Rektor UIN Alauddin Takjub dan Cemburu ke Unismuh, Lincolin: Wisuda yang Luar Biasa!

KHITTAH.CO, Makassar – Koordinator Kopertais (Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam) Wilayah VIII yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis mengaku takjub dan iri kepada Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Hal ini ia sampaikan dalam sambutannya pada Wisuda ke 77  Diploma, Sarjana, Profesi, dan Magister Unismuh Makassar, Sabtu, 8 Oktober 2022 di Balai Sidang Muktamar kampusnya.

“Yang ingin saya katakan pada kesempatan ini, saya sangat takjub, sekaligus cemburu. Saya takjub melihat proses akademik yang sehat, produksi wisudawan yang membludak. Namun, di sisi lain, selaku Rektor UIN Alauddin Makassar sangat cemburu,” kata dia.

Hamdan mengungkapkan, kecemburuan dirnya karena Unismuh Makassar bisa melakukan wisuda di gedungnya sendiri dengan wisudawan dan wisudawati yang sangat banyak.

“UIN Alauddin belum bisa melakukan itu. Kami itu, menyewa, dicicil,” ujar Hamdan disusul tawa kecil hadirin.

Kecemburuan kedua, kata Hamdan, karena Unismuh Makassar sudah ketiga kalinya memproduksi wisudawan-wisudawati dokter, sementara UIN Alauddin baru pertama kali pada wisuda yang baru saja dihelat.

“Akreditasi Kedokteran Unismuh Makassar sudah “A”, sementara akreditasi kedokteran UIN Alauddin baru-baru ini meraih predikat ‘baik sekali’. Wajarlah saya cemburu,” kata dia.

Namun, Hamdan menyebut, kampusnya juga memiliki kebanggaan tersendiri, karena Rektor Unismuh Makassar, Ambo Asse adalah guru besar UIN Alauddin.

“Warek II Unismuh Makassar (Andi Syukri Syamsuri)  juga Guru besar UIN Alauddin yang pada akhir bulan ini UIN Alauddin akan mengukuhkan sebagai guru besar ke-57  UIN Alauddin. Tapi saya pikir, ini sudah impas,” kata Hamdan.

Hamdan berharap, kecemburuannya itu akan selalu membuat pihaknya dan Unismuh Makassar untuk terus meningkatkan performanya.

Hamdan juga mengacung  jempol atas Fakultas Agama Islam Unismuh yang selalu aktif memproduksi sarjana dan magister. Terlebih, dalam waktu dekat,am untuk prog doktor juga akan segera menyusul.

“Luar biasa, Fakultas Agama Islam melahirkan 172 orang calon intelektual, cendekiawan muslim, yang akan selalu mengharumkan Unismuh Makassar,” tutur Hamdan.

Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Lincolin Arsyad juga menyebut Wisuda Unismuh Makassar ini sebagai yang terbanyak wisudawannya.

“Kemarin saya di Samarinda sudah banyak, 1000 lebih, ternyata di sini 2000 lebih, luar biasa. Duduknya pun berbeda, biasanya kami duduk di depan, tapi karena penuh oleh para wisudawan, kami duduk di samping panggung. Saya sangat bangga,” ujar dia.

Pesan Lincolin Arsyad

Kepada para wisudawan, Lincolin Arsyad berpesan agar selalu berinovasi. Ia mengingatkan bahwa IPK hanya salah satu modal untuk mencapai kesuksesan.

Hal yang tidak kalah penting, kata dia, Alumni Unismuh, harus memiliki integrasi dan inovasi, “Bukan hanya pintar, kutu buku, IPK yang tinggi, tapi inovasi, menciptakan sesuatu yang baru, itu baru jempol.”

Menurut dia, kunci kemajuan bangsa adalah inovasi, yaitu Resarch and Development. Hal itu ia gambarkan dari contoh yang diberikan oleh peraih hadiah Nobel dalam bidang Ekonomi, Michael Robert.

“Ketika ia menerima hadiah Nobel, Michael Robert mengucapkan terima kasih pada pokok pikiran ekonom. Michael Robert menggunakan metode matematika ekonomitrika, dia gunakan modal-modal kuantitatif yang para ekonom sebelumnya hanya menggunakan pendekatan kualitatif,” kata Dosen FEB UGM ini.

Karena itu, Lincolin Arsyad berpesan kepada para wisudawan bahwa ilmu harus diterapkan dalam kehidupan sosial.

“Kalau kita hanya belajar untuk diri kita sendiri, mungkin saudara tidak perlu kuliah di sini, belajar saja sendiri di rumah. Ilmu itu harus diterapkan untuk kehidupan yang lebih baik.”

Ia menambahkan pesan kepada wisudawan, bahwa jadilah muslim yang baik. “Kita di sini belajar AIK, Agama Islam dan Kemuhammadiyahan, itulah beda kita dengan perguruan tinggi lain. Agama Islam dan Kemuhammadiyahan itu terapkanlah, minimal untuk diri kita sendiri.”

Terakhir, ia menekankan, perguruan tinggi sebesar Universitas Muhammadiyah Makassar harus memiliki pengajar yang doktor dan professor, sehingga semakin berkualitas.

“Untuk Pak Rektor, jangan lupa, teman-teman dosen yang belum doktor, segera diitik-itik, supaya segera berangkat doktor, di luar maupun dalam negeri,” tutupnya.