Ujian Kitab, PUTM Perkuat Kompetensi Calon Ulama Muhammadiyah

KHITTAH.CO, Makassar- Para Kiai Muda Muhammadiyah Sulawesi Selatan harus dipastikan kualitasnya. Inilah salah satu sebab digelarnya Ujian Kitab Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Universitas Muhammadiyah Makassar.

Ujian ini dihelat Jumat, 30 September 2022 di Mini Hall Pesantren Mahasiswa KH Djamaluddin Amien (Pesmadina) Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam ujian kitab ini, 15 peserta merupakan mahasiswa tingkat akhir, semester 8 PUTM Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Direktur PUTM, Abbas Baco Miro mengungkapkan, kefasihan membaca kitab merupakan salah satu syarat lulus dari PUTM. Setiap alumni PUTM harus memiliki kompetensi untuk membaca kitab-kitab yang menjadi sumber utama dalam hukum Islam.

“Hari ini, kita mengukur kemampuan membaca kitab tafsir dan ilmu tafsir, hadist dan ilmu hadist, fikih dan ilmu ushul fikih. Harapannya, setelah ini mereka mampu mengajarkan, baik di pesantren-pesantren, pengajian, atau di mana saja mereka ditugaskan,” ungkap Abbas.

Kemampuan membaca kitab, lanjut Abbas, juga merupakan upaya menguatkan dasar para alumni Tarjih untuk dapat melanjutkan pendidikan mereka ke tingkat magister.

Abbas menyampaikan kesyukurannya setelah menguji secara langsung para calon alumni ini. Pasalnya, kompetensi membaca kitab para kiai muda ini yang tergolong baik.

“Memang ada beberapa kelemahan-kelemahan. Namun, itu soal pembiasaan. Ini karena beberapa saat ketika mereka keluar, berkurang intensitas mereka membaca kitab. Tapi, mereka akan ditugaskan ke pesantren-pesantren, di situ mereka pasti akan terasah lagi kemampuannya,” kata dia.

Ujian hari ini mengetes kemampuan para calon alumni terkait pembacaan kitab ushul fiqih yang diuji langsung oleh Kasjim Salenda.

Sementara itu, untuk hadis dan ilmu hadis diuji oleh Abbas Baco Miro. Terkait tafsir dan ilmu tafsir diuji oleh Muhammad Abduh Djayatun.

Kata Peserta Ujian Kitab

Peserta Ujian Kitab PUTM Unismuh Makassar, Safar

Sementara itu, salah satu peserta ujian, Safar mengungkapkan kesyukurannya atas pencapaiannya pada tahap akhir ini.

Safar merupakan Mahasiswa PUTM yang juga berkuliah di Jurusan Hukum Keluarga Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar.

Saat ditanyai terkait prosesi ujian, Safar mengungkapkan dirinya sangat tertantang. Pasalnya, kitab yang diujikan, merupakan kitab klasik dan tidak pernah diinformasikan sebelumnya.

“Doktor Muhammad Abduh tadi mengetes baca Tafsir Al Qurthubi. Kalau diterjemahkan itu kadang sulit. Ini karena bahasanya yang memang sangat klasik,” ungkap Safar.

Ia melanjutkan, dirinya juga diujikan membaca kitab Fikih Islam wa Adillatuhu oleh Kasjim Salenda dan Abbas Baco Miro mengetes membaca kitab Nailul Authar.

Safar bersyukur karena selama pendidikan, selain memperdalam kompetensi lainnya, dirinya dibiasakan membaca kitab, seperti Tafsir Rawai’ul Bayyan fi Tafsiril Al- Ahkam karya Muhammad Ash-Shabbuni.

Ia membeberkan, mulai subuh hari, para mahasiswa PUTM sudah mengkaji kitab-kitab, seperti Kitab Talkhisul Faraaid karya Syaikh al-Utsaimin, Kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, dan Kitab Ulumul Qur’an karya Manna’ul Qhattan.

Dengan segala proses yang ia lalui selama empat tahun di PUTM,Safar berkomitmen pada dirinya untuk terus mengasah kompetensinya sehingga dapat menjadi ulama Tarjih.

“Awalnya, saya hanya sekadar ingin menimba ilmu. Lalu, saya sadar, umat butuh ulama, dan saya lihat, kita kekurangan itu. Di situlah, saya niatkan diri, semoga bisa menjadi ulama, insya Allah,” ungkap Safar.

Alumni Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Cece ini juga bersyukur karena selama menjadi mahasiswa PUTM, dirinya diizinkan untuk tetap mengabdi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Di IMM, dia diamanahkan sebagai Ketua Bidang Tablig dan Kajian Ke-Islaman. Melalui amanahnya inilah, Safar mengamalkan ilmu yang didapatkan di PUTM dengan mengaktifkan pengajian Tarjih bagi kader-kader IMM yang ada di Makassar.

“Angkatan Muda Muhammadiyah harus belajar agama. Kalau Ke-Tarjihan, minimal mereka tahu kenapa Muhammadiyah memilih A dan melaksanakannya. Itulah mengapa kajian Tarjih itu penting,” tutup dia.