Sa’i, The Karate Kid, dan Tetesan Air pada Batu: Kekuatan Fokus sebagai Hukum Universal

Oleh : Agusliadi Massere*

 

KHITTAH.CO, – Masih teringat kurang lebih Sembilan tahun yang lalu, pada saat itu saya mengikuti siaran langsung shalat tarawih di Makkah ketika terbangun pada pukul 03.00 dini hari sambil menunggu istri terbangun menyiapkan hidangan untuk makan sahur. Saya menemukan (tepatnya, seperti mendapatkan percikan inspirasi) sesuatu yang sangat luar biasa, hukum universal yang bernama fokus.

Sambil meresapi bacaan ayat–ayat Al-Qur’an yang dilantunkan Imam Masjidil Haram, saya teringat dengan sebuah kata “Sa’i”, “Film Karate Kid” dan “Tetesan air pada batu”. Pada dini hari saat itu, saya menarik sebuah hipotesa bahwa pada dinamika sa’i, film Karate Kid dan tetesan air pada batu terdapat hukum universal, “bahwa sesuatu yang sulit bisa terjadi ketika kita fokus”.

Sesuatu yang sulit, maksudnya bisa berupa tidak masuk akal (tidak rasional), di luar kalkulasi logika berpikir atau di luar dugaan orang secara umum. Hal ini, saya temukan dari kekuatan metaforma yang telah saya pelajari dalam buku Berpikir Ala Einstein, Karya Todd Siler, Ph.D. Suatu kemampuan untuk menghubungkan antara suatu kejadian dengan kejadiannya lainnya.

Sa’i (lari-lari kecil tujuh kali bolak-balik dari bukit Shafa ke bukit Marwah), sebagai bagian rukun haji secara historis adalah sikap dan tindakan atas kebingungan Hajar, istri Nabi Ibrahim ketika melihat putranya (bayinya) Nabi Ismail kehausan di tengah lembah dan terik matahari yang menyengat, sedangkan air ASI-nya pun tidak ada. Hajar ketika melihat bayinya Ismail dalam kondisi­­­­ memprihatikan–Eko Prasetyo (2013) menyebutnya telah terkena dehidrasi–segera menyusuri bukit ke bukit untuk menemukan sumber mata air.

Apa yang terjadi? Ternyata, atas apa yang dilakukan oleh Hajar ibunda Nabi Ismail, istri Nabi Ibrahim tidak menemukan sumber mata air atau pun air di tempat di mana dirinya berlari. Satu hal yang sangat menakjubkan di dekat putranya, tepatnya di dekat kaki Nabi Ismail, tiba–tiba air memancar ke segala arah. Menurut kisah bahwa sumber mata air itulah yang sampai sekarang dikenal dengan air zam– zam.

Dari kisah ini, saya menemukan sesuatu yang bisa dimaknai sebagai kekuatan fokus yang dilakukan Hajar ibunda Nabi Ismail. Fokus untuk menemukan mata air dan atau pun air dengan melakukan berlari – lari kecil tujuh kali bolak-balik yang sekarang dalam ritual ibadah haji dikenal dengan Sa’i. Meskipun dalam konteks kisah Hajar dan Nabi Ismail tersebut, apa yang saya maknai sebagai “kekuatan fokus”, disebutnya sebagai kekuatan pengorbanan, kasih sayang, komitmen dan konsistensi.

Film yang berjudul The Karate Kid–yang dikenal pula sebagai film The Kung Fu Dream dan disutradarai oleh Harald Zwarta–mungkin sebagian besar di antara pembaca pernah menontonnya. Di mana pemeran utama dari film itu adalah seorang anak kecil yang masa awal kehidupannya memasuki dunia remaja, dia seringkali mendapatkan perlakuan sewenang-wenang, penyiksaan dari anak sebayanya. Suatu waktu dalam keadaan terdesak, disiksa, dipukul dan dikejar oleh anak- anak lainnya, dia melarikan diri ke sebuah rumah. Tiba–tiba seorang guru yang diperankan oleh Jackie Chan, dan penampilannya biasa-biasa saja dan sangat sederhana, menolongnya dan berhasil melumpuhkan semua anak – anak tersebut.

Berawal dari itu, si anak sebagai aktor utama dalam film The Karate Kid tersebut, menawarkan diri untuk menjadi murid, dengan tujuan mempelajari jurus–jurus sakti yang telah dilihatnya pada saat dirinya ditolong oleh guru tersebut. Kenyataan tidak sesuai harapan, pada masa awal memulai latihan, selama berbulan – bulan, si anak itu belum dan bahkan tidak pernah diajarkan tentang jurus sesuai dengan harapannya. Sang guru hanya menginstruksikan sebagai latihannya, gantungkan baju//pakai baju//buka baju//letakkan baju//ambil baju//gantungkan baju//pakai baju.

Hal itulah yang terus diajarkan sampai beberapa bulan, sehingga pada suatu waktu si anak itu bosan dan bertanya, “Kenapa cuma ini diajarkan?” Mendengar hal tersebut malah sang guru itu membentak, “lakukan saja!” Ternyata dibalik instruksi gurunya ini, ada kekuatan untuk fokus yang melahirkan power yang sangat luar biasa pada diri si anak sehingga pada akhir film, si anak itu dalam sebuah pertandingan mampu mengalahkan anak yang sebelumnya selalu menyiksa dirinya. Ini adalah sebuah kekuatan fokus.

Para pembaca pula, mungkin pernah melihat atau mendengar tentang tetesan air yang ketika terus menerus menetes pada batu­­–yang keras sekali pun­­­—dalam jangka waktu yang cukup lama, akan mampu melubangi batu tersebut. Kita ketahui bersama bahwa air atau air yang menetes sifatnya lembut, lemah, lunak atau apapun istilah lainnya. Sedangkan batu, kita semua memahaminya bahwa sifatnya keras. Kenapa batu itu bisa berlubang? Karena tetesan air atau air yang menetes pada batu tersebut terdapat pula hukum universal yang dimaknai dan dinamai fokus.

Dari ketiga dinamika tersebut di atas antara Sa’i, Film The Karate Kid dan tetesan air pada batu telah dapat kita pahami bahwa fokus sebagai salah satu bentuk hukum universal, menjadikan sesuatu yang sulit bisa terjadi.

***

Akhirnya dari refleksi di atas, maka saya mencoba menuliskan tulisan singkat ini dengan mengumpulkan beberapa buku sebagai referensi untuk memberikan sedikit pemahaman tentang apakah itu fokus? Kekuatan dan hukum–hukum apa yang ada di dalamnya? Apakah Islam telah mengajarkan fokus? Dan saya juga akan memberikan contoh pengalaman luar biasa yang pernah ada dan ternyata itu disebabkan karena fokus?

Menurut Brian Klemmer, dalam bukunya Compassionate, Samurai. Fokus adalah kemampuan untuk mengarahkan perhatian, usaha mau pun kegiatan pada tujuan atau sasaran yang ingin dicapai tanpa terganggu. Ciri yang menakjubkan pada fokus adalah kemampuannya untuk mengumpil, ia membutuhkan bakat yang biasa- biasa saja, sedikit waktu, atau peralatan yang minimum namum memberikan hasil yang sangat luar biasa. Fokus juga menjadi faktor yang menentukan apakah seseorang akan meraih kebesaran”.

Ketika memfokuskan kekuatan matahari dengan kaca pembesar, sebenarnya energi yang ada tetap sama baik dengan maupun tanpa kaca pembesar, tetapi energi matahari diarahkan ke kaca pembesar dapat menimbulkan api. Begitu pun sinar laser yang bisa memotong baja setebal 15 cm atau lebih dengan jumlah tenaga yang sama seperti yang memancar dari lampu 75 Watt, perbedaannya adalah pada fokus.

Menurut Erbe Sentanu, Dalam bukunya Quantum Ikhlas, Teknologi Aktivasi Kekuatan Hait, menjelaskan “Dan hukum daya tarik menyatakan bahwa Anda menarik, segala sesuatu yang Anda pikirkan dan rasakan tanpa memedulikan apakah anda menginginkannya atau tidak. Tanpa kecuali, apapun yang yang Anda beri fokus perhatian dengan memikirkannya, Anda langsung mulai menarik hal itu untuk hadir dalam hidup Anda”

Alam vibrasi kuantum tidak meminta konfirmasi Anda tentang yang baik atau buruk. Ia langsung merespons pikiran sesuai sifatnya. Yaitu fokus perhatian Anda. Kalau Anda fokus memikirkan sesuatu yang Anda Sukai, berarti Anda sedang mengatakan: “Ya, datanglah (kirimkanlah)… karena inilah yang saya suka”. Dan ketika Anda fokus memikirkan hal yang tidak Anda Sukai, itu berarti, Anda pun sedang mengatakan “Ya, datanglah (kirimkanlah)… karena inilah yang tidak saya suka”.

Menurut cara berpikir metaforma yang saya miliki, Islam jauh sebelum kekuatan fokus ditemukan secara Ilmiah, Islam telah banyak mengajarkan tentang arti dan manfaat sebuah fokus. Beberapa di antaranya adalah, “keimanan” atau “iman” yang kita pahami dengan pengertian yang sangat sederhana adalah, kesesuaian antara yang “diucapkan secara lisan, dibenarkan oleh hati dan dilakukan oleh tubuh”.

Hal di atas berarti, ketika kita mencoba memahami tentang apa itu fokus. Saya menilai, keimanan juga mengandung ajaran fokus, Selain daripada itu “ketauhidan”, yang telah menjadi ruh terutama dalam jihad sebenarnya menurut konsep berpikir metaforma di dalamnya ada instruksi untuk fokus, cukup kepada satu saja yaitu Tuhan, Allah. Jangan ada Tuhan–Tuhan lain seperti yang dipahami oleh para penganut dinamisme dan animisme. Khusyuk yang menjadi syarat utama dalam shalat sebenarnya itu adalah nama lain dari pada fokus.

Penerapan nilai – nilai Islam sangat membutuhkan fokus atau istilah lainnya. Ketika tidak fokus maka akan menciptakan ketidakstabilan atau melahirkan dekonstruksi dalam kehidupan ini. Salah satunya yang terjadi pada bangsa kita, karena penyembahan atau persaksian kepada Allah tanpa dibarengi dengan fokus akan menyebabkan banyak masalah dalam kehidupan, kenapa banyak koruptor? Karena para koruptor, tidak fokus untuk hanya mempertuhankan Allah semata- mata, tetapi para koruptor juga mempertuhankan tuhan–tuhan materi lainnya: harta, kekayaan dan jabatan.

Jadi fokus sebagai salah satu hukum universal yang telah Allah turunkan di muka bumi ini, yang berlaku baik dalam makrokosmos (alam semensta) maupun mikrokosmos (diri) adalah sebuah power yang semestinya mendapat perhatian serius dalam kehidupan kita, baik ketika bekerja, maupun pada saat berdo’a. Pencapaian sebuah harapan tergantung pula pada apakah kita fokus atau tidak. Dzikir sebagai sesuatu yang berefek dahsyat sebenarnya di dalam perintah itu, Allah menginstruksikan hambaNya untuk selalu menyebut, mengingat dan merasakan kebesarannya sebagaimana tertuang dalam Al-Asmaul Husna.

Fokus dalam dunia pendidikan juga sangat dibutuhkan, sebagai salah satu contoh, saya selaku penulis pernah membaca sebuah artikel bahwa di Jepang ada sebuah sekolah selevel SD, aktivitas siswa selama 6 bulan mulai pagi sampai pulang sekolah, bukan belajar matematika, bahasa Jepang, IPS dan IPA tetapi yang aktivitas rutinnya selama itu hanya disuruh fokus menemukan kelebihan – kelebihannya kemudian disuruh berteriak. Saya bisa//Saya pintar//Saya hebat, kurang lebih itulah yang dilakukan/diteriakkan.

Dalam buku ESQ POWER karya Ary Ginanjar Agustian, diceritakan bahwa ada sebuah perusahaan besar yang memiliki ratusan cabang di beberapa negara bahkan memiliki puluhan ribu karyawan. Setiap pagi karyawannya dikumpulkan di tanah lapang yang sangat luas, kurang lebih 5 s/d 10 menit setiap harinya tanpa pernah alpa sebelum memulai aktivitasnya. Tujuannya adalah hanya disuruh berkumpul untuk fokus meneriakkan visi perusahaannya, dan menurut owner perusahaan, itulah yang menjadi kunci sehingga perusahaannya berkembang pesat sampai memiliki cabang di beberapa negara.

****

Saya selaku penulis sering mengalami miracle, keajaiban yang sebagian pembaca mungkin menilai dan mengatakan itu hanya kebetulan tetapi bagi saya itu adalah hasil dari kekuatan fokus. Di antaranya pernah ada teman Facebooker, yang sebenarnya perempuan itu telah saya kenal (tanpa kenal nama) sejak tahun 2006. Dan bahkan teman Facebooker itu yang berstatus masih gadis telah menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri, di mana mamanya telah tahu tentang hal itu bahkan istriku telah mengetahui pula sehingga bagi kami meskipun saling smsan, komunikasi tidak ada masalah, istripun tidak merasa cemburu.

Pada tulisan ini saya selaku penulis tidak bermaksud untuk menceritakan status saya dengan teman Facebooker tersebut, tetapi ingin bercerita tentang miracle, keajaiban yang pernah kualami dan ini hasil dari sebuah kekuatan fokus dan teman facebooker itulah yang menjadi saksi.

Kisah miracle-nya seperti ini, waktu itu saya janjian dengan teman Facebooker tersebut untuk ketemuan karena memang mau melihat langsung lagi orangnya yang kukenal dekat sejak beberapa bulan (pada saat itu) melalui via Facebook, meskipun pernah tahun 2006 melihatnya satu kali ketika saya sedang numpang shalat di rumahnya dan perempuan itu yang menyodorkan sajadah kepada saya.

Kami janjian bertemu di terminal Malengkeri, dan kebetulan saya yang lebih dahulu tiba di terminal. Sambil berdiam diri mencoba untuk fokus, saya merasakan bisikan bahwa si dia pakai baju warna coklat, untuk datang menemui saya. Dan setelah itu langsung saya sms (pada saat itu belum ada WhatsApp) bahwa “ade pake baju coklat kan?” Dan ternyata langsung membalas sms saya dengan pesan singkat “Kok Tahu”.

Terus berlanjut, dia datang dibonceng sama temannya (yang sekarang sudah menjadi suaminya dan telah dikarunia tiga orang anak), dari belakang ketika motor yang ditumpangi memutar, perasaan atas fokus yang telah saya lakukan mengatakan lagi bahwa pasti itu dia (meskipun saya belum tahu persis bagaimana ciri-cirinya kalau dilihat dari arah belakang, tetapi hati kecil ini yakin sekali bahwa dialah orangnya, sambil kuikuti dari belakang) dan ternyata betul dialah orangnya).

Keajaiban lainnya, adalah ketika istri saya pasca keguguran, selama kurang lebih 3 bulan selalu seperti haid terus, sudah banyak obat yang diminum, baik produk medis (pengobatan modern di dokter) maupun ramuan tradisional. Tidak ada perubahan malah semakin hari semakin keras darahnya. Akhirnya saya mencoba lagi menggunakan kekuatan fokus tersebut, saya melakukan–setiap menjelang mau tidur–membaca Al-Fatihah tiga kali kemudian menyentuh perut istri dengan tangan sambil mengingat kekuatan Allah, serta mengimajinasikan tanpa mau terganggu dengan suara-suara lain dan gangguan lain. Saya melihat (memvisualisasikan) semua penyakit istri keluar dari tubuhnya. Saya mempertahankan visualisasi tersebut selama 10 menit, tetap fokus melihatnya mengalir keluar. Alhamdullillah hukum universal dari fokus memberikan jawaban dan kesembuhan sehingga sampai sekarang sudah sembuh total.

Masih banyak pengalaman-pengalaman pribadi saya dan mungkin pengalaman para pembaca yang tidak sempat saya tuliskan melalui ruang ini. Namun yang pasti ini adalah hukum universal, tentang keajaiban dari apa yang dimaknai dan dinamai  fokus. Jadi jika kita kembali merenungkan sejenak kisah Hajar dan Nabi Ismail yang diabadikan dalam ritual atau rukun haji–Sa’i–betul apa yang dikatakan oleh Eko, “Air zam-zam bukan muncul dari teknologi maju. Air itu tidak diperoleh dari penyulingan perkebunan. Ait itu terbit sebagai jawaban ikhtiar menabjukan seorang ibu”. Dan ikhtiar itu, dalam pandangan saya, di dalamnya mengandung sikap dan perilaku yang dimaknai sebagai “fokus”.

 

* Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng. Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018-2023.