Ramadhanologi : Aku dan Sang Lain (2)

Oleh: Ermansyah R. Hindi

Sekretaris PD. Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Berbeda dengan “Aku” sebagai fantasi atau arus libido di hadapan “sang Lain”: seorang wanita saleha sedang beribadah dalam masjid menjadi obyek pria saleha dalam kehidupan sehari-hari diganti atau diubah dengan energi puasa Ramadhan secara nyata dan simbolik. Berkat waktu sebagai tanda yang menguasai manusia masih berada dalam ‘otomatisasi keterlemparan diri-hitungan mundur, tempat dimana “Aku” tidak dapat didefinisikan lagi. Sejauh “Aku” melihat tidak sebanyak yang “Aku” munajatkan dan renungkan didalam perjalanan panjangku di tengah obyek-obyek belanja tanpa batas, temaran cahaya lampu kota, dan terik panas di malam hari dari realitas baru menjelma menjadi “sang Lain” (akhir dari metafora), di saat itulah, kita memulai suatu perjuangan demi perjuangan di sebelas bulan di luar bulan Ramadhan.

Baca juga : Ramadhanologi : Aku dan Sang Lain (1)

“Aku” akan membebaskan diriku dari jeratan rantai subyek secara imajiner dan simbolik (seperti orang Kaya melihat depositonya di Bank). Sedangkan, “Aku-disana” hanya mengidentifikasi sebagai orang lemah atau sangat bergantung pada sesuatu yang bukan “Aku berpikir”. ‘Kepedulian’ dan ‘kedirian’ merupakan kabut tebal bagi “Aku” hingga tidak melihat diriku sebagai ‘obyek temporalitas Ada yang meruang’ (melalui layar televisi, iklan atau dunia virtual) menjadi obyek berulang-ulang, akhirnya terjatuh kedalam makna yang kosong. “Aku” kini tidak menyebar, beredar, dan bermain; hanya “Aku” dan terhadap titik “sang Lain” (the Other, al-Ãkhar). Tetapi, sejauh pernyataan-pernyataan yang terbuka untuk dihadapkan pada jejak-jejak ketidakhadiran dan ‘cara identifikasi’ terhadap “Aku” yang bergumul diantara jejaring metamorfosis: rangkaian tanda-tanda kenikmatan, produktivitas, pengendalian diri, dan pelatihan ruhani agar terbebas dari godaan nafsu angkara murka. Dari sini, “Aku” tidak hanya keluar dari kesementaraan, tetapi juga keseharian dan kedirian melalui kesenangan pada patahan, reruntuhan, celah, dan tempelan makna dan dunia. Jejaring metamorfosis: ber-Islam, beriman, dan bertakwa tidak dilatih dengan makan, minum, bersenggama atau larangan berbicara kotor dan menonton sesuatu yang membatalkan puasa, tetapi pengendalian atau pembebasan diri dari nafsu birahi yang represif menuju ‘wujud personal-seksual-sosial yang teruhaniakan-terspiritualkan’ sebagai ajaran utama Ramadhan.

Kembali ke “Aku”, ia tidak melebur, tidak menggandakan dan menjelma diantara salah satu subyek dan obyek, kecuali “Aku sendiri” dibentuk oleh diskursus. Bukan hanya Ada-Disana dan diskursus dalam keseharian, tetapi kata-kata tertulis tertuturkan datang dari teks ilahi yang tidak kosong juga bergerak keluar dari tulisan mistis atau religi untuk disaksikan, tetapi tidak terpikirkan. Ada kemungkinan pengetahuan tentang pergolakan nafsu terjadi perubahan terus-menerus yang berlangsung antara “Aku” dan “sang Lain” yang melihat tanda-tandanya, karena tersingkapnya rahasia sesuatu sejalan dengan berakhirnya tanda dibalik ketidakhadiran representasi dan keintiman seseorang dengan keilahian. Sebaliknya, struktur bahasa untuk “mengingat” dan “membebaskan” dihasrati melalui struktur tatapan tanpa subyek-citra-obyek-layar, titik dimana jaringan ego-Cartesian mengorbankan dirinya demi dunia eksternal yang dihindari sudah ada sebelum waktunya.

Suatu ‘ego’ yang bermain antara ide dan mimpi, simbolik dan nyata yang menyusun secara rapih sebuah bangunan dunia paling nyata yang dilihat dari setiap sudut pandang (kecuali ‘wujud nyata’ dari uang). Tetapi, sepanjang bulan puasa Ramadhan muncul kemiripan dan penggandaan menerobos ‘celah’, ‘alur’ dan ‘saluran’ bagi hasrat untuk beribadah, baik sembunyi-sembunyi dan terang-terangkan. Misalnya, seseorang beri’tikaf di sepuluh hari terakhir merahasiakan turunnya Lailatul Qadri dalam bulan Ramadhan akibat teks-teks tertulis yang menuntunnya memasuki celah, alur, dan saluran (Derridian) untuk mencapai penyatuan sekaligus pemisahan diri antara “Aku” dan “sang Lain”.

Dalam teks hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang masyhur dinyatakan: “… Puasa (Ramadhan) untuk-Ku, dan Aku yang memberinya pahala”. Kita akan teridentifikasi dalam diri, seperti manusia beriman menuju “sang Lain” sebagai “tanda Keilahian”; tidak hanya mengalami proses pembakaran dari seseorang berpuasa, melainkan proses pengembalian diri bahkan meningkat pada suatu proses pengingatan sekaligus pada taraf keintiman yang tidak terpikirkan atau tidak terbayangkan. Proses pembakaran diri dalam medium Ramadhan bukanlah proses dari sesuatu yang palsu dan topeng menuju sesuatu yang alami dan asli, melainkan “taraf kematian”, jika bukan ketiadaan sebelum kehidupan ini diciptakan oleh “sang Lain” berbeda dengan struktur bahasa dan kerangka logis yang disusun oleh manusia dari sekian abad lamanya hingga sekarang. Tidak lebih dari kehidupan dengan perubahan terus-menerus dibangun dari relasi antara “Aku” dan “sang Lain” setelah mengalami “yang Sama didalam yang Berbeda”. Pada “taraf keintiman” dan “tanda kefitrian” bukanlah suatu keadaaan daur-ulang atau reproduksi ingatan dan citra, tetapi “sang Lain” adalah deteritorialisasi: tidak memiliki tempat melalui prasyarat kurang dari “yang Sama ketimbang Aku”.

Sekiranya pemenuhan hasrat untuk “mendekati” atau “mengintimi” sesuatu terjalin antara orang-orang beriman sedang berada pada kesatuan “yang Sama sebagai “Aku” didalam “sang Lain”, baik secara nyata, imajiner maupun simbolik memiliki jejaring metamorfosis sendiri yang berubah terus-menerus dari ‘meditasi Cartesian’ ke ‘meditasi Ramadhan’ yang memiliki perbedaan batin, dari ‘unsur materi’ ke ‘unsur ruhani’. Ada sesuatu hal yang menarik tatkala terjadi penyatuan “Aku” (orang berpuasa) dan “sang Lain” (Ilahi) akan menjadi “tanda kegilaan” melalui medium i’tikaf yang telah melupakan dunia luar dengan kehiruk-pikukan yang merajalela. Dalam ketidakngawuran bahasa yang keluar dari ilusi yang menghantui sintaksis transendental atas ‘ego yang lain’: “Aku (orang-orang berpuasa) menemukan diriku dalam kegilaan. Setiap Aku menghindari kegilaan, muncul kegilaan yang lain.

Suatu kegilaan terjadi dalam ketidakhadiran rumah sakit jiwa, tanpa ditemukan di emperan toko, tanpa berdiri dan berjalan di pinggir jalan, dan disaat tidak ada lagi orang-orang gila. Pada saat Aku berlari-lari kecil, kegilaan nampak seperti seberkas cahaya di ujung lorong gelap yang tidak datang padaku dengan aura kekerasan. Aku tidak tahu siapa yang memanggilku bertumpang-tindih suara bergambar dan suara tertulis yang tidak pernah Aku dengar sebelumnya. Dia (sang Cahaya, sang Lain) memanggilku di tengah kewarasan orang-orang yang tenggelam kedalam ilusi kebenarannya sendiri”.

Demikian pula, selama tidak membelenggu kita, setiap teks seperti jam dinding, suara adzan di masjid, jadwal Imsakiyah, atau syiar agama muncul di televisi adalah kode atau tanda. Tetapi, dalam hadits qudsi:  “Aku selalu ada sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku” sebagai tanda keintiman tidak terkhayalkan. Puasa Ramadhan memperkenalkan dirinya melalui “tanda kerahasiannya” melebihi “tanda irasionalitas yang rasional” justeru memiliki perbendaharaan ketidakngawuran bahasa tanpa batas sebagai dialog antara ‘unsur hewani’ dan ‘unsur malakuti’, ‘palsu’ dan ‘asli’.

Jadi, pernyataan dan hubungan logis dari “sang Lain” sebagai penanda ‘ego yang lain’, “sang Lain” seperti lainnya dimurnikan dan direfleksikan melalui orang beriman sebagai “Aku yang lain” yang menjalankan puasa Ramadhan mencoba meniru sifat “sang Lain” (sang Ilahi), diantaranya meliputi rangkaian “penyayang”, “penyantun”, “pengampun”, “perkasa”, atau  “mengetahui” secara relatif dari seseorang yang semula bersifat pribadi menjadi bersifat sosial.

Karena itulah, “sang Ilahi sebagai sang Lain” dengan energi-Nya mampu diserap sekaligus dipancarkan oleh orang-orang beriman yang berpuasa sebagai “Aku yang lain” tidak terbeli dengan egoisme (ananiyah). Kata lain, “Aku yang ter-Ilahikan” tidak tereduksi dengan egoku sendiri. Dalam puasa Ramadhan, “Aku yang lain” dari orang-orang beriman yang berpuasa melampaui “Aku adalah …..”, “Aku berpikir …..” yang berada pada proses ‘de-logosentrisme’ didalam struktur bahasa dunia yang fana.