Puasa Ramadhan sebagai Energi Kenikmatan

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Kata-kata memiliki hubungan bahasa dalam teks, membuka dirinya dalam permainan bahasa yang tidak terbatas hingga ia diterobos melalui makna yang dibebaskan dalam teks. Memang betul, tidak ada satu makna untuk teks; ia selalu terbuka untuk kita baca, digali dan dibebaskan maknanya menjadi kata-kata baru. Sebagaimana kita memahami, bahwa kata puasa berarti menahan diri dari makan dan minum serta seluruh perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Seluruh kata Ramadhan berhubungan dengan sisi bahasa, diantaranya artikulasi dan derivasi. Artikulasi menyediakan muatan pada bentuk verbal dari dalil-dalil yang murni, tetapi masih kosong. Kelanjutan gerakan kata-kata ditandai oleh teori derivasi untuk tetap dari sumber asalnya. Kata-kata Ramadhan tidak pernah berhenti bergerak lebih jauh dan lebih menantang lagi melalui suatu derivasi, lalu saling bersambung sama lain  atau menyusun dirinya sendiri untuk merahi perbedaan artikulasi yang terbuka. Suatu hal yang sulit dilupakan pada kemampuan artikulatifnya menerobos jarak, dimana ia bergerak sejauh garis derivasi. Struktur penulisan berbalik arah menuju poros yang menghubungkan Ramadhan dengan makna iman yang mengartikulasikan ‘kenikmatan’. Disini menjadi jelas bahwa kata-kata tidak pernah berbicara sesuatupun, kecuali kata-kata kenikmatan terhadap seluruh pengendalian daya tarik, bujuk rayu atau godaan selama bulan Ramadhan. Hal ini juga bagaimana bentuk-bentuk pengetahuan esoterik muncul diantara bahasa Arabik dari orang-orang saleh yang mewariskan gaya bahasa majazi-metafora. Namun demikian, kata-kata Ramadhan dan puasa didalamnya diberkahi dengan tulisan kaligrafis, diboboti oleh bahasa Al-Qur’an menjadi sangat mungkin merahi titik kemajuan tanda-tanda ketakwaan. Kini, kata-kata nampaknya membutuhkan sedikit energi melalui kekuatan retorika spontan yang memberikan umpan-balik bagi kenikmatan yang lain atas huruf dan tulisan hijaiyyah.

Berkat tulisan hijaiyyah, kehidupan atau sejarah manusia berangsur-angsur berubah. Kata dalam bahasa lisan sesuai dengan kata dalam bahasa tulisan dalam pikiran pembaca sekaligus pikiran penulis, dari orang-orang yang memiliki hasrat untuk berpuasa ramadhan tidak lagi terungkap dalam ketidakbenaran atau ketidakpastian makna.

Dari titik tolak inilah, kata-kata mulai merenggut dan membangun kembali bahasa yang tidak mewakili atau merujuk pada dunia. Satu-satunya jalan bagi teks-teks termasuk teks agama (nash) adalah merujuk pada tanda keilahian sebagai ‘pusat rujukan’ bagi tanda-tanda lainnya seperti ‘tanda kenikmatan’. Lain halnya, tanda keimanan dan ketakwaan dari seseorang berarti prinsip pengetahuan atas bahasa tulisan Al-Qur’an mampu menciptakan energi tidak tertandingi jika ia dibaca sedalam-dalam dan seluas-luasnnya mata batin dan mata pikiran manusia. Al-Qur’an dan kekuatan tanda-tanda didalamnya mampu berbicara pada kita melalui benda-benda dan kata-kata yang ditandai oleh mata biasa. Mata dibalas mata, tanda diintimi oleh tanda. Kita akan melepaskan tanggungjawab kita terhadap suatu permainan bebas bahasa sebelum membangun struktur pembacaan terbuka dan terpadu atas tanda keilahian menjadi kata-kata dalam bahasa yang mengalami ‘taraf kenikmatan’. Dari ketidaknamaan ke nama-nama lain dari bulan Ramadhan persis kata dan tanda kenikmatan akan dirahi. Sehingga rentetan nama-nama lain dari bulan Ramadhan (syahrul ‘ibadah, syahrul Qur’an, syahrul rahmah, syahrul mubarak, syahrul tarbiyah, syahrul jihad wal-falah, syahrul shabr, syahrul judd) merupakan efek gravitisasi bahasanya bersama kata-kata tanpa mengenal kata akhir dalam kehidupan. Meskipun tanda kenikmatan tidak luput dari kata yang stabil dalam struktur bahasa umum yang ditopang dengan permainan yang membuat kita tidak mampu melepaskannya. Disaat permainan kata-kata melucuti makna transendental dalam buku pemikiran yang tidak memikirkan hal-hal kosong dalam fantasi, pikiran dan imajinasi. Nama-nama lain dari Ramadhan menjadi arus energi keilahian yang membuat seseorang melayang tinggi, meninggalkan lebih jauh dari ritual ibadah, bacaan, rahmah, keberkahan, ampunan, pendidikan, jihad, dan kemurahan tidak menutupi celahnya menjadi ‘taraf kenikmatan’ hingga berlalu begitu saja, sebagaimana kata-kata yang keluar dari orang-orang kusut sedang menikmati secangkir atau lebih kopi ditambah minuman yang memabukkan. Ia tidak lebih kuat dibandingkan kenikmatan akan jalan terjal, beronak dan berliku. Terjal, jurang, aral melintang, dan mendaki tanpa sintesis dialektika dalam kehidupan tidak lebih berpikir besar, akhirnya Al-Qur’an menuju rahasia kenikmatan yang dikandungnya tidak pernah dirampungkan dalam pemikiran manusia. Kenikmatan yang menggoda ditandai oleh tanda keimanan yang tegas dan konsisten agar orang-orang yang memilikinya bertugas untuk melepaskan beban nafsunya dari ketidakstabilan, kontradiksi makna dan penopengan rujukan yang sewenang-wenang.

Suatu rujukan tidak penting lagi apakah makna selalu tertunda dan tanpa batas atau dimana-mana hanyalah permainan dan dari satu jejak ke jejak lainnya atau tidak. Paling penting dari semuanya itu adalah ketidakhadiran makna hakiki dari kenikmatan sebelum datangnya kenikmatan hakiki itu sendiri. Mungkin juga tidak ada salahnya kita mencoba membicarakan kata Ramadhan yang memiliki ‘makna khas’. Ramadhan berasal dari kata ramdha, yarmadhu, berarti ‘panas yang terik’ atau ‘panas yang membakar’. Tanda dan struktur bahasa puasa Ramadhan (shaumu ramadhan/صَوْم رمضان) membebaskan dunia dari retakan permainan-permainan jejak dibentuk oleh asal-asul dan ketidakpastian makna dari titik pergerakan tanda keimanan ke tanda ketakwaan (QS [2]: 185). Pergerakan kata tanpa batas dan pinggir dalam Ramadhan meletakkan jejak-jejak sebagai tanda melalui durasi sebulan berpuasa. Dalam kuasa waktu atas tanda-tanda, kata ‘puasa’ juga memiliki ‘makna ganda’ dalam ‘kata yang sama’, dimana ‘puasa’ memperkenalkan permainan bahasa baru. Penggunaan bahasa direpresentasikan kata-kata dan ditunjukkan lewat suatu perbincangan. Taruhlah contohnya, Anton : “Mari makan siang”. Ahmad : “Maaf. Saya sedang berpuasa (fasting) sekarang”, “Saya sedang tadarrus Al-Qur’an”. Mungkin, jarang kita menemukan dan mendengarkan suatu kalimat dengan mengatakan: “Saya sedang bersedakah dalam bulan Ramadhan”. Seseorang akan mencomot pemikiran Derridean, bahwa ketidakhadiran batas atau pinggiran kata-kata membebaskan dirinya dari teks ataukah tulisan-asali (arché-writing). Sehingga, kita melihat ketidakpastian makna melanda kata, karena itu, semestinya kata tidak memiliki makna yang tetap. Jadi, kata sebagai ‘penanda’ terlepas dari prasangka, ide, konsep, retorika, dan emosi kecuali ditandai oleh kata itu sendiri. Selain seluruh kata dalam suatu bahasa membebaskan dirinya dari ‘rujukan’ kata-kata juga ‘celah’ dan ‘sumbu lainnya’ dalam tatanan bahasa yang sama. Setelah membebaskan dari paradoks, kata yang kita ucapkan semestinya sesuai dengan kata kita tuliskan di atas hamparan teks-teks supaya hasrat tidak terungkap dalam kepastian.

Boleh jadi ketidakpastian makna terjadi dalam dan diluar bulan Ramadhan dengan permainan bahasa akibat kehilangan rujukan ditandai dengan bahasa sebagai keseluruhan dan kata-kata hanyalah bagian-bagiannya yang membuat kita terpikat padanya. Sebaliknya, tatkala kita terjatuh dalam ‘kenikmatan bahasa’ (ni’matul lughah), rangkaian kata-katanya yang berlapis dan terbaharui sepanjang pemikiran. Kata-kata seperti lapar, haus, mulut, kerongkongan, perut, dan lainnya yang diidentifikasikan sebagai bunyi, warna dan durasi melalui tubuh murni-fisik menjadi cara bagi kenikmatan tersalurkan. Bahagia, senang, dahi berkerut dan bentuk ekspresi lainnya akhirnya tergiring dalam kenikmatan sebagai struktur bahasa. Jika seseorang merasa lapar atau haus, tubuh dengan bahasa yang diungkapkannya akan terlepas dari dunia luar. Lapar atau haus tidak dapat diselesaikan dengan merenung hingga larut malam. Ada saatnya berbolak-balik antara kenikmatan bahasa dan kenikmatan fisik (mata’u jasadiyah) menangani urutan ketegangan, kontradiksi, paradoks, pergantian, dan keterputusan makna teks yang membuka dirinya demi kenikmatan lainnya. Kata-kata yang mengalami perbedaan tulisan ditemukan dalam bulan Ramadhan; kenikmatan tanpa hirarki, tanpa tingkatan teks yang jelas dan tersembunyi. Pergerakan kenikmatan terjalin satu sama lain, saling menopang, saling mengalir, dan silang menyilang kata antara satu dengan lainnya. Tanda kenikmatan yang satu berganti, bergeser dan berubah dengan tanda kenikmatan lainnya. Bentuk kenikmatan fisik (mata’u jasadiyah) seperti makan, minum, busana, rumah, kendaraan, perabot rumah dan sebagainya muncul akibat ketidakhadiran kenikmatan psikologis (ni’matu  bathiniyah): liburan, musik, lukisan, dan hiburan lainnya. Kenikmatan psikologis tidak memuaskan sebagai akibat ketidakhadiran akan kenikmatan filosofis (ni’matu aqliyah): pengetahuan akan teka-teki realitas, kesadaran dan hasrat. Pada lapisan yang sama, kenikmatan fisik dan kenikmatan psikologis tidak terpenuhi akibat dari kekosongan akan kenikmatan intelek (mata’ul fikr): penalaran logis, menulis novel, buku, artikel, meneliti atau analisis diskursus, dan kontrol sosial. Selanjutnya, kenikmatan intelek tidak memuaskan akibat dari ketidaksaluran akan kenikmatan seksual (as-surur al-jinsiy): persetubuhan berlangsung secara panas di luar siang hari puasa Ramadhan.

Energi kenikmatan fisik dan kenikmatan lainnya yang mengalir darinya akan berada dalam perubahan energi tidak terbatas. Selama kenikmatan hakiki (mata’atun haqiqiyah) berlangsung dalam bentuk kenikmatan lainnya, maka aliran energi kenikmatan dari puasa ramadhan melakukan perubahan energi konsumsi barang-barang saling mengiringi tanda-tanda ‘kenikmatan dari sang zuhud-libidinal’. Satu hal lagi, mengapa kita menyebut bentuk baru dari energi ilahi dalam kenikmatan? Mengapa kita melabelisasikannya sebagai dalil-dalil agama? Dari mana kita mengatakan, bahwa libido tidak menjadi kenikmatan hakiki?

Secara khusus dalam persfektif sufisme, setiap kenikmatan ‘materi’ dan ‘psikis’ tidak memiliki tempat bagi kepuasan, kecuali kenikmatannya akan terjatuh dalam ilusi. Menurut diskursus kesufian, takhalli ‘an al-radzail, berarti membersihkan diri kita dari sifat tercela menjadi tahapan awal untuk membersihkan jiwa, hati dan pikiran seseorang. Kata-kata dan perubahan energi berlangsung taraf kenikmatan dalam bulan Ramadhan sejauh kita mampu berada pada tahapan tahalli bi al-fadail, yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia akan bergerak menuju ‘fase spiritualisasi yang lebih tinggi’ (tajalli), yaitu hakikat. Tetapi, dalam kenikmatan radikal yang saling tumpang tindih, saling beririsan dan saling menyatu antara satu dengan lainnya tanpa dogma, kategori dan tingkatan. Kenikmatan hakiki bergerak dari jenis energi yang tersosialkan yang mampu berada dalam ‘penanaman kenikmatan’ dalam puasa ramadhan dengan variasi ibadah seperti tadarrus, tarwih-qiyamul lail, bersedekah pada kaum fakir miskin dan kaum dhuafa, zikir, dan kerja di masing-masing tempatnya. Perubahan energi kenikmatan fisik, seksual, psikologis dan lainnya merupakan kenikmatan spiritual (ni’matu ruhaniyyah) saling berhilir-mudik secara internal menjadi suatu energi kosmik yang berdaya pikat. Dalam titik nadir kekosongan akan kenikmatan hakiki, setiap kenikmatan akan kembali bergerak menuju tanda kenikmatan spiritual melalui mujahadah  atau riyadhah  (disiplin dan  latihan diri secara serius) selama bulan puasa ramadhan untuk membersihkan hati, jiwa, pikiran, dan perbuatan yang tercela (QS [91]: 9-10). Kenikmatan hakiki dalam tradisi sufistik modern akan berlangsung ‘perubahan energi baru kenikmatan’ dari kenikmatan bersifat individual ke kenikmatan bersifat sosial sekaligus menjadi tanda kebahagiaan bagi kemanusiaan itu sendiri.