengglobal seharusnya menjadikan seluruh kawasan dunia sebagai satu kesatuan matlak tempat berlakunya kalender dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.

Muhammadiyah sebagai salah satu pengusung Kalender Islam Global menilai konsepsi kalender yang ditawarkan Jamaluddin Abd ar-Raziq yang kemudian menjadi kesepakatan para ulama dalam Kongres di Istanbul tahun 2016 merupakan satu bentuk yang jelas dari Kalender Islam Global dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.