Semangat Menyala, Di Mana Anak Mudanya?

Oleh: Sri Lestari Linawati*

Sabtu pagi menjelang siang, 13 November 2021, saya bersama Mbak Ella mendampingi Pak Jamal Ketua LPCR PPM menerima kunjungan PCA Cimanggis, Kota Depok. Ruangan di lantai 1 telah disiapkan oleh karyawan kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl Cik Ditiro. Kursi diatur berjarak sesuai dengan protokol kesehatan.

Tamu yang hadir berjumlah 24 orang ibu Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Cimanggis. Sebagai pendamping perjalanan, ada Bapak Heri dan Bapak Lubis. Ada lagi seorang lelaki muda yang membantu dokumentasi kegiatan.

Keperluan acara kunjungan disebutkan dengan jelas dalam surat, yaitu silaturahim dalam rangka memohon masukan Program Kerja Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat.

Mas Iqbal membuka acara. Aura sumringah terpancar dari wajah-wajah hadirin.

Bu Titin Upit Kartinah dipersilakan maju menyampaikan pengantar. Beliau menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran, sebagaimana tertulis dalam surat.

“Saya terharu bisa hadir di sini,” kata Bu Titin. Beliau pun menceritakan bahwa awalnya PCA Cimanggis siap berangkat sebagai penggembira Muktamar Muhammadiyah di Surakarta. “Lalu nyai covid-19 datang… Akhirnya daripada hangus, kita berangkat saat ini ke Solo. Tak lupa mampir Yogyakarta,” cerita Bu Titin.

Saya senang, bahagia sekaligus tergedor hati ini. Saya dapat menangkap semangat yang menyala dan membara di hati ibu-ibu PCA Cimanggis. Hati saya mulai terusik ketika Bu Titin menceritakan bahwa beliau menjadi ketua PCA Cimanggis tiga periode, “Saya tahu itu salah, tapi daripada tidak jalan.. Kami kekurangan kader.”

Walau wajah Bu Titin diusahakan tersenyum, ketika beliau mengatakan kegelisahan itu, saya yakin hatinya menangis dan menjerit. “Amal usahanya ada TK, mushalla dan 3 PAUD. Anggota kami, sebagaimana Bapak dan saksikan, sudah tua-tua,” kata Bu Titin. Ibu-ibu yang turut hadir di ruangan ini pun tersenyum dan mengangguk.

Berikutnya, Pak Jamal memberikan sambutannya. Pak Jamal adalah ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beliau mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyambut dan menerima kunjungan PCA Cimanggis.

Pak Jamal memaparkan materi pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Power point materi terbaca jelas di layar background yang disiapkan. Disampaikan pula oleh Pak Jamal bahwa materi akan dikirim pula ke peserta agar bisa dibaca lagi. Peserta tinggal duduk menyimak, mendengarkan seksama.

Pemilihan Cabang Ranting Unggulan dan pelaksanaan Cabang Ranting Expo adalah program LPCR untuk mendorong tumbuh kembangnya Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Seluruh komponen berperan penting dalam memajukan Muhammadiyah. Ada pelajar, mahasiswa, pemuda, pemudi, ibu-ibu dan bapak-bapak.

Berbagai contoh Cabang dan Ranting Unggulan disebutkan oleh Pak Jamal. Apa kegiatannya dan bagaimana mereka mengelola amal usaha hingga kegiatan bisa terus berlangsung dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat sekitarnya.

Sebelum adzan dhuhur, acara berakhir. Rombongan akan melanjutkan perjalanan. Ziarah ke makam KHA Dahlan. Besok lanjut ke Solo, melihat gedung yang direncanakan sebagai tempat Muktamar Muhammadiyah.

Saya mengikuti langkah para ibu menuju bus. Mengantarkan hingga pintu gerbang kantor PPM. Saya tertegun. Seakan nafas berhenti di tenggorokan. Saya sedang berfikir, di mana para anak mudanya?

Sebagai seorang dosen PTMA, ada beberapa hal yang saya renungkan. Mahasiswa PTMA ada ribuan, tetapi mengapa kurang dirasakan kehadirannya oleh Cabang dan Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah?

Catur dharma perguruan tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah seringkali dibahas di berbagai forum kampus. Pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat dan bermuhammadiyah. Analisis kurikulum dilakukan. Tim task force selalu disiapkan. Hibah pun digelontorkan. IT pun disiapkan untuk mendukung suksesnya program.

Saya tahu banyak orang dilibatkan dalam menyukseskan program-program tersebut. Dana pun digali dan dialirkan guna menyukseskan dakwah Muhammadiyah amar makruf nahi mungkar.

Faktanya, geliat dan dinamika Cabang dan Ranting masih memanggil. Memanggil jiwa-jiwa yang masih memiliki nurani dan bersedia menggerakkan kemajuan Cabang dan Ranting.

Pemikiran Holistik

Tak dapat dipungkiri, melihat persoalan Cabang dan Ranting musti dilakukan secara holistik. Utuh dan integral dalam memandang dan melakukan analisis.

Sekadar sharing. Ketika bicara persoalan PAUD, tak cukup kita melihat gedung dan gurunya. Dua puluh tahun saya berkecimpung dalam pengelolaan BirruNA, PAUD Berbasis Alam dan Komunitas.

Saat ini seringkali kita saksikan perempuan bekerja di luar rumah. Ketika masih single, belum menikah, tidak tampak adanya masalah berarti bagi perempuan. Yang penting bisa berangkat menuju tempat kerja, ada kendaraan, di tempat kerja aman, tidak ada pelecehan, beres.

Itu adalah sebuah potret kemajuan jaman. Hasil sebuah pemikiran konsep “perempuan berkemajuan”. Masalah akan mulai terasa ketika perempuan menikah dan memiliki anak. Masa cuti tiga bulan. Masa cuti habis, harus kembali bekerja.

Dulu, si anak bisa diasuh oleh nenek, kakek, atau saudara-saudara. Kini, dengan pola keluarga inti yang notabene jauh tinggalnya dari keluarga besar, menghadapi kendala pengasuhan anak. Inilah tantangan awal bagi terciptanya keluarga sakinah.

Kita semakin menyadari bahwa ternyata keluarga sakinah, mawaddah warahmah bukan semata ucapan selamat yang kita berikan saat kedua mempelai di pelaminan. Itu baru sebuah momentum. Pernikahan itu akhir masa lajang. Pernikahan itu awal dari sebuah perjalanan panjang kehidupan. Inilah yang membutuhkan kesiapan yang matang suami istri.

Bagaimana kesiapan TK dan PAUD yang dikelola ‘Aisyiyah? Inilah Pe-eR yang memerlukan perenungan kita bersama. Ternyata kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri pada layanan TK jam 8-10. PAUD pagi jam 8-10, atau dua jam sore hari, belum menjawab tantangan masyarakat. Bukan mengecilkan arti perjuangan Muhammadiyah ‘Aisyiyah. Sebaliknya, kita sedang mengundang segenap komponen bangsa untuk menyadari bahwa ini persoalan kita bersama.

Bila kita peduli pada perempuan, bagaimana sebenarnya program-program kepedulian yang telah kita kembangkan? Apakah benar kita telah mendukung sepenuhnya perempuan untuk maju, berkembang dan profesional di bidangnya?

Bila iya, artinya kita mendukung perempuan menjadi cerdas dan ahli di bidangnya. Kita masih membutuhkan dokter gigi perempuan, dokter bedah perempuan, dokter syaraf perempuan, dokter telinga perempuan, dokter mata perempuan, fisioterapis perempuan, perawat perempuan, gojek perempuan, sopir perempuan, pemulasara jenazah perempuan, penggerak masyarakat perempuan, ahli IT perempuan.

Dalam pengelolaan PAUD dan TK, apakah ‘Aisyiyah telah benar-benar memberikan keberpihakan pada para perempuan?

Inilah kiranya sedikit renungan yang patut kita kaji terus-menerus dari waktu ke waktu.

Memberikan layanan lebih pagi, memberikan kemudahan bagi perempuan agar bisa optimal bekerja, membantu terwujudnya keluarga sakinah mawaddah warahmah, memfasilitasi terjalinnya komunikasi aktif dan harmonis suami-istri-anak, kegiatan maksimal dalam mendukung optimalisasi kecerdasan anak, dukungan pengembangan karier perempuan bekerja merupakan hal-hal yang sekiranya perlu dilakukan secara intensif berkelanjutan.

Jibaku memang. Dasar Al-Qur’annya jelas. Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh yang makruf, mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104).

Artinya pula, diperlukan kehadiran orang-orang yang bersedia menjadi surrogate mother, ibu pengganti, selama anak ditinggal bekerja oleh ibunya. Pertanyaannya, apakah generasi muda kita, baik perempuan maupun laki-laki telah disiapkan untuk tugas, visi dan misi ini? Kesetaraan gender semacam apakah yang akan kita ajarkan pada generasi muda kita?

IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Hizbul Wathan dan ‘Aisyiyah adalah organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah. Bagaimanakah relasi antar bagian ortom ini? Sejauh mana tiap ortom ini bergerak dan secara sungguh-sungguh melakukan keberpihakan pada upaya memajukan perempuan?

Jangan-jangan kita tidak peduli pada perempuan. Tidak kenal. Tidak suka melihat perempuan lain maju. Marah bila ada perempuan lain sukses dan berprestasi. Dari rahim siapakah akan terlahir profesor-profesor baru perempuan? Sejauh manakah PTMA secara sungguh-sungguh mendukung lahirnya Baroroh Baried-Baroroh Baried baru?

 

* Pegiat literasi, penggagas BirruNA PAUD Berbasis Alam dan Komunitas, Dosen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Pengurus Harian ALAIK PTMA, Anggota LPCR PPM.