Spiritualisme Islam Berkemajuan

                                                               Sumber : Internet

Oleh : Asran Salam

Ciri pertama Islam Berkemajuan adalah spiritualisme. Spiritualisme merupakan pandangan yang mencita-citakan memiliki keterjalinan khusus dengan pencipta (Allah swt). Spiritualisme dalam Islam biasa juga dikenal dengan tasawuf—sufisme. Yakni sebuah praktik keberagaman dalam rangka ingin membangun relasi dengan pencipta secara “intim”.

Dalam membangun relasi yang intim dengan Allah swt, maka diperlukan kesucian hati atau jiwa. Dalam mencapai kesucian hati maka dibutuhkan sebuah ritus—syariat yang konsisten dan tekun. Spiritualisme memandang bahwa ajaran Islam selain memiliki dimensi eksoterik juga terdapat dimensi esoterik. Bahwa ajaran Islam memiliki sisi lahir dan batin.

Spiritualisme atau tasawuf yang berkembang di Muhammadiyah memiliki corak tersendiri. Bentuk tasawuf Muhammadiyah tidak seperti yang berkembang dalam tradisi pada umumnya yakni tergabung dalam lembaga (ordo) yang memiliki ritus tertentu. Sebagaimana pandangan K.H.Ahmad Dahlan yang dikutip dari Ahmad Nur Fuad, bahwa tasawuf yang benar bukanlah tarekat sufi yang menciptakan hierarki dan praktik eksesif (berlebihan). Akan tetapi tasawuf sejati menurutnya, adalah yang mengajarkan kejujuran, kesederhanaan, dan kemampuan menahan diri.

Selain itu, tasawuf Muhammadiyah mengantarkan kepada pemeluknya untuk memiliki kesadaran terhadap tanggung jawab sosial yakni cinta kepada sesama manusia. Sisi lain, orientasi sipritualisme Islam Berkemajuan tetap memperhatikan batas-batas syariat yang dibenarkan dan ditentukan oleh ajaran Islam. Model spiritualisme yang berkembang di Muhammadiyah secara tidak langsung kritik terhadap model sufisme yang mencampur baurkan tradisi Islam dengan tradisi dari luar Islam.

Jika merujuk kepada spiritualisme yang dibangun oleh K.H. Ahmad Dahlan, tidak seperti dengan konsep spiritualisme yang lain, spiritualisme Muhammadiyah juga tidak berbicara tingkatan maqam atau derajat, namun hanya dikenal dengan istilah “manusia budiman”.Untuk sampai kepada manusia budiman tersebut diperlukan akal dan hati yang suci. Atau dalam bentuk artikulasinya yang lebih konkrit adalah memiliki kemampuan untuk melawan hawa nafsu. Konsepsi “manusia budiman” ini, bisa asosiasikan sebagai konsep manusia sempurna.

Manusia budiman sebagai manifestasi dari penjalanan spiritual merupakan pencapaian individu yang telah mengaktualkan fitrah dalam dirinya. Manusia budiman merupakan sosok individu yang telah menekan hawa nafsunya sehingga dalam dirinya terwujud kecenderungan kepada Allah swt. Sebagaimana di awal dijelaskan bahwa sipirtualisme Muhammadiyah tidak dilembagakan. Dengan demikian, terkait dengan praktik amaliah khusus seperti pada tradisi tarekat pada umumnya tidaklah dijumpai. Sebab itu, setiap individu dalam Muhammadiyah “bebas” melakukan praktik amaliah khusus selama sesuai yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Selama praktik amaliah tersebut benar-benar mengantarkan kepada hati yang suci.

Semangat spiritualisme dalam Muhammadiyah terbangun semenjak K.H. Ahmad Dahlan. Kemudian di era selanjutnya hingga memasuki abad kedua Muhammadiyah, nilai-nilai spiritualisme semakin dikukuhkan dengan penerimaan nalar irfan selain bayani dan burhani sebagai perangkat epistemik dalam membaca Islam. Pendekatan irfan merupakan pendekatan yang bertumpu pada pengalaman batin yang sifatnya intuitif. Pendekatan ini merupakan upaya untuk menangkap hakikat dalam syariat. Menurut Syarif Hidayatullah, metode yang digunakan dalam pendekatan irfan meliputi manhaj kasyafi dan manhaj iktishafi. Manhaj kasyafi disebut juga manhaj ma’rifa irfani yang tidak menggunakan indera dan akal, tetapi kasyf dengan riyadah dan mujahadah. Sedangkan manhaj iktishafi disebut juga al-mumathilah (analogi) yaitu metode untuk menyingkap dan menemukan rahasia pengetahuan melalui analogi-analogi.